Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Istilah Gym Seputar Bulking dan Cutting yang Perlu Diketahui

5 Istilah Gym Seputar Bulking dan Cutting yang Perlu Diketahui
ilustrasi bulking (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Bulking memakai calorie surplus untuk mendukung pertumbuhan otot, sedangkan cutting menerapkan calorie deficit secara bertahap agar lemak berkurang sambil massa otot tetap terjaga.
  • Progressive overload meningkatkan tantangan latihan bertahap melalui beban, repetisi, set, frekuensi, atau kualitas gerakan, sehingga otot terus berkembang tanpa mengabaikan teknik dan risiko cedera.
  • Lean bulk mengontrol surplus kalori demi membatasi kenaikan lemak, sementara body recomposition menargetkan peningkatan otot sekaligus pengurangan lemak melalui latihan, protein, tidur, dan pengaturan kalori.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di dunia gym, istilah bulking dan cutting sering muncul ketika seseorang mulai membahas target membentuk tubuh. Bulking adalah fase ketika seseorang meningkatkan asupan kalori untuk mendukung pertumbuhan massa otot, biasanya disertai program latihan beban yang terstruktur. Sementara itu, cutting merupakan fase mengurangi lemak tubuh dengan mengatur asupan kalori sambil tetap berusaha mempertahankan massa otot yang sudah dibangun selama fase bulking.

Saat menjalani kedua fase tersebut, kamu juga akan sering mendengar berbagai istilah lain yang digunakan oleh personal trainer, pelatih kebugaran, maupun sesama anggota gym. Memahami arti istilah-istilah ini akan membantumu mengikuti program latihan dan pola makan dengan lebih tepat. Berikut beberapa istilah yang paling sering muncul saat membahas bulking dan cutting.

  1. 1. Calorie surplus menjadi dasar utama fase bulking

    ilustrasi calorie surplus
    ilustrasi calorie surplus (vecteezy.com/sirejaruttakul130139)

    Salah satu istilah yang paling sering dikaitkan dengan bulking adalah calorie surplus. Istilah ini berarti jumlah kalori yang dikonsumsi lebih banyak daripada kalori yang dibakar tubuh dalam sehari. Kelebihan energi tersebut digunakan tubuh sebagai bahan bakar untuk mendukung proses pembentukan otot selama latihan beban dilakukan secara rutin.

    Namun, calorie surplus bukan berarti bebas makan apa saja dalam jumlah besar. Sumber kalori tetap perlu berasal dari makanan bergizi seperti protein tanpa lemak, karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta sayur dan buah. Jika kelebihan kalori berasal dari makanan tinggi gula dan lemak jenuh secara berlebihan, kenaikan berat badan yang terjadi lebih banyak berasal dari penumpukan lemak daripada pertumbuhan massa otot.

  2. 2. Calorie deficit membantu tubuh mengurangi lemak saat cutting

    ilustrasi defisit kalori
    ilustrasi defisit kalori (vecteezy.com/Prakasit Khuansuwan)

    Berbeda dengan bulking, fase cutting identik dengan istilah calorie deficit. Kondisi ini terjadi ketika jumlah kalori yang masuk lebih sedikit dibandingkan kalori yang digunakan tubuh untuk beraktivitas. Karena kekurangan energi dari makanan, tubuh akan memanfaatkan cadangan energi, termasuk lemak tubuh, sehingga persentase lemak perlahan menurun.

    Meski demikian, calorie deficit sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Pengurangan kalori yang terlalu drastis dapat membuat tubuh kehilangan massa otot, mudah lelah, hingga menurunkan performa saat latihan. Oleh karena itu, banyak pelatih menyarankan defisit kalori dilakukan secara bertahap sambil tetap memenuhi kebutuhan protein harian agar otot lebih terjaga.

  3. 3. Progressive overload membuat otot terus berkembang

    ilustrasi progressive overload
    ilustrasi progressive overload (pexels.com/Bruno Bueno)

    Istilah progressive overload mengacu pada prinsip meningkatkan beban latihan secara bertahap agar otot terus mendapatkan rangsangan untuk berkembang. Peningkatan tersebut tidak selalu berarti menambah berat beban. Kamu juga bisa menambah jumlah reps, sets, frekuensi latihan, atau memperbaiki kualitas gerakan sehingga latihan menjadi lebih menantang dibandingkan sebelumnya.

    Tanpa progressive overload, tubuh akan beradaptasi dengan latihan yang sama sehingga perkembangan otot bisa melambat. Itulah sebabnya personal trainer sering menyarankan menaikkan beban secara bertahap ketika teknik gerakan sudah baik. Proses ini perlu dilakukan sesuai kemampuan agar manfaat latihan tetap maksimal tanpa meningkatkan risiko cedera.

  4. 4. Lean bulk bertujuan menambah otot dengan kenaikan lemak yang lebih minim

    ilustrasi lean bulk
    ilustrasi lean bulk (vecteezy.com/Bigc Studio)

    Tidak semua orang menjalani bulking dengan cara meningkatkan kalori dalam jumlah besar. Ada juga metode yang dikenal sebagai lean bulk, yaitu menaikkan asupan kalori secara lebih terkontrol untuk membantu pertumbuhan otot sambil meminimalkan penambahan lemak tubuh. Pendekatan ini cukup populer karena hasil akhirnya cenderung membuat fase cutting menjadi lebih mudah.

    Pada lean bulk, kualitas makanan biasanya lebih diperhatikan daripada sekadar mengejar jumlah kalori. Protein, karbohidrat kompleks, dan lemak sehat tetap menjadi prioritas, sementara makanan tinggi gula atau makanan ultra-proses tidak dikonsumsi secara berlebihan. Meski kenaikan berat badan berlangsung lebih lambat, komposisi tubuh umumnya berubah dengan lebih baik.

  5. 5. Body recomposition berfokus membangun otot sekaligus mengurangi lemak

    ilustrasi  body recomposition
    ilustrasi body recomposition (pexels.com/Andres Ayrton)

    Selain bulking dan cutting, ada istilah lain yang semakin sering dibahas, yaitu body recomposition. Istilah ini menggambarkan strategi membangun massa otot sambil mengurangi lemak tubuh dalam periode yang sama. Target utamanya bukan sekadar menurunkan atau menaikkan berat badan, melainkan memperbaiki komposisi tubuh sehingga persentase otot meningkat dan lemak berkurang.

    Body recomposition umumnya memerlukan latihan beban yang konsisten, asupan protein yang cukup, tidur berkualitas, serta pengaturan kalori yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Prosesnya biasanya berlangsung lebih lambat dibandingkan bulking atau cutting yang dilakukan secara terpisah. Meski begitu, pendekatan ini cukup banyak dipilih oleh pemula atau orang yang ingin meningkatkan kebugaran tanpa harus mengalami perubahan berat badan yang terlalu drastis.

    Memahami berbagai istilah yang sering digunakan saat bulking dan cutting dapat membantumu menyusun target latihan yang lebih realistis. Selain mengetahui arti setiap istilah, penting juga untuk memahami bahwa keberhasilan membentuk tubuh tidak hanya bergantung pada latihan di gym, tetapi juga dipengaruhi pola makan, waktu istirahat, dan konsistensi menjalankan program dalam jangka panjang. Semoga kamu gak bingung lagi, ya!

    Referensi

    "What’s the Difference Between Bulking and Cutting?" Cleveland Clinic. Diakses pada Juli 2026

    "Complete Gym Glossary: 100+ Terms, Exercises & Definitions for Beginners." Cleaneatz Kitchen. Diakses pada Juli 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More