Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penyebab Gagal Ginjal Stadium Akhir pada Anak, Apa Saja?
ilustrasi organ ginjal (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Gagal ginjal stadium akhir pada anak umumnya disebabkan kelainan bawaan ginjal dan saluran kemih, diikuti penyakit glomerulus, gangguan genetik, autoimun, metabolik, serta obstruksi saluran kemih.
  • Banyak kasus berkembang perlahan tanpa gejala jelas karena kemampuan kompensasi ginjal tinggi, sehingga diagnosis sering terlambat hingga fungsi ginjal sudah menurun berat.
  • Deteksi dini melalui pemeriksaan prenatal, pemantauan tekanan darah, urine, dan pertumbuhan anak berisiko dapat memperlambat kerusakan ginjal serta mempertahankan fungsi lebih lama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika mendengar istilah gagal ginjal stadium akhir atau end-stage kidney disease (ESKD), banyak orang langsung membayangkan penyakit yang identik dengan usia lanjut, diabetes, atau hipertensi. Padahal, banyak anak di dunia juga hidup dengan kondisi ini.

Bagi seorang anak, selain masalah pada ginjal, gagal ginjal stadium akhir dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan otak, kesehatan tulang, kemampuan belajar, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Penyebab gagal ginjal pada anak berbeda dibanding orang dewasa. Jika pada orang dewasa diabetes dan hipertensi mendominasi, pada anak penyebab tersering justru berasal dari gangguan bawaan dan penyakit genetik.

Data dari berbagai registri penyakit ginjal anak di Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Asia menunjukkan pola yang konsisten, bahwa sebagian besar kasus ESKD pada anak berawal dari penyakit yang sudah ada sejak lahir atau muncul pada awal kehidupan.

Berikut penyebab utama gagal ginjal stadium akhir pada anak.

1. Kelainan bawaan ginjal dan saluran kemih

Ini adalah penyebab paling umum gagal ginjal stadium akhir pada anak di banyak negara.

Congenital anomalies of the kidney and urinary tract (CAKUT) merupakan kelompok kelainan yang terjadi saat ginjal dan saluran kemih berkembang di dalam kandungan.

Kelainannya dapat berupa:

  • Ginjal yang tidak berkembang sempurna (displasia ginjal).

  • Ginjal berukuran kecil (hipoplasia ginjal).

  • Sumbatan saluran kemih.

  • Refluks urine ke ginjal (refluks vesikoureteral).

  • Kelainan bentuk ureter.

Masalah utamanya bukan hanya bentuk organ yang tidak normal, tetapi kelainan tersebut dapat mengurangi jumlah nefron, yaitu unit penyaring darah di dalam ginjal.

Anak mungkin terlihat sehat selama bertahun-tahun. Namun karena cadangan fungsi ginjal sudah terbatas sejak lahir, kerusakan perlahan dapat terjadi hingga akhirnya berkembang menjadi penyakit ginjal kronis dan gagal ginjal stadium akhir.

Menurut studi registri internasional, CAKUT menyumbang sekitar 40–60 persen kasus penyakit ginjal kronis pada anak dan menjadi penyebab terbesar ESKD pediatrik.

2. Kelainan glomerulus (glomerulopati)

Glomerulus adalah kumpulan pembuluh darah kecil yang berfungsi menyaring limbah dari darah. Jika mengalami kerusakan, kemampuan ginjal untuk menyaring darah akan menurun secara progresif.

Beberapa penyakit glomerulus yang dapat menyebabkan gagal ginjal stadium akhir meliputi:

  • Focal segmental glomerulosclerosis (FSGS)

  • Glomerulonefritis membranoproliferatif (GNMP)

  • Nefropati IgA.

  • Lupus nefritis.

  • Sindrom nefrotik resisten steroid.

Pada kelompok ini, sistem imun sering kali berperan dalam merusak jaringan penyaring ginjal.

Gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Bengkak pada wajah atau kaki.

  • Urine berbusa.

  • Darah dalam urine.

  • Tekanan darah tinggi.

Meski demikian, sebagian anak baru terdiagnosis ketika fungsi ginjal sudah menurun cukup jauh.

3. Penyakit ginjal kistik dan kelainan genetik

ilustrasi masalah pada ginjal anak (IDN Times/NRF)

Sejumlah penyakit genetik dapat menyebabkan pembentukan kista atau kerusakan progresif pada ginjal. Salah satu yang paling dikenal adalah autosomal recessive polycystic kidney disease/penyakit ginjal polikistik autosomal resesif. Pada kondisi ini, ginjal dipenuhi kista kecil yang secara bertahap mengganggu fungsi normal organ.

Selain itu, ada berbagai penyakit genetik lain seperti:

  • Nephronophthisis.

  • Sindrom Bardet-Biedl.

  • Sindrom Joubert.

  • Penyakit ginjal terkait HNF1B.

Nephronophthisis sendiri merupakan salah satu penyebab genetik tersering gagal ginjal stadium akhir pada anak dan remaja.

Yang membuat kelompok penyakit ini menantang adalah gejalanya sering samar. Anak mungkin hanya tampak:

  • Sering haus.

  • Sering buang air kecil.

  • Pertumbuhan terhambat.

  • Mudah lelah.

Padahal, proses kerusakan ginjal sudah berlangsung bertahun-tahun.

4. Sindrom hemolitik uremik (hemolytic uremic syndrome)

Penyakit ini merupakan salah satu penyebab gagal ginjal akut yang paling serius pada anak. Kondisi ini biasanya dipicu oleh infeksi bakteri tertentu yang menghasilkan toksin, terutama Escherichia coli O157:H7. Toksin yang dihasilkan dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal.

Akibatnya, terjadi:

  • Anemia.

  • Penurunan trombosit.

  • Cedera ginjal akut.

Sebagian besar anak pulih, tetapi pada kasus berat dapat terjadi kerusakan ginjal permanen yang berkembang menjadi penyakit ginjal kronis hingga ESKD.

5. Lupus dan penyakit autoimun lain

Beberapa penyakit autoimun dapat menyerang ginjal secara langsung. Yang paling sering adalah systemic lupus erythematosus atau lupus.

Pada lupus, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang jaringan sendiri, termasuk ginjal.

Peradangan kronis pada ginjal dikenal sebagai lupus nefritis. Penelitian menunjukkan bahwa lupus nefritis merupakan salah satu penyebab penting penyakit ginjal kronis dan gagal ginjal pada anak yang mengidap lupus.

6. Penyakit metabolik dan kelainan genetik langka

ilustrasi penyakit ginjal (IDN Times/NRF)

Kelompok ini lebih jarang, tetapi sering menyebabkan kerusakan ginjal berat. Contohnya:

  • Hiperoksaluria primer.

  • Sistinosis.

  • Penyakit Fabry.

  • Methylmalonic acidemia.

Pada penyakit-penyakit tersebut, tubuh menghasilkan atau menumpuk zat tertentu yang merusak jaringan ginjal secara perlahan.

Karena sifatnya yang langka, diagnosis sering terlambat.

7. Cedera ginjal akut yang berkembang menjadi kronis

Dulu cedera ginjal akut dianggap dapat pulih sepenuhnya. Namun, penelitian menunjukkan bahwa sebagian anak yang mengalami acute kidney injury (AKI)/cedera ginjal akut memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit ginjal kronis di kemudian hari.

Penyebab AKI pada anak dapat berupa:

  • Sepsis.

  • Dehidrasi berat.

  • Syok.

  • Obat yang bersifat nefrotoksik.

  • Komplikasi operasi.

Tidak semua kasus cedera ginjal akut akan berkembang menjadi ESKD, tetapi risiko tersebut kini makin diakui dalam dunia nefrologi anak.

8. Penyakit obstruktif saluran kemih

Jika aliran urine tersumbat dalam waktu lama, tekanan dapat merusak jaringan ginjal secara permanen. Penyebabnya antara lain:

  • Katup uretra posterior.

  • Obstruksi persimpangan ureteropelvik.

  • Batu saluran kemih tertentu.

  • Kelainan bawaan saluran kemih.

Kondisi ini sering ditemukan pada anak laki-laki dan dapat mulai menyebabkan kerusakan ginjal sejak bayi.

Mengapa gagal ginjal pada anak sering terlambat diketahui?

ilustrasi konsultasi dokter mengenai kesehatan ginjal (IDN Times/NRF)

Ginjal memiliki kemampuan kompensasi yang luar biasa. Bahkan ketika sebagian fungsi ginjal sudah hilang, anak masih dapat tampak aktif dan sehat.

Gejala sering kali baru muncul saat kerusakan sudah cukup berat, misalnya:

  • Pertumbuhan lambat.

  • Nafsu makan menurun.

  • Mudah lelah.

  • Anemia.

  • Bengkak.

  • Tekanan darah tinggi.

Karena gejalanya tidak spesifik, banyak keluarga tidak menyadari bahwa masalah utamanya berasal dari ginjal.

Apakah gagal ginjal stadium akhir pada anak bisa dicegah?

Tidak semua kasus dapat dicegah, terutama yang disebabkan oleh kelainan genetik atau bawaan. Namun, deteksi dini bisa memperlambat perkembangan penyakit.

Beberapa langkah penting meliputi:

  • Pemeriksaan prenatal saat kehamilan.

  • Pemantauan anak yang memiliki kelainan ginjal bawaan.

  • Kontrol tekanan darah.

  • Penanganan infeksi saluran kemih secara tepat.

  • Pemantauan fungsi ginjal secara berkala pada kelompok berisiko.

Makin dini penyakit ginjal dikenali, makin besar peluang untuk mempertahankan fungsi ginjal lebih lama.

Penyebab gagal ginjal stadium akhir pada anak berbeda dibanding orang dewasa. Penyebab tersering adalah kelainan bawaan ginjal dan saluran kemih, diikuti penyakit glomerulus, penyakit genetik, penyakit autoimun, sindrom hemolitik uremik, serta berbagai gangguan metabolik dan obstruktif.

Banyak kondisi tersebut berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun tanpa gejala yang jelas. Memantau pertumbuhan anak, tekanan darah, hasil pemeriksaan urine, dan riwayat penyakit keluarga dapat menjadi kunci untuk mendeteksi gangguan ginjal sebelum kerusakan mencapai stadium akhir.

Referensi

KDIGO Clinical Practice Guideline for CKD in Children. Diakses Juni 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). "Kidney Disease in Children." Diakses Juni 2026.

Jérôme Harambat et al., “Epidemiology of Chronic Kidney Disease in Children,” Pediatric Nephrology 27, no. 3 (June 29, 2011): 363–73, https://doi.org/10.1007/s00467-011-1939-1.

Elizabeth D. Yu et al., “Practice Patterns and Outcomes of Maintenance Dialysis in Children ≪ 2 Years of Age: A Report of the North American Pediatric Renal Trials and Collaborative Studies (NAPRTCS),” Pediatric Nephrology 37, no. 5 (October 14, 2021): 1117–24, https://doi.org/10.1007/s00467-021-05287-2.

Matthias T.F. Wolf, “Nephronophthisis and Related Syndromes,” Current Opinion in Pediatrics 27, no. 2 (January 30, 2015): 201–11, https://doi.org/10.1097/mop.0000000000000194.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). "Hemolytic Uremic Syndrome." Diakses Juni 2026.

Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Lupus Nephritis Guideline. Diakses Juni 2026.

Stuart L. Goldstein, “Acute Kidney Injury in Children and Its Potential Consequences in Adulthood,” Blood Purification 33, no. 1–3 (January 1, 2012): 131–37, https://doi.org/10.1159/000334143.

National Kidney Foundation. "Pediatric Kidney Disease." Diakses Juni 2026.

Editorial Team

Related Article