Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Suplemen dan Obat yang Tidak Boleh Dikonsumsi Bareng Vitamin C

4 Suplemen dan Obat yang Tidak Boleh Dikonsumsi Bareng Vitamin C
ilustrasi obat-obatan (pexels.com/Polina Tankilevitch)
Intinya Sih
  • Vitamin C sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan vitamin B12 karena dapat menurunkan penyerapannya; beri jeda minimal dua jam agar fungsi keduanya tetap optimal.
  • Kombinasi vitamin C dengan tembaga atau obat mengandung aluminium bisa mengurangi penyerapan mineral dan meningkatkan risiko gangguan ginjal, sehingga perlu jarak waktu konsumsi.
  • Mengonsumsi vitamin C bersama vitamin B3 dan statin dapat menurunkan efektivitas pengelolaan kolesterol; konsultasi dokter disarankan sebelum menggabungkan suplemen ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Vitamin C menjadi suplemen makanan yang populer dikonsumsi masyarakat luas. Pasalnya vitamin ini bisa membantu menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit. Meski cenderung aman dikonsumsi setiap hari sesuai dengan dosis yang disarankan, vitamin C juga tidak boleh dikonsumsi sembarangan berbarengan dengan suplemen atau obat-obatan lain karena bisa mempengaruhi penyerapan, efektivitas, dan keamanannya.

Apa saja suplemen atau obat-obatan yang tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan vitamin C? Inilah daftarnya beserta alasan ilmiah di baliknya. Simak sampai tuntas!

1. Vitamin B12

ilustrasi minum obat (pexels.com/Castorly Stock)
ilustrasi minum obat (pexels.com/Castorly Stock)

Vitamin B12 adalah bentuk vitamin B yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah, fungsi saraf, hingga metabolisme protein. Konsumsi vitamin C bersamaan dengan vitamin B12 dosis tinggi diketahui dapat menurunkan kadar vitamin B12 tertentu seperti cyanocobalamin di dalam tubuh, begitu pula dengan penyerapannya di usus. Jadi, para ahli menyarankan untuk mengonsumsinya secara terpisah dengan memberi jarak beberapa jam untuk meminimalkan interaksi tersebut.

Melalui laman Good House Keeping, dokter Brynna Connor, MD menyarankan mengonsumsinya sesuai urutan abjad, yaitu konsumsi vitamin B12 terlebih dahulu dan memberi jarak setidaknya dua jam untuk mengonsumsi vitamin C. Masih dari laman yang sama, disebutkan bahwa vitamin C menciptakan lingkungan asam. Jadi, mengonsumsinya bersamaan dengan vitamin B12 bisa merusak vitamin tersebut sebelum sempat menjalankan fungsinya.

2. Tembaga

Obat, suplemen
ilustrasi suplemen dan vitamin C (pexels.com/Gundula Vogel)

Tembaga atau copper adalah mineral penting yang berfungsi untuk pembentukan sel darah merah, produksi energi, hingga fungsi vital sistem kekebalan tubuh. Konsumsi tembaga bersamaan dengan suplemen vitamin C dilaporkan dapat menurunkan ketersediaan tembaga. Dilansir Verywell Health, vitamin C dapat mengikat tembaga sehingga mengurangi penyerapan mineral tersebut di dalam tubuh.

Interaksi tersebut berpotensi menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan ginjal pada penggunaan dosis tinggi. Para ahli menyarankan, jika kamu harus mengonsumsi kedua suplemen tersebut, sebaiknya beri jeda sekitar dua jam. Selain itu, hindari konsumsi dosis besar, kecuali diresepkan oleh dokter.

3. Aluminium

ilustrasi obat (pexels.com/Polina Tankilevitch)
ilustrasi obat (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Aluminium bukan suplemen makanan seperti halnya vitamin B12 atau tembaga. Akan tetapi, unsur ini umum dijumpai pada obat-obatan yang dijual bebas, seperti antasida dan warfarin (obat pengencer darah). Konsumsi vitamin C dan obat mengandung aluminium bersamaan bisa meningkatkan jumlah aluminium yang diserap tubuh. Di mana, ini bisa meningkatkan risiko paparan berlebih aluminium tersebut.

Kabar buruknya, paparan aluminium yang tinggi bisa berisiko terhadap kesehatan ginjal dan potensi menimbulkan masalah kesehatan lainnya. Jika kamu mengonsumsi vitamin C dan menggunakan obat yang mengandung aluminium, sebaiknya beri jeda antara konsumsi keduanya. Ada pun beberapa merek antasida yang mengandung aluminium, seperti Mylanta, Gaviscon, dan Antasida Doen.

4. Vitamin B3

ilustrasi obat kapsul (pexels.com/Deise Elen)
ilustrasi obat kapsul (pexels.com/Deise Elen)

Vitamin B3 atau niasin ketika dikombinasikan dengan statin bisa membantu mengelola kolesterol tinggi. Namun, mengonsumsi vitamin C bersama niasin dan statin bisa mengurangi efektivitas obat tersebut sehingga mencegah peningkatan kadar HDL (kolesterol “baik”). Tidak jelas apakah interaksi yang sama juga dapat terjadi ketika dikonsumsi secara terpisah. Namun untuk berhati-hati, sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengambil suplemen dan obat ini bersamaan.

Sama seperti suplemen atau obat-obatan lain, suplemen vitamin C juga bisa berinteraksi dengan beberapa obat lain. Jadi, jika kamu mengonsumsi vitamin C, ada baiknya ketahui terlebih dahulu apa saja yang bisa dikombinasikan dan tidak bisa dikombinasikan bersama vitamin tersebut. Tujuannya biar bisa mendapatkan manfaatnya secara maksimal dan mencegah potensi risiko yang ditimbulkan.

Referensi

“5 Supplements and Medications Not to Mix with Vitamin C”. Health. Diakses pada April 2026.

“3 Supplements to Avoid Mixing with Vitamin C”. Verywell Health. Diakses pada April 2026.

“7 Vitamin C Interactions to Be Aware of”. GoodRx. Diakses pada April 2026.

“5 Vitamin and Supplement Combinations You Should Avoid, According to Dietitians”. Good Housekeeping. Diakses pada April 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Health

See More