Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Melon Bisa Menyebabkan Keracunan Makanan?

Kenapa Melon Bisa Menyebabkan Keracunan Makanan?
ilustrasi memotong melon (pexels.com/Any Lane)
  • Bakteri pada kulit melon dapat berpindah ke daging buah ketika dipotong.

  • Melon yang sudah dipotong dan dibiarkan pada suhu ruang memberi kesempatan bakteri untuk berkembang.

  • Mencuci kulit, menggunakan alat bersih, dan segera mendinginkan melon potong membantu mengurangi risiko keracunan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sepotong melon terasa menyegarkan sebagai penutup makan atau camilan. Karena kulitnya dibuang, buah ini mungkin langsung dipotong tanpa dicuci. Padahal, justru dari permukaan kulit itulah bakteri dapat berpindah ke bagian yang kita makan.

Melon dapat menyebabkan keracunan makanan jika terkontaminasi kuman penyakit. Risikonya dipengaruhi oleh kebersihan sejak buah ditanam sampai disajikan, serta cara menyimpannya setelah dipotong.

  1. 1. Kulit melon bisa membawa bakteri

    Kontaminasi dapat berasal dari tanah, air tercemar, atau kotoran hewan saat melon ditanam. Bakteri juga bisa mencemari buah selama pengangkutan, penjualan, atau penyiapan di rumah.

    Pada melon jenis cantaloupe, permukaan kulit yang bertekstur seperti jaring memiliki celah yang dapat memerangkap bakteri sehingga lebih sulit dibersihkan. Namun, melon berkulit halus juga tetap bisa terkontaminasi.

    Melon yang tercemar, khususnya cantaloupe, telah dikaitkan dengan wabah penyakit akibat makanan, termasuk infeksi Salmonella.

  2. 2. Pisau dapat membawa bakteri ke daging buah

    Kulit memang tidak dimakan, tetapi pisau melewatinya sebelum menyentuh daging buah. Jika permukaan kulit tercemar, proses memotong bisa memindahkan bakteri ke bagian dalam. Tangan dan talenan yang kotor juga dapat menjadi sumber kontaminasi.

    Karena itu, kamu dianjurkan mencuci buah sebelum dikupas atau dipotong, termasuk melon. Mencuci setelah buah dipotong tidak menggantikan langkah membersihkan kulit sebelumnya.

  3. 3. Setelah dipotong, penyimpanan menjadi penentu

    Ilustrasi buah melon utuh dan potongan melon dengan kulit bertekstur serta daging buah berwarna cerah.
    ilustrasi buah melon (pixabay.com/pasja1000)

    Penelitian dalam jurnal Food Microbiology menguji potongan cantaloupe, honeydew, dan semangka yang sengaja diberi bakteri Salmonella. Potongan yang dibiarkan pada suhu ruang sekitar 22 derajat Celcius hingga 5 jam sebelum didinginkan memiliki jumlah bakteri lebih tinggi dibandingkan potongan yang langsung disimpan pada suhu 5 derajat Celcius.

    Ini merupakan percobaan laboratorium, bukan bukti bahwa semua melon mengandung Salmonella. Temuannya menunjukkan bahwa menunda pendinginan dapat memperbesar masalah ketika kontaminasi sudah terjadi. Pendinginan pun tidak otomatis menghilangkan bakteri yang telanjur ada.

  4. 4. Cara menyiapkan melon dengan lebih aman

    Sebelum memotong, cuci tangan dan bersihkan pisau serta talenan. Gosok seluruh kulit melon di bawah air mengalir menggunakan sikat khusus buah yang bersih. Tidak perlu memakai sabun, detergen, atau pemutih untuk mencuci buah.

    Setelah dipotong, segera simpan melon di kulkas. Jika membeli melon potong, pilih yang disimpan dalam pendingin. Buang melon potong yang berada pada suhu ruang lebih dari 2 jam, atau lebih cepat jika tempatnya panas.

    Melon tetap bisa dinikmati dengan aman melalui penanganan yang tepat. Kebersihan kulit sebelum dipotong sama pentingnya dengan menjaga potongannya tetap dingin sampai dimakan.

    Referensi

    Health Canada, “Food Safety Tips for Melons,” diakses September 2026.

    U.S. Food and Drug Administration, “Fruits, Veggies and Juices (Food Safety for Moms-to-Be),” diakses September 2026.

    Dike O. Ukuku and Gerald M. Sapers, “Effect of Time before Storage and Storage Temperature on Survival of Salmonella Inoculated on Fresh-Cut Melons,” Food Microbiology 24, no. 3 (2007): 288–95, doi:10.1016/j.fm.2006.04.007.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More