Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Penyebab Hepatitis B dan 6 Cara Penularannya
ilustrasi alat tato yang tidak steril dapat menularkan hepatitis B (unsplash.com/benjamin lehman)
  • Secara medis, hepatitis B hanya memiliki satu penyebab, yaitu infeksi virus hepatitis B atau HBV. Yang beragam adalah cara virus tersebut masuk ke tubuh.

  • Penularan paling utama terjadi melalui persalinan, hubungan seksual, serta paparan darah atau alat yang tercemar darah.

  • Vaksinasi, pemeriksaan ibu hamil, penggunaan alat steril, dan pertolongan segera setelah paparan dapat mencegah sebagian besar infeksi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat diberi tahu oleh dokter bahwa hasil tes hepatitis B reaktif, banyak orang langsung berpikir keras di mana atau kapan mereka tertular. Sayangnya, jawabannya tidak selalu ditemukan. Infeksi mungkin baru diketahui saat pemeriksaan kehamilan, donor darah, pemeriksaan kesehatan rutin, atau ketika kondisi hati sudah mengalami masalah.

Sebagian orang bahkan mungkin tertular ketika lahir atau masih kecil, kemudian hidup selama puluhan tahun tanpa gejala. Karena itu, diagnosis hepatitis B tidak selalu menunjukkan adanya paparan yang baru terjadi.

Secara medis, penyebab hepatitis B adalah infeksi virus hepatitis B (HBV). Virus ini menyerang hati dan dapat menyebabkan infeksi akut maupun kronis.

Berikut beberapa jalur penularan hepatitis B yang wajib kamu ketahui.

1. Penularan dari ibu kepada bayi saat persalinan

Di wilayah dengan beban hepatitis B tinggi, sebagian besar infeksi kronis berawal dari penularan saat persalinan atau pada masa kanak-kanak awal. Risikonya lebih besar jika ibu memiliki jumlah virus (viral load) yang tinggi.

Penularan ini sangat penting untuk dicegah karena usia saat terinfeksi memengaruhi kemungkinan penyakit menjadi kronis. Infeksi yang terjadi saat dewasa menjadi kronis pada kurang dari 5 persen kasus. Sebaliknya, infeksi pada bayi dan anak kecil dapat menjadi kronis pada sekitar 95 persen kasus.

Dalam uji klinis terhadap perempuan hamil dengan HBeAg positif dan HBV DNA di atas 200.000 IU/mL, penggunaan tenofovir pada akhir kehamilan, disertai imunisasi bayi, menurunkan penularan ibu ke anak dibanding perawatan standar tanpa antivirus untuk ibu.

Pencegahannya meliputi pemeriksaan HBsAg selama kehamilan, pemberian vaksin hepatitis B kepada bayi secepatnya setelah lahir, yang idealnya dalam 24 jam, dan pemberian antivirus kepada ibu yang viral load-nya tinggi sesuai penilaian dokter.

2. Hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi

Karena HBV dapat berada dalam air mani dan cairan vagina, penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa perlindungan, terutama jika salah satu pasangan belum divaksinasi atau tidak memiliki kekebalan.

Risikonya meningkat jika ada luka atau peradangan pada area genital, hubungan seksual yang menyebabkan perdarahan, atau infeksi menular seksual lain.

Pasangan dari orang dengan HBsAg reaktif perlu menjalani tes hepatitis B. Apabila belum pernah terinfeksi dan belum kebal, vaksinasi dapat diberikan. Kondom digunakan setidaknya sampai tenaga kesehatan memastikan pasangan telah memiliki perlindungan.

3. Berbagi jarum suntik atau peralatan yang tercemar darah

ilustrasi jarum suntik yang dapat menjadi media penularan hepatitis B (pexels.com/Karola G)

HBV dapat menular melalui jarum, alat suntik, atau perlengkapan lain yang telah terkena darah orang yang terinfeksi. Darah dalam jumlah yang sangat kecil dan tidak terlihat pun dapat mengandung virus.

Risiko ini tidak terbatas pada penggunaan narkoba suntik. Berbagi alat untuk menyuntikkan hormon, obat, steroid, atau zat lain juga dapat memindahkan darah dari satu orang ke orang lain.

Jarum dan alat suntik harus selalu steril dan hanya digunakan untuk satu orang. Orang yang pernah berbagi peralatan suntik sebaiknya menjalani pemeriksaan hepatitis B, hepatitis C, dan HIV.

4. Alat medis, tato, tindik, atau perawatan tubuh yang tidak steril

Penularan dapat terjadi ketika instrumen yang menembus kulit digunakan kembali tanpa sterilisasi yang benar. Ini mencakup jarum medis, alat bedah atau kedokteran gigi, alat pemeriksaan gula darah, tato, tindik, serta prosedur perawatan tubuh yang dapat melukai kulit.

Yang menyebabkan hepatitis B bukan tato atau prosedurnya, melainkan darah terkontaminasi yang tertinggal pada peralatan.

Sebelum membuat tato, tindik, akupunktur, atau prosedur kecantikan, pastikan jarum baru dibuka di hadapan kamu dan instrumen yang dapat dipakai ulang telah melalui sterilisasi medis.

Alat pemeriksaan gula darah juga tidak boleh digunakan bergantian tanpa sistem pengendalian infeksi yang sesuai.

5. Tertusuk jarum atau terkena darah saat bekerja

Tenaga kesehatan, petugas laboratorium, petugas kebersihan fasilitas medis, serta pekerja lain yang berhubungan dengan darah dapat terpapar melalui luka tusuk jarum, cipratan ke mata atau mulut, dan kontak darah dengan kulit yang terluka.

Tidak berarti orang yang terpapar akan langsung terinfeksi. Risiko dipengaruhi oleh status infeksi sumber, jenis paparan, dan apakah orang yang terpapar telah memiliki kekebalan dari vaksin.

Setelah tertusuk jarum atau terkena darah, lakukan langkah-langkah ini:

Cuci bagian kulit yang terpapar dengan sabun dan air. Bilas mata atau selaput lendir dengan air.

  • Laporkan paparan dan datangi layanan kesehatan segera.

  • Jangan menunggu munculnya gejala.

  • Bawa catatan vaksinasi dan hasil anti-HBs jika tersedia.

Orang yang belum divaksinasi atau tidak diketahui status vaksinasinya mungkin memerlukan vaksin hepatitis B dan imunoglobulin hepatitis B (HBIG). Keduanya sebaiknya diberikan secepat mungkin, idealnya dalam 24 jam, apabila memang diindikasikan berdasarkan hasil penilaian medis.

6. Kontak darah di dalam rumah tangga

ilustrasi alat cukur yang dapat menyebabkan hepatitis B (pexels.com/Castorly Stock)

Tinggal serumah, makan bersama, atau memakai kamar mandi yang sama tidak menularkan hepatitis B. Risiko muncul ketika darah orang yang terinfeksi masuk melalui luka atau selaput lendir orang lain.

Penularan dapat terjadi akibat berbagi:

  • Alat cukur.

  • Sikat gigi.

  • Pemotong kuku atau alat perawatan yang tercemar darah.

  • Alat pemeriksaan gula darah.

  • Benda tajam lainnya.

Kontak langsung dengan luka terbuka atau darah juga dapat menularkan virus. Penularan melalui barang pribadi lebih jarang dibandingkan persalinan, hubungan seksual, atau penggunaan jarum bersama, tetapi tetap mungkin terjadi.

Anggota keluarga dan pasangan dari orang dengan hepatitis B perlu menjalani pemeriksaan serta menerima vaksin jika masih rentan. Tutup luka, bersihkan tumpahan darah dengan aman, dan jangan berbagi barang yang berpotensi terkena darah.

Bagaimana dengan transfusi darah?

Transfusi darah atau transplantasi organ juga bisa menjadi jalur penularan apabila darah atau organ donor mengandung HBV dan tidak diperiksa secara memadai. Namun, risiko ini telah jauh berkurang di layanan yang menjalankan seleksi donor, pemeriksaan darah, serta prosedur pengendalian infeksi yang baik.

Risiko tetap dapat muncul ketika prosedur dilakukan melalui layanan yang tidak resmi, produk darah tidak disaring, atau standar keamanan tidak diterapkan.

Hal-hal yang tidak menularkan hepatitis B

Hepatitis B biasanya tidak menyebar melalui:

  • Berpelukan atau berjabat tangan.

  • Batuk dan bersin.

  • Makan atau minum bersama.

  • Berbagi alat makan dan gelas.

  • Makanan atau air.

  • Menggunakan toilet yang sama.

  • Interaksi sosial sehari-hari.

Karena itu, orang dengan hepatitis B tidak perlu dijauhi dari keluarga, sekolah, pekerjaan, maupun lingkungan sosial.

Hepatitis B berbeda dari hepatitis A, yang terutama menular melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Mengonsumsi makanan yang disiapkan oleh orang dengan hepatitis B bukan jalur penularan selama tidak terjadi paparan darah.

Merasa pernah terpapar, apa yang perlu dilakukan?

Jangan menunggu kulit menguning atau tubuh terasa sakit. Banyak infeksi hepatitis B tidak menimbulkan gejala, sehingga tes darah menjadi satu-satunya cara untuk mengetahuinya.

Langkah-langkah yang dapat kamu lakukan:

  • Segera datangi fasilitas kesehatan

Pertolongan setelah paparan paling efektif jika dilakukan secepat mungkin. Tenaga kesehatan akan menilai jenis paparan, status HBsAg sumber, riwayat vaksinasi, dan hasil antibodi orang yang terpapar.

  • Jalani pemeriksaan tiga penanda

Pemeriksaan awal dapat menggunakan triple panel yang terdiri dari HBsAg untuk melihat infeksi yang sedang berlangsung; anti-HBs, untuk menilai kekebalan; dan total anti-HBc, untuk mengetahui apakah tubuh pernah berhadapan dengan virus.

Kombinasi ketiganya membantu membedakan infeksi aktif, infeksi lama yang telah pulih, kekebalan akibat vaksinasi, dan kondisi yang masih rentan.

Paparan yang sangat baru mungkin belum terdeteksi pada pemeriksaan pertama. Dokter dapat menentukan apakah tes perlu diulang.

  • Lengkapi vaksinasi

Orang dewasa yang belum terinfeksi dan belum memiliki kekebalan masih bisa mendapatkan vaksin hepatitis B.

Vaksin mencegah infeksi baru, tetapi tidak mengobati hepatitis B yang sudah terjadi. Orang dengan HBsAg reaktif perlu pemeriksaan lanjutan untuk menilai jumlah virus dan kondisi hati.

Hepatitis B disebabkan oleh HBV, bukan oleh makanan tertentu, kelelahan, atau kebiasaan makan bersama. Virus menular terutama melalui persalinan, hubungan seksual, jarum atau alat yang tercemar darah, prosedur yang tidak steril, serta kontak langsung dengan darah.

Mengetahui jalur penularan membantu menentukan tindakan yang tepat tanpa menyalahkan atau mengucilkan orang yang terinfeksi. Vaksinasi, tes darah, pemeriksaan ibu hamil, dan penanganan segera setelah paparan dapat menghentikan banyak infeksi sebelum berkembang menjadi penyakit hati kronis.

Referensi

World Health Organization, “Hepatitis B,” diakses Juli 2026.

Man-Fung Yuen et al., “Hepatitis B,” The Lancet 401, no. 10381 (2023): 1039–1052, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01468-4.

Centers for Disease Control and Prevention, “Hepatitis B Basics,” diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Hepatitis B Prevention and Control,” diakses Juli 2026.

Calvin Q. Pan et al., “Tenofovir to Prevent Hepatitis B Transmission in Mothers with High Viral Load,” New England Journal of Medicine 374, no. 24 (2016): 2324–2334, https://doi.org/10.1056/NEJMoa1508660.

World Health Organization, “Hepatitis: Preventing Mother-to-Child Transmission of the Hepatitis B Virus,” diakses Juli 2026.

World Health Organization, "Guidelines for the Prevention, Diagnosis, Care and Treatment for People with Chronic Hepatitis B Infection," diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Viral Hepatitis: Hepatitis B,” STI Treatment Guidelines, diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Responding to HBV Exposures in Health Care Settings,” diakses Juli 2026.

World Health Organization, "Consolidated Guidance on Hepatitis B and C Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring: An Implementation Handbook for a Public Health Approach," diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Viral Hepatitis: Hepatitis B,” diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Testing for Hepatitis B,” diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Testing and Diagnosis for Hepatitis B,” diakses Juli 2026.

Erin E. Conners et al., “Screening and Testing for Hepatitis B Virus Infection: CDC Recommendations—United States, 2023,” MMWR Recommendations and Reports 72, no. 1 (2023): 1–25, https://doi.org/10.15585/mmwr.rr7201a1.

Centers for Disease Control and Prevention, “Hepatitis B Vaccine,” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article