ilustrasi operasi plastik (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Salah satu tantangan dalam medical tourism adalah putusnya kesinambungan perawatan.
Jika operasi dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal, pasien biasanya memiliki akses mudah untuk kontrol pascaoperasi. Dokter pun dapat memantau proses penyembuhan dan segera bertindak jika muncul masalah.
Situasinya berbeda ketika pasien harus terbang ratusan atau ribuan kilometer untuk menjalani prosedur. Begitu operasi selesai, tidak sedikit pasien langsung pulang. Ketika muncul keluhan beberapa minggu kemudian, dokter yang menangani komplikasi sering kali berbeda dengan dokter yang melakukan operasi. Akibatnya, investigasi menjadi lebih sulit.
Peneliti CDC bahkan menilai bahwa jumlah kasus yang dilaporkan kemungkinan jauh lebih rendah daripada kondisi sebenarnya. Banyak komplikasi tidak tercatat karena pasien tidak melaporkannya, fasilitas kesehatan tidak melakukan pemantauan jangka panjang, atau infeksi dianggap sebagai kasus yang berdiri sendiri.
Karena itu, para peneliti menekankan pentingnya edukasi sebelum seseorang memutuskan menjalani operasi kosmetik saat traveling.
Ada beberapa pertanyaan penting yang sebaiknya diajukan sebelum mengambil keputusan:
Apakah fasilitas kesehatan yang dituju memiliki standar akreditasi yang jelas?
Siapa yang akan menangani kontrol pascaoperasi?
Bagaimana prosedur jika terjadi komplikasi setelah pulang?
Apakah dokter bedah memiliki sertifikasi yang dapat diverifikasi?
Apakah tersedia akses terhadap rekam medis jika dibutuhkan di kemudian hari?
Bagi banyak orang, biaya memang menjadi pertimbangan utama. Namun, ketika komplikasi terjadi, biaya pengobatan tambahan, waktu kerja yang hilang, hingga dampak psikologis bisa lebih besar dibanding penghematan yang diperoleh di awal.
Jangan cuma melihat review layanan operasi kosmetik di suatu klinik, tetapi juga pertimbangkan keamanan prosedur, kualitas fasilitas, dan kesinambungan perawatan setelah operasi karena itu semua juga penting. Harga yang lebih murah atau paket promo mungkin terlihat menarik di awal, tetapi risiko konsekuensi kesehatannya bisa jadi jauh lebih mahal.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). "About Nontuberculous Mycobacteria (NTM)." Diakses Juni 2026.
CDC. "CDC Highlights Adverse Outcomes Linked to Travel-Related Cosmetic Procedures." Diakses Juni 2026.
CDC. "Medical Tourism." Diakses Juni 2026.
McNamara K, Rowh A, Stoney R, et al. Adverse Outcomes of Travel-Related Cosmetic Procedures among US Residents, 2014–2024. Emerging Infectious Diseases. 2026;32(6):1003-1007. doi:10.3201/eid3206.251883.