ilustrasi latihan militer (pexels.com/Pixabay)
Yang dibutuhkan adalah desain latihan yang berbasis risiko.
Skrining perlu mencakup riwayat penyakit jantung, asma, riwayat pingsan saat olahraga, heat illness sebelumnya, rhabdomyolysis, cedera muskuloskeletal, penggunaan obat tertentu, riwayat sickle cell trait jika relevan, gangguan ginjal, dan kondisi lain yang memengaruhi toleransi latihan.
Skrining membantu menentukan siapa yang perlu adaptasi khusus, pemantauan lebih ketat, atau pemeriksaan lanjutan.
Latihan di cuaca panas perlu dimulai bertahap. Durasi, intensitas, dan penggunaan perlengkapan berat sebaiknya dinaikkan perlahan. Tubuh yang belum terbiasa panas tidak bisa dipaksa langsung bekerja seperti tubuh yang sudah teraklimatisasi.
Program latihan harus mengikuti prinsip progresif. Peserta dengan latar belakang kebugaran berbeda tidak akan merespons beban yang sama dengan cara yang sama. Peningkatan volume lari, beban, drill, dan durasi latihan perlu dilakukan bertahap.
Latihan intens perlu diselingi waktu istirahat yang memadai, terutama dalam panas. Rasio kerja-istirahat harus mempertimbangkan suhu, kelembapan, beban perlengkapan, intensitas latihan, dan kondisi peserta.
Peserta perlu minum cukup, tetapi tidak berlebihan. Pada latihan panjang atau sangat panas, strategi elektrolit perlu dipertimbangkan. Peserta juga perlu makan cukup karena natrium dan energi tidak hanya berasal dari minuman.
Peserta sering tidak sadar ketika dirinya mulai bingung atau perilakunya berubah. Buddy system membantu peserta saling memantau tanda bahaya, seperti bicara kacau, sempoyongan, tampak tidak fokus, muntah, atau terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Instruktur tidak harus menjadi dokter, tetapi harus tahu kapan gejala tidak boleh dianggap sebagai kelemahan. Kebingungan, pingsan, kejang, urine gelap, nyeri otot ekstrem, dan muntah berulang harus diperlakukan sebagai tanda medis serius.
Pada dugaan exertional heat stroke, pendinginan cepat sangat penting. Prinsip yang sering ditekankan dalam kedokteran olahraga adalah segera mendinginkan korban heat stroke di lokasi sebelum mengangkutnya ke rumah sakit jika fasilitas dan tenaga terlatih tersedia.
Durasi suhu tubuh tinggi sangat menentukan risiko kerusakan organ.
Peserta harus bisa melapor tanpa takut dipermalukan. Sistem yang menghukum keluhan medis justru membuat risiko makin besar. Latihan aman membutuhkan budaya yang membedakan antara disiplin dan pengabaian tanda bahaya.
Setiap kasus heat illness, kolaps, rhabdomyolisis, cedera berat, atau rawat inap harus dievaluasi. Yang dievaluasi bukan hanya peserta, tetapi juga desain latihan, cuaca, jadwal, beban, hidrasi, instruksi, respons medis, dan sistem pelaporan.
Latihan militer dapat meningkatkan kebugaran, disiplin, ketahanan mental, dan kerja sama jika dilakukan dengan perencanaan yang baik. Namun, risikonya memang nyata karena menggabungkan intensitas tinggi, tekanan mental, beban fisik, cuaca, kurang tidur, dan tuntutan kepatuhan.
Risiko yang perlu diwaspadai meliputi heat exhaustion, heat stroke, rhabdomyolysis, hiponatremia, dehidrasi, cedera otot dan sendi, fraktur stres, kelelahan ekstrem, serta dampak kurang tidur. Dalam literatur internasional, kasus-kasus seperti ini bukan hal baru dan telah dilaporkan dalam berbagai konteks militer maupun pelatihan fisik intens.
Kabar baiknya, banyak risiko tersebut bisa dicegah. Kuncinya adalah skrining kesehatan, aklimatisasi, peningkatan beban bertahap, hidrasi yang tepat, istirahat cukup, pengawasan medis, respons darurat cepat, dan budaya latihan yang memungkinkan peserta melaporkan gejala tanpa takut dihukum.
Latihan yang profesional adalah latihan yang mampu membentuk ketangguhan tanpa mengabaikan keselamatan.
Referensi
Faith O. Alele et al., “Epidemiology of Exertional Heat Illness in the Military: A Systematic Review of Observational Studies,” International Journal of Environmental Research and Public Health 17, no. 19 (September 25, 2020): 7037, https://doi.org/10.3390/ijerph17197037.
Sean Bulmer et al., “Sleep of Recruits Throughout Basic Military Training and Its Relationships With Stress, Recovery, and Fatigue,” International Archives of Occupational and Environmental Health 95, no. 6 (February 28, 2022): 1331–42, https://doi.org/10.1007/s00420-022-01845-9.
Patrick G. Campbell et al., “Incidence and Risk Factors for the Development of Stress Fractures in Military Recruits and Qualified Personnel: A Systematic Review,” International Journal of Environmental Research and Public Health 22, no. 11 (November 20, 2025): 1760, https://doi.org/10.3390/ijerph22111760.
Douglas J. Casa et al., “National Athletic Trainers’ Association Position Statement: Exertional Heat Illnesses,” Journal of Athletic Training 50, no. 9 (September 1, 2015): 986–1000, https://doi.org/10.4085/1062-6050-50.9.07.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “What Is Sickle Cell Trait?” Diakses Juni 2026.
CDC, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). “Heat-Related Illnesses.” Diakses Juni 2026.
CDC, NIOSH. “Rhabdomyolysis and Work.” Diakses Juni 2026.
Tamara Hew-Butler et al., “Exercise-Associated Hyponatremia: 2017 Update,” Frontiers in Medicine 4 (March 3, 2017): 21, https://doi.org/10.3389/fmed.2017.00021.
Military Health System, “Update: Heat Exhaustion and Heat Stroke Among Active Component Members of the U.S. Armed Forces, 2020–2024,” June 1, 2025, https://health.mil/News/Articles/2025/06/01/MSMR-Heat-Illness-2025.
Medical Surveillance Monthly Report. “Update: Exertional Hyponatremia Among Active Component Members of the U.S. Armed Forces, 2009–2024.” Medical Surveillance Monthly Report 32, no. 6 (2025). Diakses Juni 2026.
Medical Surveillance Monthly Report. “Update: Exertional Rhabdomyolysis Among Active Component Members of the U.S. Armed Forces, 2019–2023.” Medical Surveillance Monthly Report 31, no. 4 (2024). Diakses Juni 2026.
R J Robbins and Robert J. Conlon, “Rapid Excavation and Tunneling Conference. Proceedings. [1976 RETC Proceedings],” OSTI OAI (U.S. Department of Energy Office of Scientific and Technical Information) 15, no. 1 (January 1, 1976): 144, https://doi.org/10.1186/s13102-023-00755-8.
O’Brien, Kathleen K., Mark R. Montain, and others. “Hyponatremia Associated with Overhydration in U.S. Army Trainees.” Military Medicine 166, no. 5 (2001): 405–410. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11370203/.
Julien D. Périard, David DeGroot, and Ollie Jay, “Exertional Heat Stroke in Sport and the Military: Epidemiology and Mitigation,” Experimental Physiology 107, no. 10 (August 30, 2022): 1111–21, https://doi.org/10.1113/ep090686.
Smalley, Brian, Robin M. Janke, and David Cole. “Exertional Heat Illness in Air Force Basic Military Trainees.” Military Medicine 168, no. 4 (2003): 298–303. https://doi.org/10.1093/milmed/168.4.298.
Stacey, Michael J., Elizabeth J. Parsons, and others. “Case Ascertainment of Heat Illness in the British Army: Evidence of Under-Reporting from Analysis of Medical and Command Notifications, 2009–2013.” BMJ Military Health 162, no. 6 (2016): 428–434. Diakses Juni 2026.
United Kingdom Ministry of Defence. “Commander’s Guide to Heat Illness Prevention.” 2025. Diakses Juni 2026.