- Thoracic aortic aneurysm (TAA) atau aneurisme aorta torakalis, terjadi pada aorta di dada;
- Abdominal aortic aneurysm (AAA) atau aneurisme aorta abdominal, terjadi pada bagian aorta di perut.
5 Jenis Gangguan Aorta, Ada yang Bisa Mengancam Nyawa
Aorta adalah arteri terbesar yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Gangguannya dapat berupa pelebaran, robekan, penyempitan, hingga peradangan dinding aorta.
Aneurisme dan diseksi aorta merupakan dua gangguan yang paling dikenal karena dapat menyebabkan ruptur dan perdarahan yang mengancam nyawa.
Nyeri dada, punggung, atau perut yang muncul sangat mendadak dan berat, terutama disertai pingsan, sesak, atau gejala seperti stroke, perlu dinilai sebagai keadaan darurat.
Aorta bekerja sejak detak jantung pertama, yaitu menerima darah beroksigen dari ventrikel kiri, lalu membawanya ke otak, lengan, organ-organ di dada dan perut, hingga tungkai.
Aorta sebenarnya bukan bagian dari ruang jantung, melainkan arteri terbesar yang keluar langsung dari jantung. Dindingnya tebal karena harus menahan tekanan darah yang tinggi sepanjang hidup.
Ketika struktur tersebut melemah, robek, menyempit, atau mengalami peradangan, konsekuensinya dapat memengaruhi aliran darah ke banyak organ sekaligus. Pedoman American College of Cardiology dan American Heart Association (ACC/AHA) mengategorikan berbagai kondisi ini dalam kelompok penyakit aorta (aortic disease).
Berikut beberapa jenis utamanya.
Table of Content
1. Aneurisme aorta
Aneurisme aorta terjadi ketika bagian dinding aorta melemah dan melebar atau menggembung secara abnormal.
Berdasarkan lokasinya, dua jenis yang paling dikenal adalah:
Aneurisme dapat berkembang tanpa keluhan selama bertahun-tahun. Ketika ukurannya membesar, gejalanya dapat berupa nyeri dada, punggung, atau perut, suara serak, sulit menelan, hingga sensasi berdenyut di perut—tergantung lokasinya.
Masalah terbesarnya, dinding yang makin lemah bisa pecah (ruptur), menyebabkan perdarahan internal yang masif. Aneurisme juga meningkatkan risiko terjadinya diseksi.
Karena sebagian tidak bergejala, pasien yang sudah diketahui memiliki aneurisme biasanya membutuhkan pemantauan ukuran aorta melalui ultrasonografi, CT, atau MRI. Kecepatan pertumbuhan dan ukuran aneurisme ikut menentukan kapan intervensi perlu dipertimbangkan.
2. Diseksi aorta
Jika aneurisme adalah dinding yang melebar, diseksi aorta adalah kondisi ketika lapisan bagian dalam dinding aorta mengalami robekan.
Darah kemudian masuk di antara lapisan dinding tersebut dan memisahkannya, menciptakan jalur aliran darah baru yang abnormal. Kondisi ini dapat mengurangi suplai darah ke organ, menyebabkan ruptur, hingga mengganggu pembuluh darah yang menuju otak, ginjal, atau jantung.
Sederhananya, diseksi sering dibagi menurut klasifikasi Stanford:
- Tipe A melibatkan aorta asendens yang dekat dengan jantung.
- Tipe B tidak melibatkan aorta asendens dan biasanya dimulai pada aorta desendens.
Tipe A merupakan keadaan darurat yang umumnya butuh operasi segera, sementara tata laksana tipe B bergantung pada apakah terdapat komplikasi seperti gangguan aliran darah ke organ, ruptur, atau perluasan aorta.
Data International Registry of Acute Aortic Dissection (IRAD), yang telah mengumpulkan lebih dari 7.300 kasus, menunjukkan diseksi tetap merupakan kondisi dengan morbiditas dan mortalitas tinggi meskipun kemampuan diagnosis dan tata laksana telah berkembang.
Gejala klasiknya adalah nyeri dada, punggung, atau perut yang muncul mendadak dan sangat berat. Namun, sebagian kecil bahkan dapat mengalami diseksi tanpa nyeri.
3. Hematoma intramural dan penetrating aortic ulcer

Ada kelompok kondisi bernama acute aortic syndrome atau sindrom aorta akut, yang terutama terdiri dari diseksi aorta, intramural hematoma (IMH), dan penetrating atherosclerotic ulcer (PAU).
Pada hematoma intramural, perdarahan terjadi di dalam lapisan dinding aorta tanpa robekan lapisan dalam yang jelas seperti pada diseksi klasik.
Sementara itu, PAU terjadi ketika plak aterosklerosis mengalami ulserasi dan menembus lebih dalam ke dinding aorta. Kondisi ini terutama ditemukan pada orang dengan aterosklerosis dan dapat berkembang menjadi hematoma, aneurisme, diseksi, atau ruptur.
Dari luar, gejalanya bisa mirip diseksi, yang meliputi nyeri dada atau punggung yang muncul tiba-tiba. Karena ketiganya sulit dibedakan hanya dari gejala, pencitraan—terutama CT angiografi pada kondisi akut—menjadi bagian penting diagnosis.
4. Koarktasio aorta
Pada koarktasio aorta, ada bagian aorta yang menyempit. Kondisi ini umumnya merupakan kelainan bawaan sejak lahir dan paling sering terjadi di sekitar aorta desendens dekat lokasi duktus arteriosus. Penyempitan membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah melewati area tersebut.
Pada bayi dengan penyempitan berat, gangguan bisa muncul segera setelah lahir. Namun, kasus yang lebih ringan terkadang baru ditemukan saat seseorang lebih besar atau bahkan sudah dewasa.
Salah satu tandanya adalah tekanan darah tinggi pada lengan tetapi aliran darah atau tekanan di tungkai lebih rendah. Pada orang dewasa, hipertensi usia muda merupakan salah satu temuan yang sering terlihat.
Meski sudah diperbaiki melalui operasi atau kateterisasi, pasien tetap butuh pemantauan jangka panjang karena hipertensi, aneurisme, atau penyempitan kembali dapat terjadi.
5. Aortitis
Aortitis berarti peradangan pada satu atau lebih lapisan dinding aorta. Penyebabnya dapat meliputi penyakit inflamasi noninfeksi, seperti giant cell arteritis dan arteritis Takayasu, maupun infeksi yang jauh lebih jarang.
Gejalanya bisa tidak spesifik. Sebagian pasien mengalami demam, kelelahan, penurunan berat badan, atau nyeri. Jika peradangan menyebabkan penyempitan cabang aorta, suplai darah ke organ atau anggota tubuh dapat terganggu. Dalam jangka panjang, kerusakan dinding juga dapat menyebabkan aneurisme.
Diagnosis biasanya membutuhkan gabungan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium, dan pencitraan, karena tidak ada satu gejala yang khas untuk semua kasus.
Penyebabnya juga menentukan pengobatan. Aortitis akibat penyakit autoimun atau vaskulitis tidak ditangani dengan cara yang sama dengan aortitis akibat infeksi.
Kapan gangguan aorta menjadi keadaan darurat?

Sebagian penyakit aorta ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan pencitraan untuk masalah lain. Namun, ruptur dan sindrom aorta akut dapat berkembang cepat dan mengancam nyawa.
Segera cari pertolongan ke IGD jika mengalami:
- Nyeri dada, punggung, atau perut yang sangat berat dan mendadak.
- Pingsan atau hampir pingsan.
- Sesak napas mendadak.
- Kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh.
- Kesulitan bicara atau gejala seperti stroke.
- Kulit dingin dan berkeringat, tekanan darah turun, atau tanda syok.
Gejala darurat aorta dapat menyerupai serangan jantung, stroke, atau penyakit lain. Penentuannya memerlukan evaluasi medis dan pencitraan.
Ada beberapa jenis gangguan aorta, dari kelainan bawaan yang menyempitkan pembuluh hingga dinding yang perlahan melebar atau tiba-tiba robek.
Sebagian kasusnya dapat dipantau selama bertahun-tahun, sementara yang lain butuh tindakan dalam hitungan jam. Lokasi gangguan, ukuran aorta, penyebab, kecepatan perkembangannya, dan adanya komplikasi menentukan bagaimana kondisi tersebut ditangani.
Referensi
Eric M. Isselbacher et al., “2022 ACC/AHA Guideline for the Diagnosis and Management of Aortic Disease: A Report of the American Heart Association/American College of Cardiology Joint Committee on Clinical Practice Guidelines,” Circulation 146, no. 24 (2022): e334–e482, doi:10.1161/CIR.0000000000001106.
Arturo Evangelista et al., “Insights From the International Registry of Acute Aortic Dissection: A 20-Year Experience of Collaborative Clinical Research,” Circulation 137, no. 17 (2018): 1846–60, doi:10.1161/CIRCULATIONAHA.117.031264.
Sheldon E. Goldberg et al., “Acute Aortic Syndromes: A Review of What We Know and Future Considerations,” European Heart Journal: Acute Cardiovascular Care 11, no. 2 (2022): 135–43, doi:10.1093/ehjacc/zuab106.
Wail Alkashkari, Saad Albugami, and Ziyad M. Hijazi, “Management of Coarctation of the Aorta in Adult Patients: State of the Art,” Korean Circulation Journal 49, no. 4 (2019): 298–313, doi:10.4070/kcj.2018.0433.
Sanjiv Sharma et al., “Etiology, Diagnosis and Management of Aortitis,” Cardiovascular and Interventional Radiology 43 (2020): 1821–36, doi:10.1007/s00270-020-02486-6.
American Heart Association, "Aorta Health: Risks and Symptoms of Aneurysm," diakses Agustus 2026.

















![[QUIZ] Dari Sinyal Tubuh, Kamu Lebih Butuh Plank, Sit Up, atau Push Up?](https://image.idntimes.com/post/20250305/pexels-maksgelatin-4348653-a8bdf633103f42baecf1db7a242f31a0.jpg)




