Salah satu penyebab tersering sembelit adalah dehidrasi. Cuaca di Arab Saudi bisa sangat panas, dengan suhu yang pada siang hari dapat melebihi 40 derajat Celsius. Tubuh kehilangan banyak cairan lewat keringat, tetapi tidak semua jemaah mengganti cairan tersebut dengan cukup.
Sebagian orang sengaja mengurangi minum agar tidak terlalu sering ke toilet, terutama saat perjalanan panjang atau berada di keramaian. Padahal, kekurangan cairan membuat usus menyerap lebih banyak air dari tinja sehingga tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Kurang cairan merupakan salah satu pemicu sembelit yang paling umum karena memengaruhi konsistensi tinja dan pergerakan usus.
Selain dehidrasi, pola makan selama haji juga sering berubah. Banyak jemaah mengonsumsi makanan praktis yang lebih rendah serat dibanding pola makan sehari-hari di rumah. Asupan buah, sayur, dan biji-bijian utuh sering berkurang, sementara makanan tinggi karbohidrat sederhana dan protein justru meningkat.
Serat sebenarnya penting untuk membantu menarik air ke dalam usus dan membuat tinja lebih mudah bergerak. Tanpa cukup serat, pergerakan usus menjadi lebih lambat.
Faktor lain yang sering tidak disadari adalah kebiasaan menahan buang air besar. Jadwal ibadah yang padat, antrean toilet panjang, dan keterbatasan akses kamar mandi membuat sebagian jemaah menunda keinginan buang air besar. Jika kebiasaan ini terus berulang, refleks alami tubuh untuk buang air besar bisa terganggu.
Kurang tidur, stres fisik, dan kelelahan juga ikut memengaruhi sistem pencernaan. Usus sebenarnya sangat sensitif terhadap perubahan ritme tubuh. Ketika tubuh mengalami tekanan fisik dan perubahan rutinitas besar, gerakan usus bisa melambat.
Penelitian menunjukkan perubahan pola hidup, stres perjalanan, dan gangguan hidrasi dapat meningkatkan risiko sembelit, terutama pada lansia dan individu dengan aktivitas fisik berat.