Traveling untuk menjalani operasi kosmetik bukan lagi fenomena langka. Banyak orang terbang ke provinsi, atau bahkan negara lain, untuk mendapatkan prosedur yang dianggap lebih bagus, lebih terjangkau, atau lebih menarik dibandingkan layanan di tempat tinggal mereka. Fenomena ini dikenal sebagai bagian dari medical tourism atau wisata medis.
Namun, di balik kesuksesan "before-after", ada risiko yang sering luput dari pertimbangan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) baru-baru ini menyoroti meningkatnya komplikasi yang berkaitan dengan prosedur kosmetik yang dilakukan saat traveling.
Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases, para peneliti menemukan bahwa perjalanan untuk menjalani operasi kosmetik dapat meningkatkan risiko komplikasi pascaoperasi, terutama infeksi.
Menurut penulis utama studi tersebut, Kiara McNamara, seorang perawat epidemiolog dari CDC, makin banyak orang menjalani prosedur medis di luar tempat tinggal mereka, tetapi tidak semua paham risiko yang bisa muncul setelah operasi selesai. Yang jadi persoalan, komplikasi sering baru muncul saat pasien sudah pulang ke rumah.
