Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Infeksi yang Bisa Lebih Berbahaya akibat Resistansi Antibiotik

7 Infeksi yang Bisa Lebih Berbahaya akibat Resistansi Antibiotik
ilustrasi resistansi antimikroba (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
  • Resistansi antibiotik tidak selalu membuat bakteri menjadi lebih ganas, tetapi dapat membuat pengobatan standar gagal, mempersempit pilihan obat, dan menunda pemberian antibiotik yang efektif.

  • Infeksi umum seperti ISK dan pneumonia hingga penyakit serius seperti sepsis, meningitis, gonore, tifoid, dan TB dapat menjadi lebih sulit diobati jika bakterinya sudah kebal.

  • WHO melaporkan sekitar 1 dari 6 infeksi bakteri terkonfirmasi laboratorium di dunia pada 2023 resisten terhadap antibiotik. Di kawasan Asia Tenggara WHO, angkanya sekitar 1 dari 3 infeksi yang dilaporkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sejak ditemukan, antibiotik telah menyelamatkan banyak nyawa dengan mengobati dan membantu mencegah penularan infeksi bakteri.

Antibiotik adalah obat untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Namun, penggunaan antibiotik yang berlebihan, tidak sesuai indikasi, atau tidak lengkap mendorong munculnya bakteri resisten.

Resistensi antibiotik kini menjadi ancaman kesehatan global. Ketika bakteri menjadi resisten, antibiotik yang sebelumnya efektif tidak lagi bekerja, sehingga infeksi menjadi lebih sulit diobati, masa sakit lebih lama, biaya perawatan meningkat, dan risiko kematian bertambah.

Berikut beberapa infeksi yang bisa menjadi lebih berbahaya akibat resistensi antibiotik.

1. Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih (ISK) termasuk infeksi bakteri yang sangat umum. Salah satu penyebab utamanya adalah Escherichia coli, sementara Klebsiella pneumoniae juga dapat berperan, terutama pada infeksi yang lebih kompleks atau terkait fasilitas kesehatan.

Pada kondisi biasa, ISK dapat membaik setelah diberikan antibiotik yang sesuai. Namun, jika bakteri resisten terhadap antibiotik yang diberikan pertama kali, gejala dapat terus berlangsung dan obat perlu diganti setelah hasil kultur atau pemeriksaan sensitivitas tersedia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan ISK sebagai salah satu kelompok infeksi utama dalam surveilans resistansi global 2025 yang menganalisis lebih dari 23 juta infeksi bakteri terkonfirmasi dari berbagai negara.

Studi pada 3.194 kasus ISK tanpa komplikasi di layanan primer Singapura menemukan kegagalan terapi sekitar 4,6 persen. Regimen antibiotik yang memiliki tingkat resistansi lokal lebih rendah dikaitkan dengan risiko kegagalan terapi yang lebih rendah.

Itu alasan kenapa antibiotik untuk ISK sebaiknya tidak dipilih hanya berdasarkan obat yang biasanya ampuh. Pada kasus tertentu—terutama infeksi berulang, berat, atau tidak membaik—kultur urine dapat membantu menentukan antibiotik yang masih efektif.

2. Pneumonia bakteri

Tidak semua pneumonia butuh antibiotik karena penyakit ini juga dapat disebabkan virus. Namun, pada pneumonia bakteri, resistansi dapat menjadi masalah serius.

Bakteri seperti Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, dan Acinetobacter baumannii dapat menyebabkan infeksi paru, dan beberapa strain-nya telah mengembangkan resistansi terhadap antibiotik penting.

Dampaknya, analisis Global Burden of Disease 2026 memperkirakan bahwa pada 2021, resistansi antimikroba berhubungan dengan sekitar 1,64 juta kematian akibat infeksi saluran napas bawah dan secara langsung berkontribusi terhadap sekitar 400 ribu kematian.

Situasinya terutama mengkhawatirkan pada pneumonia yang didapat di rumah sakit atau terkait ventilator, karena bakteri penyebabnya dapat memiliki resistansi terhadap banyak kelas antibiotik sekaligus.

3. Infeksi aliran darah dan sepsis

Ilustrasi pasien terbaring di ranjang rumah sakit dengan perawatan medis intensif akibat sepsis serius.
ilustrasi pasien dirawat di rumah sakit akibat sepsis (magnific.com/magnific)

Ketika bakteri masuk ke aliran darah, infeksi dapat memicu sepsis, yaitu respons tubuh yang ekstrem terhadap infeksi dan dapat berkembang menjadi disfungsi organ hingga kematian.

WHO menyebut E. coli dan K. pneumoniae sebagai dua bakteri Gram-negatif resisten utama pada infeksi aliran darah. Dalam data global 2023, lebih dari 40 persen E. coli dan 55 persen K. pneumoniae yang dipantau untuk infeksi ini telah kebal terhadap sefalosporin generasi ketiga.

Ketika antibiotik yang diberikan pertama kali ternyata tidak mempang, dokter harus mengganti obat. Pada infeksi yang bergerak cepat seperti bakteremia dan sepsis, keterlambatan mendapatkan obat yang efektif berisiko bahaya.

Sebuah studi terhadap infeksi E. coli dan K. pneumoniae yang sebagian besar berupa infeksi aliran darah menemukan bahwa keterlambatan terapi antibiotik yang tepat berkaitan dengan peningkatan risiko kematian.

4. Meningitis bakteri

Meningitis bakteri sudah merupakan keadaan darurat medis bahkan ketika bakterinya masih sensitif terhadap antibiotik.

Infeksi pada selaput otak dan sumsum tulang belakang dapat berkembang cepat. Deperkirakan sekitar 1 dari 5 penyintas meningitis bakteri dapat mengalami dampak jangka panjang, seperti gangguan pendengaran, kejang, kelemahan anggota tubuh, serta gangguan penglihatan, bicara, atau memori.

Beberapa bakteri penyebab utama—termasuk Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan streptokokus grup B—juga memiliki strain yang kebal terhadap antibiotik tertentu. WHO memasukkan sejumlah kombinasi patogen-resistansi tersebut dalam Bacterial Priority Pathogens List (BPPL) 2024.

Urgensinya begitu besar sehingga pada 2026 WHO menerbitkan target khusus untuk mendorong pengembangan antibiotik baru bagi meningitis bakteri yang resisten, bersama pneumonia, ISK, dan infeksi aliran darah berat.

Pada penyakit yang butuh terapi secepat mungkin, makin sedikit pilihan antibiotik berarti makin rumit menentukan pengobatan yang efektif sejak awal.

5. Gonore

Neisseria gonorrhoeae telah mengembangkan resistansi terhadap berbagai kelompok obat, termasuk penisilin, tetrasiklin, makrolida, dan fluorokuinolon. WHO melaporkan resistansi terhadap ciprofloxacin sudah sangat tinggi secara global, sementara resistansi atau penurunan sensitivitas terhadap ceftriaxone, salah satu pilihan pengobatan utama saat ini, terus bermunculan.

Kegagalan terapi dengan ceftriaxone juga sudah dilaporkan di sejumlah negara. Sebuah tinjauan dan metaanalisis terbaru mengumpulkan kasus-kasus kegagalan terapi dengan sefalosporin spektrum luas dan menunjukkan bahwa masalah ini terutama penting pada gonore di tenggorokan.

Gonore yang tidak ditangani dengan baik berkaitan dengan penyakit radang panggul, infertilitas, kehamilan ektopik, dan peningkatan risiko penularan HIV. Resistansi menambah beban tersebut dengan membuat infeksi bertahan lebih lama dan meningkatkan risiko komplikasi.

6. Demam tifoid

Tangan memegang kemasan obat berisi pil sebagai ilustrasi antibiotik dan penggunaan obat dalam perawatan kesehatan.
ilustrasi antibiotik (magnific.com/magnific)

Demam tifoid disebabkan Salmonella Typhi. Sebelum tersedia antibiotik, penyakit ini jauh lebih sulit ditangani. Kini, resistansi membuat sebagian pilihan terapi yang selama puluhan tahun digunakan kehilangan efektivitasnya.

WHO mencatat resistansi S. Typhi telah muncul terhadap fluorokuinolon, sefalosporin, hingga azithromycin. Strain extensively drug-resistant (XDR) menyebabkan pilihan pengobatan menjadi lebih rumit dan lebih mahal.

WHO bahkan menempatkan S. Typhi yang resisten terhadap fluorokuinolon dalam kelompok patogen prioritas tinggi pada daftar BPPL 2024.

Analisis laboratorium berbasis populasi di Pakistan terhadap hampir 24 ribu isolat S. Typhi dan S. Paratyphi dari tahun 2017–2019 menemukan proporsi XDR S. Typhi yang sangat besar di wilayah yang diteliti.

Langkah pencegahan perlu diperkuat dengan vaksinasi, air bersih, sanitasi, dan keamanan pangan. Makin sedikit infeksi, makin sedikit kebutuhan antibiotik dan makin risiko terjadinya resistansi.

7. Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) memiliki bentuk resistansi obat, yaitu multidrug-resistant TB (MDR-TB), yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang resisten terhadap rifampisin dan isoniazid—dua obat lini pertama dalam pengobatan TB. Pada bentuk yang lebih luas, resistansi dapat terjadi pada obat-obat penting lain dan membuat pilihan pengobatan makin sedikit.

TB yang sensitif terhadap obat umumnya butuh pengobatan beberapa selama bulan. Jika resisten, regimen pengobatan harus diubah dan dapat menggunakan obat yang berbeda dengan biaya serta risiko efek samping lebih besar.

Untungnya, perkembangan terapi beberapa tahun terakhir memungkinkan sebagian pasien MDR/RR-TB mendapatkan regimen obat oral yang lebih singkat daripada sebelumnya.

Tetap saja, bebannya besar. Diperkirakan sekitar 390 ribu orang mengalami MDR/RR-TB pada tahun 2024 dan sekitar 150 ribu meninggal. Hanya sekitar 2 dari 5 orang dengan MDR-TB yang mengakses pengobatan pada tahun tersebut.

Bukan berarti semua antibiotik tak lagi berguna

Bakteri yang kebal tidak selalu kebal terhadap semua antibiotik. Itulah sebabnya kultur dan antimicrobial susceptibility testing menjadi penting pada infeksi tertentu. Hasilnya membantu menentukan jenis antibiotik yang masih mampu bekerja.

Namun, makin banyak resistansi yang dikumpulkan bakteri, makin sempit pilihan tersebut. Antibiotik alternatif juga bisa lebih mahal, lebih sulit diperoleh, efek sampingnya lebih besar, atau pemberiannya harus lewat infus dan perawatan rumah sakit.

Antibiotik sangat penting untuk kesehatan, sehingga harus digunakan secara bijak. Prinsipnya adalah menggunakannya ketika ada indikasi, dengan obat, dosis, dan durasi yang tepat sesuai petunjuk tenaga medis, serta tidak menggunakan sisa antibiotik atau obat milik orang lain.

Pencegahan infeksi sama pentingnya. Vaksinasi, kebersihan tangan, sanitasi, keamanan pangan, seks aman, dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan dapat mengurangi jumlah orang yang sakit, dan pada akhirnya mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik.

Referensi

GBD 2021 Antimicrobial Resistance Collaborators, “Global Burden of Bacterial Antimicrobial Resistance 1990–2021: A Systematic Analysis with Forecasts to 2050,” The Lancet 404, no. 10459 (2024): 1199–1226, doi:10.1016/S0140-6736(24)01867-1.

Yuan-Pin Hung et al., “Effects of Inappropriate Administration of Empirical Antibiotics on Mortality in Adults With Bacteraemia: Systematic Review and Meta-Analysis,” Frontiers in Medicine 9 (2022): 869822, doi:10.3389/fmed.2022.869822.

Benedict Yan et al., “Antibiotic Treatment Failure of Uncomplicated Urinary Tract Infections in Primary Care,” Antimicrobial Resistance & Infection Control 12 (2023).

Weidong Qin et al., “Global Burden of Antimicrobial Resistance in Lower Respiratory Infections: A Systematic Analysis for the Global Burden of Disease Study 2021,” International Journal of Antimicrobial Agents 67, no. 6 (2026): 107786, doi:10.1016/j.ijantimicag.2026.107786.

Mariana Carrara et al., “A Systematic Review of the Association between Delayed Appropriate Therapy and Mortality among Patients Hospitalized with Infections Due to Klebsiella pneumoniae or Escherichia coli: How Long Is Too Long?,” BMC Infectious Diseases 18 (2018).

Fabian Y. S. Kong et al., “Minimum Inhibitory Concentrations of Extended-Spectrum Cephalosporins: A Systematic Review and Meta-Analysis of Neisseria gonorrhoeae Treatment Failures,” 2024.

Farah Naz Qamar et al., “Trends of Enteric Fever and Emergence of Extensively Drug-Resistant Typhoid in Pakistan: Population-Based Laboratory Data From 2017–2019,” Open Forum Infectious Diseases 12, no. 4 (2025): ofaf106, doi:10.1093/ofid/ofaf106.

World Health Organization, "Global Antibiotic Resistance Surveillance Report 2025", diakses Agustus 2026.

World Health Organization, "WHO Bacterial Priority Pathogens List, 2024: Bacterial Pathogens of Public Health Importance to Guide Research, Development and Strategies to Prevent and Control Antimicrobial Resistance," diakses Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More