“Loss of Appetite: Causes & Treatment.” Cleveland Clinic. Diakses Januari 2026.
“Appetite – Decreased” MedlinePlus. Diakses Januari 2026.
“Know About Loss of Appetite and 10 Key Causes Explained.” Apollo247. Diakses Januari 2026.
“An Overview of Cachexia.” Verywell Health. Diakses Januari 2026.
“Inflammatory Bowel Disease (IBD) and Loss of Appetite.” Verywell Health. Diakses Januari 2026.
Nafsu Makan Mendadak Hilang? Ini 12 Kemungkinan Penyebabnya

- Nafsu makan yang hilang tiba-tiba bisa bersifat jangka pendek atau tanda kondisi yang lebih serius.
- Penyebabnya sangat beragam, mulai dari infeksi, kondisi medis kronis, hingga faktor psikologis.
- Mengidentifikasi penyebab penting agar perawatan yang tepat bisa diberikan.
Makan adalah kebutuhan dasar tubuh. Nafsu makan adalah bagian dari sinyal kompleks yang berasal dari otak, hormon, dan sistem pencernaan. Ketika sinyal ini terganggu, keinginan untuk makan bisa berkurang atau bahkan menghilang sama sekali.
Kehilangan nafsu makan secara tiba-tiba bisa bersifat sementara atau jangka panjang. Dalam banyak kasus, itu adalah respons tubuh terhadap sesuatu yang sedang terjadi, baik secara fisik seperti infeksi, maupun secara emosional seperti stres.
Namun, ketika penurunan nafsu makan berlangsung tanpa sebab yang jelas atau disertai gejala lain (misalnya penurunan berat badan, kelelahan, atau mual berkepanjangan), ini bisa menandakan ada sesuatu yang serius di baliknya.
Table of Content
1. Infeksi akut atau penyakit ringan
Infeksi virus atau bakteri—seperti flu, gastroenteritis, atau infeksi saluran pernapasan—sering kali menjadi penyebab nafsu makan turun. Saat tubuh sedang berjuang melawan invasi mikroorganisme, prioritas energi dialihkan ke sistem imun, bukan ke proses pencernaan.
Infeksi sering disertai demam, nyeri otot, atau rasa tidak enak badan, yang semuanya dapat meredam sinyal lapar yang biasanya muncul.
Karena bersifat akut, nafsu makan biasanya akan kembali normal setelah tubuh berhasil pulih dari penyakitnya. Namun selama periode sakit, kamu mungkin makan sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali.
2. Kondisi medis kronis

Berbagai kondisi medis jangka panjang seperti penyakit hati, penyakit ginjal kronis, diabetes, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga gagal jantung dapat memengaruhi selera makan.
Penyakit-penyakit ini sering disertai metabolisme yang terganggu, peradangan kronis, atau akumulasi racun dalam tubuh, yang semuanya menekan sinyal lapar dari otak.
Selain itu, rasa tidak nyaman yang terus-menerus seperti nyeri, sesak napas, atau mual berkepanjangan dapat membuat makanan terasa kurang menarik atau bahkan menimbulkan rasa jijik terhadap makanan.
3. Gangguan pencernaan atau saluran cerna
Masalah seperti GERD, sindrom iritasi usus besar (IBS), keracunan makanan, atau gangguan lain di sistem cerna sering membuat makan menjadi tidak menyenangkan atau bahkan menimbulkan rasa sakit.
Rasa mual, kembung, atau nyeri perut setelah makan sering kali membuat orang menghindari makanan sama sekali.
Kondisi seperti penyakit radang usus (IBD) bahkan dapat menyebabkan seseorang secara konsisten merasa tidak lapar karena hubungan kuat antara gejala penyakit dan aktivitas makan.
4. Efek samping obat

Banyak obat yang diketahui mengurangi nafsu makan sebagai efek samping. Misalnya, beberapa antibiotik, opioid, obat kemoterapi, dan obat antidepresan dapat langsung memengaruhi pusat lapar di otak.
Efek samping ini sering disertai mual atau perubahan rasa makanan, yang membuat aktivitas makan menjadi tidak menyenangkan.
Karena itu, jika kehilangan nafsu makan terjadi setelah memulai jenis obat baru, penting berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan apakah obat tersebut berperan dan apakah ada alternatif dosis atau jenis yang lebih sesuai.
5. Depresi dan gangguan suasana hati
Emosi memainkan peran besar dalam regulasi nafsu makan. Kondisi seperti depresi, kecemasan, atau episode stres berat bisa mengurangi sinyal lapar dari otak.
Pada depresi, area-area otak yang memproses motivasi dan kesenangan sering kurang aktif, sehingga makan, yang seharusnya memuaskan, terasa kurang menarik.
Bahkan tanpa gangguan klinis, stres akut atau kronis dapat memicu respons fight-or-flight yang menekan fungsi pencernaan dan mengurangi keinginan makan sementara.
6. Kondisi hormonal dan metabolik

Gangguan hormon seperti hipotiroidisme atau ketidakseimbangan hormon lain dapat memengaruhi metabolisme tubuh secara umum, termasuk rasa lapar.
Diabetes, terutama jika tidak terkontrol, dapat mengubah cara tubuh memproses energi dan memberi sinyal lapar yang tidak konsisten.
Penyakit Addison atau gangguan hormonal lain juga dapat menekan nafsu makan sebagai bagian dari gejala yang lebih luas.
7. Dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit
Tubuh yang kekurangan cairan sering mengirimkan sinyal yang mirip dengan penurunan nafsu makan.
Dehidrasi dapat menyebabkan rasa mual, lemas, dan tidak ada ketertarikan pada makanan, karena tubuh berfokus mempertahankan cairan esensial.
Menjaga asupan cairan yang baik sering kali membantu memulihkan selera makan secara alami
8. Kehamilan

Pada trimester pertama kehamilan, perubahan hormon sering membuat perempuan merasa mual atau kehilangan selera makan, terutama terhadap makanan tertentu.
Morning sickness yang khas pada masa awal kehamilan adalah respons tubuh terhadap perubahan fisiologis yang cepat, termasuk fluktuasi hormon yang menekan rasa lapar.
Gejala ini biasanya bersifat sementara, tetapi bisa signifikan hingga memengaruhi asupan nutrisi jika berlangsung lebih lama.
9. Stres fisik akut atau kronis
Rasa stres tidak hanya berdampak psikologis. Respons tubuh terhadap stres dapat memengaruhi produksi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.
Stres kronis memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol, yang dalam beberapa kasus justru menekan keinginan makan, terutama pada fase awal respons stres.
Stres fisik seperti sakit berkepanjangan, operasi, atau cedera juga dapat mengganggu ritme tubuh secara luas, termasuk dalam hal makan.
10. Penurunan berat badan yang tidak disengaja

Ketika seseorang kehilangan berat tanpa sengaja, nafsu makan sering ikut menurun sebagai bagian dari perubahan metabolik yang mendasarinya.
Ini bisa menjadi indikator penyakit yang lebih dalam seperti gangguan makan, penyakit kronis, atau gangguan hormon.
Karena dapat menunjukkan kondisi medis serius, penurunan berat badan tak disengaja dengan nafsu makan hilang patut diwaspadai.
11. Kanker dan sindrom cachexia
Beberapa jenis kanker, terutama yang memengaruhi sistem pencernaan atau metabolisme, dapat secara drastis menurunkan nafsu makan.
Selain itu, kondisi serius seperti cachexia pada kanker stadium lanjut membuat tubuh kehilangan selera makan meskipun kebutuhan nutrisi meningkat.
Cachexia adalah sindrom multifaktor serius yang melibatkan peningkatan metabolisme dan peradangan, bukan sekadar hilangnya rasa lapar biasa.
12. Faktor usia, perubahan indra, atau persepsi rasa

Seiring bertambahnya usia, perubahan pada indra perasa dan penciuman dapat membuat makanan terasa kurang menarik, sehingga nafsu makan menurun.
Selain itu, gangguan gigi atau mulut dapat membuat makan menjadi tidak nyaman, sehingga orang memilih untuk menghindari makan.
Hal-hal kecil seperti ini sering diabaikan, tetapi dapat secara nyata menekan keinginan makan seseorang.
Nafsu makan mendadak hilang bisa menjadi reaksi sementara terhadap sesuatu yang ringan seperti infeksi atau stres, tetapi juga bisa menandakan kondisi medis yang lebih serius. Jika kehilangan nafsu makan berlangsung lebih dari beberapa minggu, disertai gejala lain seperti penurunan berat badan tajam, kelelahan, atau nyeri yang tidak biasa, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter untuk evaluasi dan perawatan yang tepat.
Referensi



















