Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi: Kesulitan Finansial Mempercepat Penuaan Otak

Studi: Kesulitan Finansial Mempercepat Penuaan Otak
ilustrasi masalah keuangan (pexels.com/Patricia Bozan)
Intinya Sih
  • Studi terhadap 2.759 warga Inggris menemukan pendapatan rendah atau kesulitan finansial berulang sepanjang dewasa terkait skor memori verbal dan kecepatan pemrosesan lebih rendah sejak usia 53 tahun.

  • Pada sebagian peserta yang menjalani MRI usia 69–71 tahun, riwayat pendapatan rendah lebih sering berkaitan dengan ventrikel otak 4,67 mililiter lebih besar, yang dapat menyertai atrofi (penyusutan) otak.

  • Penelitian tidak membuktikan kesulitan uang menyebabkan demensia; beban finansial diduga menyita kapasitas mental, sementara stres berkepanjangan juga dapat terkait dengan berbagai faktor kesehatan dan akses layanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyak tagihan atau utang membuat pikiran terus bekerja, seperti menentukan kebutuhan mana yang harus didahulukan, menghitung sisa uang, menunda pembayaran, hingga mengantisipasi pengeluaran berikutnya.

Dalam jangka pendek, tekanan tersebut bisa membuat seseorang sulit berkonsentrasi. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kesulitan finansial yang bertahan selama puluhan tahun juga berkaitan dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah sejak usia paruh baya dan sejumlah tanda kesehatan otak yang lebih buruk ketika memasuki usia lanjut.

Masalah keuangan dinilai selama puluhan tahun

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Innovation in Aging ini menganalisis data 2.759 orang yang lahir di Inggris pada tahun 1946 dan terus diikuti dalam MRC National Survey of Health and Development.

Pendapatan rumah tangga dinilai ketika peserta berusia 26, 43, dan 53 tahun. Seseorang dikategorikan mengalami pendapatan rendah persisten apabila berada dalam kelompok pendapatan 20 persen terbawah setidaknya pada dua waktu pemeriksaan.

Para peneliti juga mengukur kesulitan finansial yang dirasakan pada usia 36, 43, dan 53 tahun. Pertanyaannya antara lain mengenai kesulitan bertahan dengan pendapatan yang tersedia dan masalah membayar tagihan. Sekitar 16 persen peserta mengalami pendapatan rendah persisten, sedangkan sekitar 12 persen melaporkan kesulitan finansial persisten.

Kemampuan kognitif partisipan kemudian dinilai pada usia 53, 63, dan 69 tahun. Tes yang digunakan mengukur memori verbal, yakni kemampuan mempelajari dan mengingat kata, serta kecepatan pemrosesan informasi.

Dampaknya sudah terlihat pada usia 53 tahun

Makin sering seseorang mengalami pendapatan rendah atau kesulitan finansial, makin rendah rata-rata hasil tes memori verbal dan kecepatan pemrosesan mereka pada usia 53 tahun.

Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil, termasuk kemampuan kognitif saat kanak-kanak, pendidikan, kondisi sosial ekonomi masa kecil, serta gejala kecemasan dan depresi pada masa kanak-kanak.

Menariknya, kelompok yang mengalami kesulitan keuangan persisten menunjukkan penurunan memori yang lebih lambat dari usia 53–69 tahun. Penjelasannya, kemungkinan kemampuan mereka sudah rendah sejak awal pengamatan, sehingga selisih penurunan berikutnya terlihat lebih kecil.

Apa maksud dari otak cukup menua?

Ilustrasi seseorang tampak stres dan tertekan akibat masalah keuangan yang sedang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
ilustrasi stres akibat masalah keuangan (pexels.com/www.kaboompics.com)

Pada sebagian peserta, tim peneliti juga melakukan pemindaian MRI ketika mereka berusia sekitar 69–71 tahun. Kelompok yang lebih sering mengalami pendapatan rendah memiliki volume ventrikel otak rata-rata 4,67 mililiter lebih besar.

Ventrikel adalah rongga berisi cairan di dalam otak. Pembesarannya dapat menyertai hilangnya jaringan atau atrofi otak. Beberapa hubungan dengan penyusutan otak juga terlihat lebih kuat pada laki-laki, orang yang mengalami kondisi sosial ekonomi kurang menguntungkan sejak kecil, dan pembawa varian gen APOE-ε4 yang meningkatkan kerentanan terhadap penyakit Alzheimer.

Meski demikian, penelitian ini tidak menghitung usia otak setiap peserta, tidak membuktikan bahwa seluruh peserta mengalami percepatan penuaan otak, dan tidak menilai apakah mereka kemudian didiagnosis demensia.

Pemindaian otak hanya dilakukan pada sekitar 356–468 peserta, bergantung pada jenis analisisnya, sehingga hasilnya perlu dikonfirmasi dalam populasi yang lebih besar dan beragam.

Mengapa masalah uang bisa membebani kemampuan berpikir?

Salah satu penjelasannya adalah beban kognitif. Ketika seseorang terus kepikiran soal kekurangan uang, akibatnya lebih sedikit kapasitas mental yang tersedia untuk perhatian, perencanaan, pengambilan keputusan, dan tugas lain.

Penelitian eksperimental dalam jurnal Science sebelumnya menemukan bahwa memikirkan masalah finansial dapat menurunkan performa kognitif sementara pada orang yang keuangannya sedang sulit. Para peneliti menyimpulkan, kemiskinan tidak semata-mata muncul akibat keputusan yang buruk; kondisi kekurangan itu sendiri dapat membebani kapasitas mental untuk mengambil keputusan.

Stres berkepanjangan juga bisa berhubungan dengan kesehatan mental, pola tidur, kebiasaan merokok atau minum alkohol, akses terhadap makanan sehat dan layanan kesehatan, serta penyakit kardiovaskular. Akan tetapi, penelitian baru tersebut tidak secara langsung menguji mekanisme mana yang menjembatani kesulitan finansial dan perubahan otak.

Bukan berarti orang yang kesulitan uang kurang pintar

Skor kognitif yang lebih rendah tidak menunjukkan kurangnya kecerdasan, kemauan, atau kemampuan bekerja.

Penelitian ini mengingatkan bahwa kekurangan uang dapat menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Tekanan finansial menyita perhatian, sementara perhatian dan energi mental justru diperlukan untuk mengurus pekerjaan, tagihan, layanan bantuan, serta keputusan keuangan yang rumit.

Karena itu, dukungan pendapatan, pekerjaan yang layak, akses layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan bantuan sebelum utang atau kemiskinan menjadi kronis merupakan bagian dari upaya melindungi kesehatan otak pada tingkat populasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan bahwa kemiskinan, keterbatasan pendidikan, serta ketimpangan akses terhadap pekerjaan dan layanan kesehatan dapat memengaruhi risiko demensia.

Kesulitan finansial yang bertahan selama masa dewasa berkaitan dengan memori dan kecepatan berpikir yang lebih rendah pada usia paruh baya serta beberapa tanda atrofi otak (penyusutan ukuran dan massa otak akibat hilangnya sel saraf dan jaringan) pada usia lanjut. Akan tetapi, penelitian ini tidak membuktikan masalah keuangan menyebabkan demensia secara langsung.

Penelitian ini menekankan bahwa kesehatan otak dibentuk oleh kondisi kehidupan selama puluhan tahun. Melindunginya tak hanya perlu kebiasaan sehat dan akses layanan medis, tetapi juga lingkungan sosial dan ekonomi yang tidak membiarkan kesulitan sementara berubah menjadi masalah keuangan yang berkepanjangan.

Referensi

Yiwen Liu et al., “Persistent Financial Adversity and Cognitive Aging: A Life Course Investigation,” Innovation in Aging 10, no. 8 (2026): igag054, https://doi.org/10.1093/geroni/igag054.

University College London, “Persistent Money Struggles Linked to Faster Brain Ageing,” diakses Juli 2026.

Anandi Mani, Sendhil Mullainathan, Eldar Shafir, and Jiaying Zhao, “Poverty Impedes Cognitive Function,” Science 341, no. 6149 (2013): 976–980, https://doi.org/10.1126/science.1238041.

World Health Organization, “Dementia,” diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More