Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “Tuberculosis: Causes and How It Spreads.” Updated January 17, 2025.
CDC. “Tuberculosis Clinical Care and Treatment During Pregnancy.” Diakses Juli 2026.
CDC. “Contraindications to Breastfeeding.” Diakses Juli 2026.
World Health Organization. “Management of Asymptomatic Neonates of Mothers with TB.” WHO TB Knowledge Sharing Platform: Operational Handbook, Module 5.
National Library of Medicine. “Isoniazid.” Drugs and Lactation Database (LactMed®). Diakses Juli 2026.
National Library of Medicine. “Rifampin.” Drugs and Lactation Database (LactMed®). Diakses Juli 2026.
Loveday, M., S. Hlangu, and J. Furin. “Breastfeeding in Women Living with Tuberculosis.” International Journal of Tuberculosis and Lung Disease 24, no. 9 (2020): 880–891.
Algharably, Engi Abdelhady, Reinhold Kreutz, and Ursula Gundert-Remy. “Infant Exposure to Antituberculosis Drugs via Breast Milk and Assessment of Potential Adverse Effects in Breastfed Infants: Critical Review of Data.” Pharmaceutics 15, no. 4 (2023): 1228.
Ibu Kena TBC, Bolehkah Tetap Menyusui?

Ibu dengan TBC umumnya tetap bisa menyusui, terutama jika sudah mendapat pengobatan yang tepat.
TBC biasanya menular lewat udara saat orang dengan TBC paru atau tenggorokan batuk, bicara, atau bernyanyi, bukan lewat ASI.
Jika TBC aktif belum diobati atau ibu masih menular, menyusui langsung mungkin perlu diatur sementara; ASI perah tetap bisa diberikan oleh pengasuh sesuai arahan dokter.
Saat seorang ibu yang baru melahirkan atau sedang menyusui didiagnosis tuberkulosis (TBC/TB), rasa khawatir bukan cuma untuk diri sendiri, tetapi juga pada orang-orang di sekitar dan bayi yang sedang disusui.
Wajar ibu takut penyakitnya menular ke bayi, takut obat TBC masuk ke dalam ASI, takut harus berhenti menyusui, dan takut dianggap membahayakan anak sendiri.
Faktanya, dalam banyak kasus, ibu yang sakit TBC tetap bisa menyusui. Kuncinya adalah mengetahui apakah TBC-nya aktif dan menular, apakah sudah mulai pengobatan, dan apakah bayi sudah dievaluasi oleh tenaga kesehatan.
Table of Content
1. TBC menular lewat udara, bukan lewat ASI
TBC terutama menular lewat udara. Kuman penyebab TBC dapat masuk ke udara saat orang dengan TBC aktif di paru atau tenggorokan batuk, berbicara, atau bernyanyi. Orang di sekitarnya bisa menghirup kuman tersebut dan terinfeksi.
Artinya, risiko utama TBC untuk bayi bukan dari ASI, melainkan dari paparan udara saat kontak dekat dengan ibu yang masih menular. Karena itulah pencegahan berfokus pada pengobatan ibu, pakai masker saat berada di dekat bayi, menerapkan etika batuk yang benar, memastikan ventilasi ruangan memadai, dan evaluasi bayi.
Sebuah tinjauan ilmiah dalam International Journal of Tuberculosis and Lung Disease menyebut bahwa risiko penularan TBC melalui ASI sangat kecil, sementara sebagian besar obat TBC yang umum digunakan hanya masuk ke ASI dalam jumlah kecil.
2. Jika ibu sudah diobati, menyusui biasanya boleh dilanjutkan
Perempuan yang menggunakan obat TBC lini pertama dapat tetap menyusui bayinya. Kadar obat tersebut dalam ASI terlalu kecil untuk menyebabkan toksisitas pada bayi. Namun, kadar itu juga terlalu kecil untuk mengobati TBC aktif atau infeksi TBC laten pada bayi.
Tetap penting untuk bayi tetap perlu diperiksa dan, jika dokter menilai perlu, mendapat terapi pencegahan TBC. Jadi, obat yang diminum ibu tidak otomatis melindungi bayi hanya karena bayi mendapat ASI.
Beberapa obat TBC juga punya catatan khusus. Rifampisin, misalnya, dapat membuat cairan tubuh, termasuk ASI, tampak oranye, merah, atau kecokelatan. Perubahan warna ini normal dan tidak berbahaya.
3. Kalau TBC aktif belum diobati, menyusui langsung bisa ditunda sementara

Beberapa pedoman bisa punya penekanan berbeda.
Sebagai contoh, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memasukkan TBC aktif yang belum diobati sebagai kondisi ketika ibu sebaiknya sementara tidak menyusui langsung, tetapi ASI perah boleh diberikan kepada bayi oleh pengasuh lain. Ibu dapat kembali menyusui setelah mendapat terapi yang sesuai selama sekitar 2 minggu dan dokter menyatakan ibu tidak lagi menular.
Sementara itu, pendekatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih menekankan agar ibu dan bayi tidak otomatis dipisahkan. Dalam panduan WHO untuk neonatus dari ibu dengan TBC, bayi tidak perlu dipisahkan dari ibu, menyusui tetap dilanjutkan, dan ibu disarankan memakai masker bedah saat dekat bayi. WHO juga menekankan bahwa tingkat penularan ibu dan kemungkinan TBC resistan obat perlu dinilai.
Intinya, jangan langsung menghentikan pemberian ASI, tetapi jangan juga mengabaikan risiko penularan. Keputusan terbaik perlu dibuat bersama dokter, terutama jika ibu masih batuk, hasil dahak masih positif, belum minum obat, atau ada dugaan TBC resistan obat.
4. Bayi tetap perlu diperiksa walaupun terlihat sehat
Bayi yang tinggal dekat dengan ibu yang mengalami TBC perlu dievaluasi.
Jika ibu dicurigai atau terkonfirmasi TBC, WHO menyarankan agar bayi yang baru lahir diperiksa untuk kemungkinan TBC.Jika bayi tampak sehat tetapi lahir dari ibu dengan TBC paru yang terkonfirmasi bakteriologis, bayi dapat memerlukan terapi pencegahan setelah TBC aktif disingkirkan.
Bukan karena ASI berbahaya, tetapi karena bayi, terutama bayi baru lahir, sistem imunnya belum matang. Paparan dekat dengan orang dewasa yang masih menular membuat bayi perlu dipantau lebih ketat.
WHO juga menyebut vaksin BCG pada bayi yang terpapar TBC dapat ditunda sampai evaluasi atau terapi pencegahan selesai, karena vaksin BCG dapat mengganggu interpretasi tes tertentu untuk infeksi TBC.
5. Obat TBC dan ASI umumnya kompatibel, tetapi tetap perlu pemantauan
Kekhawatiran lain adalah apakah obat TBC bisa membahayakan bayi lewat ASI. Kadar isoniazid dalam ASI rendah dan kecil kemungkinan menyebabkan efek samping pada bayi, tetapi bayi tetap perlu dipantau untuk kemungkinan kuning atau jaundice (jarang terjadi). Ibu yang mengonsumsi isoniazid juga dianjurkan mendapat piridoksin atau vitamin B6.
Rifampisin juga ditemukan dalam kadar rendah di ASI dan tidak diharapkan menimbulkan efek merugikan pada bayi yang disusui. Namun, jumlahnya tidak cukup untuk mengobati TBC pada bayi.
Sebuah critical review menegaskan bahwa data kadar obat TBC dalam ASI masih terbatas untuk beberapa obat, terutama obat TBC resistan obat. Karena itu, ibu dengan TBC resistan obat, bayi prematur, bayi dengan penyakit hati, atau bayi yang tampak kuning perlu pemantauan lebih ketat.
Ibu, lakukan ini

Jika ibu menyusui didiagnosis TBC, langkah paling aman adalah segera mulai pengobatan TBC dan patuh minum obat sesuai arahan dokter.
Jangan menghentikan obat karena takut ASI “tercemar”. Pengobatan justru menjadi cara utama untuk menurunkan risiko penularan ke bayi.
Saat masih dalam masa menular, pakai masker saat dekat bayi, cuci tangan sebelum menyusui atau memerah ASI, tutup mulut saat batuk, buang tisu dengan benar, dan pastikan ruangan memiliki sirkulasi udara yang baik.
Apabila dokter menyarankan jeda menyusui langsung, ibu tetap bisa memerah ASI agar produksi ASI terjaga.
Kesimpulannya, ibu dengan TBC tidak otomatis harus berhenti menyusui. ASI tetap bisa menjadi sumber nutrisi penting bagi bayi. Yang perlu dikelola adalah risiko penularan lewat udara, kecocokan obat, status menular ibu, dan perlindungan untuk bayi.
Dengan pengobatan yang tepat dan pemantauan tenaga kesehatan, banyak ibu dengan TBC tetap dapat menyusui bayinya dengan aman.
Referensi






![[QUIZ] Dari Posisi Tidur, Cek Risiko Kesehatan yang Mengintai](https://image.idntimes.com/post/20260705/img_8137_dedfcc13-95a2-4841-9ff2-ca5acb04b06c.jpeg)








![[QUIZ] Cek Risiko Asam Urat dari Kebiasaan Harianmu](https://image.idntimes.com/post/20251103/pexels-paolino96-19732424_c24e0d2d-9f5c-4e78-9d55-f52e73ccc966.jpg)






