Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi Ungkap Kenapa TBC Lebih Sering Menyerang Laki-Laki
ilustrasi pasien TBC (vecteezy.com/thanasakwongsuk950595)
  • Secara global, beban TBC pada laki-laki jauh lebih tinggi daripada perempuan.

  • Studi terbaru menunjukkan kesenjangan tersebut tampaknya lebih banyak terjadi karena laki-laki lebih sering terinfeksi Mycobacterium tuberculosis, bukan karena setelah terinfeksi tubuh laki-laki lebih mudah mengalami TBC aktif.

  • Paparan di tempat kerja dan ruang berkumpul, merokok, konsumsi alkohol, serta keterlambatan mencari pengobatan kemungkinan ikut mempertahankan kesenjangan tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tuberkulosis (TBC) tidak terbagi rata antara laki-laki dan perempuan. Data Global Tuberculosis Report 2025 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa dari 10,7 juta orang yang mengalami TBC pada 2024, sekitar 5,8 juta adalah laki-laki dewasa, dibandingkan dengan 3,7 juta perempuan dewasa.

Survei prevalensi nasional bahkan memperlihatkan kesenjangan yang lebih besar. WHO melaporkan laki-laki biasanya mencakup sekitar 66–75 persen kasus TBC pada orang dewasa yang ditemukan dalam survei tersebut.

Kenapa begitu?

Selama bertahun-tahun, jawaban dari pertanyaan ini belum jelas. Apakah laki-laki lebih sering bertemu dengan bakteri penyebab TBC? Atau, setelah terinfeksi, tubuh laki-laki memang lebih rentan membiarkan infeksi berkembang menjadi penyakit aktif?

Nah, penelitian terbaru mencoba menjawabnya.

Laki-laki tampaknya lebih sering terinfeksi sejak awal

Studi terbaru dalam jurnal EClinicalMedicine menganalisis data individual dari 22.424 peserta dalam 11 studi kohort prospektif di 14 negara. Para peneliti memisahkan dua tahap yang sering tercampur dalam penelitian TBC, yaitu kemungkinan seseorang terinfeksi dan kemungkinan infeksi tersebut kemudian berkembang menjadi penyakit TBC aktif.

Pada awal penelitian, laki-laki memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk sudah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis dibandingkan perempuan, dengan odds ratio (OR) 1,12.

Namun, hasilnya berubah ketika peneliti hanya melihat mereka yang sudah terinfeksi. Selama median masa pemantauan 2,8 tahun, tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam risiko berkembang menjadi TBC aktif antara laki-laki dan perempuan. Pada peserta yang sudah terinfeksi sejak awal, hazard ratio (HR) laki-laki dibandingkan perempuan adalah 0,86 dengan interval kepercayaan 95 persen 0,65–1,14.

Temuan tersebut mengarah pada penjelasan bahwa tingginya kasus TBC pada laki-laki kemungkinan besar dimulai sebelum penyakit aktif muncul, bahwa mereka lebih sering terpapar dan terinfeksi bakteri TBC.

Pola serupa mulai terlihat sejak usia remaja

Temuan studi baru tersebut sejalan dengan metaanalisis tahun 2025 yang mengumpulkan data 478.968 orang dari 38 negara. Pada anak di bawah 10 tahun, hampir tidak terdapat perbedaan prevalensi tanda infeksi M. tuberculosis antara laki-laki dan perempuan. Namun, kesenjangan mulai muncul sejak masa remaja dan semakin besar pada usia dewasa. Pada usia sekitar 30 tahun, laju perubahan menjadi positif pada pemeriksaan imunoreaktivitas TBC diperkirakan sekitar 1,4 kali lebih tinggi pada laki-laki.

Pola yang muncul setelah seseorang memasuki usia ketika aktivitas kerja dan sosial berubah memberikan petunjuk bahwa lingkungan dan perilaku mungkin berperan besar.

Lebih banyak kesempatan untuk menghirup bakteri TBC

Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab tuberkulosis atau TBC. (commons.wikimedia.org/NIAID)

TBC menyebar melalui udara ketika seseorang dengan TBC paru mengeluarkan bakteri ke udara, terutama di lingkungan tertutup dengan ventilasi buruk. Karena itu, risiko infeksi sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan seberapa lama seseorang berada di sekitar orang yang menularkan TBC.

Kondisi tempat tinggal, bekerja, dan berkumpul sebagai bagian dari faktor struktural yang dapat menciptakan kesenjangan TBC antara laki-laki dan perempuan.

Pekerjaan tertentu yang lebih banyak dilakukan laki-laki, seperti pertambangan dan pekerjaan di lingkungan padat, juga dapat meningkatkan paparan.

Laki-laki juga lebih banyak terwakili dalam populasi penjara, tempat risiko penularan TBC dapat tinggi.

Pola pergaulan ikut berpengaruh. Analisis terhadap survei kontak sosial dari 17 negara menemukan bahwa orang dewasa cenderung lebih banyak berinteraksi dengan orang dengan jenis kelamin yang sama, khususnya di luar rumah. Akibatnya, ketika TBC lebih banyak beredar di antara laki-laki, pola kontak tersebut bisa makin mempertahankan penularan di kelompok laki-laki.

Merokok dan alkohol ikut meningkatkan risiko

Merokok dan gangguan penggunaan alkohol merupakan dua faktor risiko TBC, bersama kurang gizi dan diabetes.

Secara global, merokok dan gangguan penggunaan alkohol lebih banyak dialami laki-laki dibanding perempuan.

Pemodelan epidemiologi di Afrika Selatan menunjukkan bahwa merokok dan penggunaan alkohol berkontribusi lebih besar terhadap beban TBC pada laki-laki dibandingkan perempuan. Namun, besar kontribusinya dapat berbeda antara negara dan populasi.

Bahkan, studi terbaru ini belum dapat menentukan faktor mana yang paling bertanggung jawab karena informasi mengenai merokok, alkohol, dan kondisi sosial ekonomi tidak tersedia secara lengkap pada seluruh peserta.

Laki-laki juga lebih mungkin terlambat terdiagnosis

WHO menemukan kesenjangan deteksi dan pelaporan penyakit cenderung lebih besar pada laki-laki. Norma sosial mengenai maskulinitas, jam kerja, pekerjaan informal tanpa perlindungan yang memadai, dan hambatan akses layanan kesehatan dapat membuat sebagian laki-laki menunda pemeriksaan.

Metaanalisis terhadap survei prevalensi di negara berpendapatan rendah dan menengah juga menemukan bukti bahwa laki-laki memiliki kesenjangan lebih besar dalam mencari atau memperoleh diagnosis TBC. Kondisi ini bukan hanya membuat pengobatan terlambat, tetapi juga berpotensi memperpanjang waktu seseorang menularkan bakteri kepada orang lain.

Hormon seks, kromosom, dan perbedaan respons imun dapat memengaruhi cara tubuh merespons M. tuberculosis. Namun, mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.

Yang menjadi menarik dari penelitian terbaru adalah bahwa setelah seseorang sudah terinfeksi, laki-laki tidak terbukti lebih mudah mengalami TBC aktif daripada perempuan.

Artinya, untuk memahami mengapa TBC jauh lebih banyak ditemukan pada laki-laki, perlu dipahami kenapa laki-laki lebih sering bertemu, menghirup, dan akhirnya terinfeksi bakteri TBC. Tempat kerja, ruang sosial, merokok, alkohol, kondisi ekonomi, pola kontak, serta keterlambatan mengakses layanan kesehatan kemungkinan saling bertumpuk membentuk kesenjangan tersebut.

Referensi

World Health Organization, "Global Tuberculosis Report 2025," diakses Agustus 2026.

Yohhei Hamada et al., “Sex Differences in Tuberculosis Incidence: A Pooled Analysis of 11 Prospective Cohort Studies,” EClinicalMedicine 99 (2026): 104146, https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2026.104146.

Hannah M. Rickman et al., “Sex Differences in the Risk of Mycobacterium tuberculosis Infection: A Systematic Review and Meta-analysis of Population-Based Immunoreactivity Surveys,” The Lancet Public Health 10, no. 7 (2025): e588–e598, https://doi.org/10.1016/S2468-2667(25)00120-3.

World Health Organization, “TB & Gender,” in Global Tuberculosis Report 2025, diakses Agustus 2026.

Katherine C. Horton et al., “Systematic Review and Meta-Analysis of Sex Differences in Social Contact Patterns and Implications for Tuberculosis Transmission and Control,” Emerging Infectious Diseases 26, no. 5 (2020): 910–19, https://doi.org/10.3201/eid2605.190574.

Leigh F. Johnson et al., “Drivers of Sex Differences in the South African Adult Tuberculosis Incidence and Mortality Trends, 1990–2019,” Scientific Reports 13 (2023), https://doi.org/10.1038/s41598-023-36432-6.

Katherine C. Horton et al., “Sex Differences in Tuberculosis Burden and Notifications in Low- and Middle-Income Countries: A Systematic Review and Meta-analysis,” PLOS Medicine 13, no. 9 (2016): e1002119, https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1002119.

Manish Gupta, Sabra L. Klein, and William R. Bishai, “Sex as a Biological Variable in Tuberculosis Pathogenesis,” Immunological Reviews 338, no. 1 (2026): e70116, https://doi.org/10.1111/imr.70116.

Curated For You

Editorial Team

Related Article