Dengan memberdayakan apoteker, perjalanan neuropati perifer dapat diubah. Saat ini, sering kali intervensi dimulai terlambat. Pedoman yang dirancang khusus bagi apoteker diharapkan mampu mengidentifikasi, menilai, dan menangani pasien neuropati perifer dalam praktik sehari-hari.
Pedoman ini menawarkan peran yang lebih jelas bagi apoteker, jalur yang lebih jelas bagi pasien, titik komunikasi antarprofesional yang lebih jelas melalui rujukan, dan peluang yang lebih jelas untuk intervensi lebih awal," lanjut Dr. Kenny.
Melalui pedoman ini, apoteker berperan sebagai mitra perawatan proaktif melalui beberapa langkah utama, yaitu:
Mengenali pasien berisiko sejak dini dengan menggunakan mnemonik baru (MEDIC).
Membedakan nyeri saraf dan nyeri otot.
Menggunakan kuesioner skrining sederhana yang tervalidasi di lokasi apotek (misalnya ACT, DN4, NPQ).
Memberikan konseling, mempertimbangkan terapi yang sesuai termasuk vitamin B neurotropik dosis tinggi (B1, B6, B12) bila diperlukan, serta merujuk pasien ke dokter jika ditemukan risiko berbahaya.
Melakukan pemantauan dan tindak lanjut untuk mengevaluasi respons, serta menyesuaikan rencana perawatan.
"Di negara seperti Indonesia dengan rasio dokter terhadap populasi yang masih terbatas, peran apoteker menjadi sangat penting dalam skrining awal dan mengurangi keterlambatan penanganan," ujar Contributing Author, Dr. Apt. Lusy Noviani, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).
Melalui percakapan sederhana, apoteker dapat menggali keluhan pasien, memberikan edukasi yang tepat, serta menyarankan langkah penanganan awal.
Selain itu, apoteker juga berperan dalam menentukan kapan pasien perlu dirujuk ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dengan pendekatan yang proaktif, apoteker dapat membantu mempercepat deteksi dini sehingga kondisi tidak berkembang menjadi lebih serius.