- 0,1 persen anak usia 0–4 tahun.
- 1,4 persen kelompok usia 15–24 tahun.
- 2,1 persen kelompok usia 25–34 tahun.
- 3,6 persen penduduk usia 35–64 tahun.
1 dari 42 Orang Indonesia Terindikasi Hepatitis B

SKI 2023 menemukan HBsAg reaktif pada 2,4 persen penduduk yang diperiksa, secara statistik setara dengan sekitar 1 dari 42 orang.
HBsAg reaktif menunjukkan adanya infeksi hepatitis B saat pemeriksaan, tetapi belum otomatis membuktikan infeksi kronis.
Indonesia melewati ambang prevalensi 2 persen yang digunakan WHO untuk merekomendasikan agar semua orang dewasa memiliki akses dan ditawari tes HBsAg.
Seseorang bisa saja tetap beraktivitas, makan seperti biasa, dan tidak mengalami gejala mata kuning (jaundice), tetapi hasil pemeriksaan darah menunjukkan HBsAg reaktif (ditemukan antigen permukaan virus Hepatitis B dalam darah).
Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menemukan bahwa 2,4 persen penduduk yang menjalani pemeriksaan biomedis memiliki HBsAg reaktif, yang mana angka tersebut setara dengan sekitar 1 dari setiap 42 orang. Angka itu merupakan estimasi nasional dari sampel tertimbang sebanyak 29.258 orang. Data ini menggambarkan besarnya masalah pada tingkat populasi.
Table of Content
Arti dari HBsAg reaktif
HBsAg adalah singkatan dari hepatitis B surface antigen, yaitu protein pada permukaan virus hepatitis B. Jika HBsAg terdeteksi dalam darah, seseorang kemungkinan sedang mengalami infeksi hepatitis B.
Namun, hasil reaktif pada satu kali pemeriksaan belum dapat menentukan apakah infeksinya akut atau kronis. Infeksi hepatitis B kronis umumnya ditetapkan jika HBsAg tetap terdeteksi selama sedikitnya 6 bulan atau berdasarkan rangkaian pemeriksaan medis lain.
Satu-satunya cara untuk mengetahui status hepatitis B adalah lewat tes darah di fasilitas kesehatan.
Terinfeksi hepatitis B, mengapa banyak orang merasa sehat?
Hepatitis B tidak selalu disertai demam, nyeri perut, urine gelap, atau kulit menguning. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagian besar orang tidak mengalami gejala ketika baru terinfeksi. Pada infeksi kronis, virus juga dapat bertahan lama tanpa menimbulkan keluhan yang jelas.
Tidak adanya gejala bukan berarti organ hati aman. Peradangan dan pembentukan jaringan parut dapat berlangsung perlahan, sementara orang yang terinfeksi tetap merasa sehat.
Sebuah penelitian terhadap lebih dari 1.200 orang dengan hepatitis B tanpa gejala di Senegal menemukan bahwa sekitar 12 persen sudah memiliki fibrosis hati signifikan dan sekitar 3 persen mengalami sirosis. Sekitar sepertiga juga memiliki kadar virus di atas 2.000 IU/mL. Temuan ini menunjukkan bahwa infeksi tanpa gejala tetap dapat disertai kerusakan hati.
Beban terbesar terlihat pada orang dewasa

Data SKI memperlihatkan perbedaan yang cukup tajam menurut usia. HBsAg reaktif ditemukan pada:
Rendahnya angka pada anak kecil konsisten dengan kemungkinan manfaat vaksinasi hepatitis B dan pencegahan penularan sejak lahir. Namun, karena SKI merupakan survei potong lintang, data tersebut tidak dapat membuktikan bahwa vaksinasi menjadi satu-satunya penyebab perbedaan antarkelompok usia.
Tingginya angka pada usia 35–64 tahun juga tidak berarti infeksi baru terjadi ketika dewasa. Sebagian orang mungkin telah tertular ketika lahir atau pada masa kanak-kanak, kemudian hidup selama puluhan tahun tanpa mengetahui statusnya.
Usia saat tertular memang sangat berpengaruh. Infeksi yang didapat ketika dewasa menjadi kronis pada kurang dari 5 persen kasus, sedangkan infeksi pada bayi dan anak usia dini dapat menjadi kronis pada sekitar 95 persen kasus.
Ada kesenjangan
SKI mencatat HBsAg reaktif pada 3,1 persen penduduk perdesaan, lebih tinggi daripada 1,9 persen di perkotaan.
Pada kelompok ekonomi terbawah, angkanya mencapai 3,7 persen, dibandingkan dengan 1,8 persen pada kelompok ekonomi teratas.
Perbedaannya mungkin berkaitan dengan banyak hal, termasuk akses terhadap vaksinasi, skrining ibu hamil, persalinan yang aman, informasi kesehatan, pemeriksaan laboratorium, dan layanan pengobatan.
Yang menjadi perhatian di sini adalah pencegahan dan skrining tidak seharusnya hanya tersedia bagi orang yang tinggal dekat rumah sakit besar atau mampu membayar pemeriksaan sendiri.
Apakah semua orang dewasa perlu tes hepatitis B?
WHO merekomendasikan agar seluruh orang dewasa memiliki akses dan ditawari tes HBsAg di wilayah dengan prevalensi HBsAg lebih dari 2 persen. Dengan temuan nasional sebesar 2,4 persen dalam SKI 2023, Indonesia berada di atas ambang tersebut.
Tes makin penting bagi orang yang:
- Sedang hamil.
- Tinggal serumah atau memiliki pasangan dengan hepatitis B.
- Memiliki penyakit hati atau hasil enzim hati yang tidak normal.
- Hidup dengan HIV atau hepatitis C.
- Menjalani dialisis atau akan menerima obat penekan sistem imun.
- Pernah berbagi jarum atau mengalami paparan darah.
- Tidak mengetahui status hepatitis B maupun riwayat vaksinasinya.
Di negara dengan beban hepatitis B yang cukup tinggi, infeksi sering diperoleh saat lahir atau pada masa kanak-kanak. Jadi, jangan malu untuk mendapatkan tes hepatitis B.
Hasil tes HBsAg reaktif, apa yang harus dilakukan?

Datangi dokter atau fasilitas kesehatan untuk memastikan hasil dan menilai kondisi hati.
Pemeriksaan lanjutan dapat mencakup HBsAg ulang atau tes konfirmasi, HBV DNA untuk mengukur jumlah virus, HBeAg, anti-HBc, anti-HBs, serta pemeriksaan ALT dan AST.
Dokter mungkin melakukan USG atau elastografi untuk menilai fibrosis hati dan pemeriksaan hepatitis D pada orang dengan HBsAg positif.
Tidak semua orang dengan hepatitis B kronis harus langsung minum obat. Keputusan pengobatan mempertimbangkan jumlah virus, peradangan, tingkat fibrosis, usia, kondisi penyerta, serta riwayat kanker hati dalam keluarga.
Jika pengobatan dibutuhkan, antivirus seperti tenofovir atau entecavir dapat menekan virus, memperlambat perkembangan sirosis, mengurangi risiko kanker hati, dan meningkatkan harapan hidup.
Lindungi keluarga tanpa menjauhi pengidapnya
Pasangan dan anggota keluarga serumah dari orang yang terkonfirmasi hepatitis B sebaiknya menjalani tes. Mereka yang belum terinfeksi dan belum memiliki kekebalan dapat menerima vaksin hepatitis B.
Hindari berbagi sikat gigi, alat cukur, jarum, atau benda lain yang mungkin terkena darah. Luka terbuka perlu ditutup, dan prosedur tato atau tindik harus menggunakan peralatan steril. Gunakan kondom setidaknya sampai pasangan dipastikan telah memiliki perlindungan.
Jangan jadikan hepatitis B sebagai alasan untuk mengucilkan seseorang. Virus hepatitis B menular terutama melalui darah dan cairan tubuh tertentu, bukan karena tinggal serumah, mengobrol, atau berada di ruangan yang sama.
Hepatitis B masih menjadi persoalan kesehatan penting di Indonesia. Masalah terbesar hepatitis B adalah kemampuannya bertahan tanpa gejala. Menunggu gejala muncul untuk mendapatkan tes bisa membuat infeksi baru ditemukan setelah hati mengalami kerusakan.
Dengan tes darah, kamu bisa memastikan diagnosis, memantau kesehatan hati, memulai pengobatan jika diperlukan, serta melindungi pasangan dan keluarga melalui pemeriksaan dan vaksinasi.
Referensi
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, "Survei Kesehatan Indonesia 2023 dalam Angka" (Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023), 185–91, khususnya 189 (PDF). Diakses Juli 2026.
World Health Organization, “Hepatitis B,” diakses Juli 2026.
World Health Organization, "Guidelines on Hepatitis B and C Testing," diakses Juli 2026.
Adrià Ramírez Mena et al., “Liver Disease and Treatment Needs of Asymptomatic Persons Living with Hepatitis B in Senegal,” Open Forum Infectious Diseases 9, no. 11 (2022): ofac558, https://doi.org/10.1093/ofid/ofac558.
World Health Organization, "Guidelines for the Prevention, Diagnosis, Care and Treatment for People with Chronic Hepatitis B Infection," diakses Juli 2026.










![[QUIZ] Kapan Kamu Perlu Mulai Diet? Temukan Jawabannya dengan Tes Ini](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)









