Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Retatrutide: Obat Obesitas yang Masih Dalam Uji Klinis
ilustrasi obat obesitas (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Retatrutide adalah obat eksperimental triple-agonist (GLP-1, GIP, glukagon) untuk obesitas dan gangguan metabolik.

  • Hingga kini masih dalam uji klinis fase 3 dan belum disetujui regulator seperti FDA atau EMA.

  • Penjualan di media sosial sangat berisiko dan berpotensi melanggar regulasi karena belum memiliki izin edar resmi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perkembangan terapi obesitas dalam satu dekade terakhir bergerak cepat dan progresif. Setelah kemunculan agonis GLP-1 seperti semaglutide dan tirzepatide, dunia medis kini menaruh perhatian pada kandidat baru bernama retatrutide. Molekul ini disebut sebagai generasi lanjutan terapi inkretin karena menargetkan lebih dari satu jalur hormon metabolik.

Antusiasme terhadap retatrutide meningkat setelah publikasi hasil uji klinis fase 2 menunjukkan penurunan berat badan yang sangat signifikan dalam waktu kurang dari satu tahun. Namun, di tengah optimisme tersebut, penting untuk memahami bahwa retatrutide masih merupakan obat investigasional, yang artinya belum tersedia secara legal untuk penggunaan umum.

Beredarnya produk yang mengklaim sebagai retatrutide di media sosial memunculkan pertanyaan tentang keamanan, legalitas, dan risiko kesehatan.

1. Apa itu retatrutide?

Retatrutide adalah obat injeksi eksperimental yang dikembangkan oleh Eli Lilly and Company. Obat ini merupakan triple hormone receptor agonist yang menstimulasi tiga reseptor sekaligus: GLP-1, GIP, dan reseptor glukagon.

Pendekatan ini unik karena menggabungkan efek:

  • GLP-1 untuk menekan nafsu makan dan memperlambat pengosongan lambung.

  • GIP untuk meningkatkan respons insulin.

  • Glukagon untuk meningkatkan pengeluaran energi.

Menurut sebuah tinjauan ilmiah, retatrutide dirancang untuk memberikan efek metabolik yang lebih luas dibanding agonis tunggal atau ganda sebelumnya.

2. Retatrutide ditujukan untuk siapa?

ilustrasi obesitas (IDN Times/NRF)

Retatrutide sedang diteliti untuk:

  • Individu dengan obesitas (Indeks Massa Tubuh/IMT ≥30).

  • Overweight dengan komorbiditas metabolik.

  • Pasien dengan diabetes tipe 2.

Obesitas sendiri dikategorikan sebagai penyakit kronis yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, dan kematian dini.

Namun, penting untuk ditegaskan bahwa retatrutide tidak ditujukan untuk penurunan berat badan kosmetik pada individu dengan berat badan normal. Hingga kini penggunaannya terbatas dalam kerangka penelitian klinis.

3. Sejauh mana uji klinisnya?

  • Fase 1 dan 2

Dalam uji fase 2 yang dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine (2023), peserta dengan obesitas mengalami penurunan berat badan rata-rata hingga sekitar 24 persen pada dosis tertinggi dalam 48 minggu.

Artikel ilmiah lainnya juga merangkum bahwa retatrutide menunjukkan perbaikan parameter metabolik seperti kontrol glukosa dan profil lipid pada tahap awal penelitian.

  • Fase 3, apakah pasti lolos?

Saat ini retatrutide sedang menjalani uji klinis fase 3 (program TRIUMPH). Fase ini melibatkan populasi lebih besar untuk mengevaluasi keamanan jangka panjang dan efektivitas konsisten.

Namun, fase 3 tidak menjamin persetujuan. Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA), banyak kandidat obat gagal pada tahap ini karena masalah keamanan, efek samping serius, atau manfaat yang tidak cukup besar dibanding risikonya.

Persetujuan hanya diberikan setelah evaluasi menyeluruh terhadap data keamanan dan efektivitas.

4. Apakah retatrutide dijual bebas?

ilustrasi marketplace (pexels.com/Sagar Soneji)

Hingga saat ini, retatrutide belum disetujui oleh FDA maupun European Medicines Agency (EMA). Artinya, obat ini belum mengantongi izin edar resmi secara global.

Jika ada pihak yang menjual retatrutide melalui media sosial atau marketplace, besar kemungkinan produk tersebut:

  • Tidak melalui jalur distribusi resmi.

  • Tidak terjamin kualitas dan sterilitasnya.

  • Berpotensi ilegal.

Regulator seperti FDA secara tegas melarang distribusi obat investigasional di luar uji klinis tanpa izin khusus. Menggunakan obat yang belum disetujui berisiko terhadap keselamatan diri.

5. Efek samping yang tercatat

Data uji fase 2 melaporkan efek samping paling umum berupa gangguan gastrointestinal, seperti:

  • Mual.

  • Muntah.

  • Diare.

  • Sembelit.

Efek ini serupa dengan agonis GLP-1 lainnya dan cenderung bergantung pada dosis.

Karena retatrutide juga mengaktivasi reseptor glukagon, terdapat perhatian terhadap potensi peningkatan denyut jantung dan efek metabolik lain yang masih dipantau dalam fase 3.

Keamanan jangka panjang—termasuk risiko pankreatitis, gangguan kandung empedu, atau efek kardiovaskular—masih dalam evaluasi.

6. Apakah sudah terdaftar di BPOM?

ilustrasi obat-obatan ilegal (pexels.com/Piyapong Sayduang)

Hingga saat ini, retatrutide belum mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Artinya, obat ini belum memiliki izin edar resmi di Indonesia dan tidak dapat dipasarkan secara legal sebagai produk farmasi komersial.

Di Indonesia, setiap obat yang beredar wajib memiliki nomor izin edar dari BPOM. Proses ini mencakup evaluasi data keamanan, efektivitas, mutu, serta hasil uji klinis yang memadai. Tanpa persetujuan tersebut, suatu produk tidak boleh dijual atau didistribusikan secara bebas kepada masyarakat.

Karena retatrutide masih berada dalam tahap uji klinis global dan belum disetujui regulator utama seperti FDA maupun EMA, maka secara otomatis obat ini juga belum bisa memperoleh izin edar penuh di Indonesia.

7. Risiko membeli obat dari jalur tidak resmi

Tentu saja ada beberapa risiko nyata, seperti:

  1. Keamanan tidak terjamin: Produk yang dijual bisa saja palsu, terkontaminasi, atau dosisnya tidak tepat.

  2. Tidak ada pemantauan efek samping: Penggunaan obat investigasional seharusnya dipantau ketat oleh tim medis.

  3. Tidak ada perlindungan hukum bagi konsumen: Jika terjadi efek samping serius, sulit menuntut pertanggungjawaban.

Obat palsu dan produk medis yang tidak terdaftar dapat membahayakan kesehatan dan bahkan mengancam jiwa.

Retatrutide adalah kandidat obat obesitas generasi baru dengan mekanisme kerja inovatif dan hasil awal yang menjanjikan. Namun, obat ini masih berada dalam tahap uji klinis dan belum disetujui untuk penggunaan umum. Fase 3 bukan jaminan kelulusan, melainkan tahap evaluasi ketat sebelum regulator memutuskan manfaat dan risikonya.

Penjualan retatrutide di media sosial perlu disikapi dengan sangat hati-hati. Menggunakan obat investigasional tanpa pengawasan medis dan tanpa izin edar resmi berisiko secara hukum dan kesehatan.

Referensi

Vasiliki Katsi et al., “Retatrutide—A Game Changer in Obesity Pharmacotherapy,” Biomolecules 15, no. 6 (May 30, 2025): 796, https://doi.org/10.3390/biom15060796.

"Obesity and overweight." World Health Organization. Diakses Februari 2026.

Ania M. Jastreboff et al., “Triple–Hormone-Receptor Agonist Retatrutide for Obesity — a Phase 2 Trial,” New England Journal of Medicine 389, no. 6 (June 26, 2023): 514–26, https://doi.org/10.1056/nejmoa2301972.

"The Drug Development Process." U.S. Food and Drug Administration (FDA). Diakses Februari 2026.

Editorial Team