- Sedot lemak (liposuction).
- Tummy tuck (abdominoplasti).
- Brazilian butt lift (BBL).
- Pembesaran payudara.
Liburan Sekalian Operasi Plastik? Para Ahli Ungkap Risikonya

- CDC menyoroti meningkatnya komplikasi pascaoperasi kosmetik yang dilakukan saat traveling, terutama infeksi akibat standar keselamatan fasilitas kesehatan yang tidak memadai.
- Penelitian menemukan 145 pasien alami komplikasi, mayoritas infeksi nontuberculous mycobacteria (NTM) yang sulit didiagnosis dan butuh perawatan panjang seperti operasi tambahan serta antibiotik berbulan-bulan.
- Para ahli menekankan pentingnya edukasi sebelum operasi kosmetik di luar daerah, termasuk memastikan akreditasi klinik, rencana kontrol pascaoperasi, dan kesiapan menghadapi risiko komplikasi.
Traveling untuk menjalani operasi kosmetik bukan lagi fenomena langka. Banyak orang terbang ke provinsi, atau bahkan negara lain, untuk mendapatkan prosedur yang dianggap lebih bagus, lebih terjangkau, atau lebih menarik dibandingkan layanan di tempat tinggal mereka. Fenomena ini dikenal sebagai bagian dari medical tourism atau wisata medis.
Namun, di balik kesuksesan "before-after", ada risiko yang sering luput dari pertimbangan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) baru-baru ini menyoroti meningkatnya komplikasi yang berkaitan dengan prosedur kosmetik yang dilakukan saat traveling.
Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases, para peneliti menemukan bahwa perjalanan untuk menjalani operasi kosmetik dapat meningkatkan risiko komplikasi pascaoperasi, terutama infeksi.
Menurut penulis utama studi tersebut, Kiara McNamara, seorang perawat epidemiolog dari CDC, makin banyak orang menjalani prosedur medis di luar tempat tinggal mereka, tetapi tidak semua paham risiko yang bisa muncul setelah operasi selesai. Yang jadi persoalan, komplikasi sering baru muncul saat pasien sudah pulang ke rumah.
Table of Content
Infeksi menjadi ancaman yang paling sering terjadi
Dalam studi ini, para peneliti meninjau konsultasi yang dikirimkan berbagai departemen kesehatan kepada CDC selama periode 2014–2024. Mereka mencari laporan terkait warga Amerika Serikat (AS) yang melakukan perjalanan untuk menjalani prosedur kosmetik seperti:
Hasilnya, para peneliti menemukan 21 laporan yang melibatkan sekitar 145 pasien yang mengalami komplikasi setelah menjalani operasi kosmetik di pusat bedah domestik maupun internasional. Dari 21 laporan tersebut, 20 berkaitan dengan infeksi pascaoperasi.
Yang menjadi perhatian, sebagian besar kasus diduga melibatkan kelompok bakteri yang disebut nontuberculous mycobacteria (NTM).
Beda dengan bakteri penyebab tuberkulosis, NTM hidup secara alami di lingkungan, termasuk di air dan tanah. Dalam konteks operasi, bakteri ini dapat masuk ke tubuh melalui peralatan yang tidak steril atau paparan air yang terkontaminasi selama prosedur kosmetik berlangsung.
Infeksi akibat NTM bukan infeksi biasa. Gejalanya bisa muncul berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah operasi. Pasien dapat mengalami:
- Kemerahan pada area operasi.
- Nyeri yang tidak kunjung membaik.
- Luka yang sulit sembuh.
- Keluar cairan dari bekas operasi.
- Benjolan atau abses di bawah kulit
Karena gejalanya sering menyerupai infeksi luka biasa, diagnosis bisa terlambat. Akibatnya, pasien mungkin membutuhkan operasi tambahan, rawat inap, hingga antibiotik selama beberapa bulan.
Dalam beberapa investigasi yang dikaji CDC, petugas kesehatan juga menemukan praktik pengendalian infeksi yang tidak memadai. Masalah ditemukan pada prosedur pembersihan alat, penggunaan alat pelindung diri, kebersihan tangan, hingga proses sterilisasi peralatan bedah.
Pendeknya, risiko tidak selalu berasal dari tindakan operasinya, tetapi juga bisa dari standar keselamatan yang diterapkan fasilitas kesehatan tempat prosedur kosmetik dilakukan.
Mengapa komplikasi sering terlambat terdeteksi?

Salah satu tantangan dalam medical tourism adalah putusnya kesinambungan perawatan.
Jika operasi dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal, pasien biasanya memiliki akses mudah untuk kontrol pascaoperasi. Dokter pun dapat memantau proses penyembuhan dan segera bertindak jika muncul masalah.
Situasinya berbeda ketika pasien harus terbang ratusan atau ribuan kilometer untuk menjalani prosedur. Begitu operasi selesai, tidak sedikit pasien langsung pulang. Ketika muncul keluhan beberapa minggu kemudian, dokter yang menangani komplikasi sering kali berbeda dengan dokter yang melakukan operasi. Akibatnya, investigasi menjadi lebih sulit.
Peneliti CDC bahkan menilai bahwa jumlah kasus yang dilaporkan kemungkinan jauh lebih rendah daripada kondisi sebenarnya. Banyak komplikasi tidak tercatat karena pasien tidak melaporkannya, fasilitas kesehatan tidak melakukan pemantauan jangka panjang, atau infeksi dianggap sebagai kasus yang berdiri sendiri.
Karena itu, para peneliti menekankan pentingnya edukasi sebelum seseorang memutuskan menjalani operasi kosmetik saat traveling.
Ada beberapa pertanyaan penting yang sebaiknya diajukan sebelum mengambil keputusan:
- Apakah fasilitas kesehatan yang dituju memiliki standar akreditasi yang jelas?
- Siapa yang akan menangani kontrol pascaoperasi?
- Bagaimana prosedur jika terjadi komplikasi setelah pulang?
- Apakah dokter bedah memiliki sertifikasi yang dapat diverifikasi?
- Apakah tersedia akses terhadap rekam medis jika dibutuhkan di kemudian hari?
Bagi banyak orang, biaya memang menjadi pertimbangan utama. Namun, ketika komplikasi terjadi, biaya pengobatan tambahan, waktu kerja yang hilang, hingga dampak psikologis bisa lebih besar dibanding penghematan yang diperoleh di awal.
Jangan cuma melihat review layanan operasi kosmetik di suatu klinik, tetapi juga pertimbangkan keamanan prosedur, kualitas fasilitas, dan kesinambungan perawatan setelah operasi karena itu semua juga penting. Harga yang lebih murah atau paket promo mungkin terlihat menarik di awal, tetapi risiko konsekuensi kesehatannya bisa jadi jauh lebih mahal.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). "About Nontuberculous Mycobacteria (NTM)." Diakses Juni 2026.
CDC. "CDC Highlights Adverse Outcomes Linked to Travel-Related Cosmetic Procedures." Diakses Juni 2026.
CDC. "Medical Tourism." Diakses Juni 2026.
McNamara K, Rowh A, Stoney R, et al. Adverse Outcomes of Travel-Related Cosmetic Procedures among US Residents, 2014–2024. Emerging Infectious Diseases. 2026;32(6):1003-1007. doi:10.3201/eid3206.251883.
![[QUIZ] Outfit Lari Favoritmu Bisa Ungkap Sifat Aslimu, Cek di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20260203/pexels-pexels-latam-478514802-17979561_6765dd90-2ab9-4046-b7a4-2a6ac5538aef.jpg)








![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kondisi Mentalmu dari Musik Kamu Sebelum Tidur](https://image.idntimes.com/post/20250531/happy-young-woman-listening-music-bed-23-2147987843-d1d5b73e706dec953faaf651f6eb0051-040c38836cbed3098e7d1f34d34544ca.jpg)







![[QUIZ] Apa Fitness Love Language Kamu? Jawab 1 Pertanyaan Ini](https://image.idntimes.com/post/20250720/pexels-cottonbro-5319375_54dd0954-3c95-4bb3-a55b-57a4451ade0f.jpg)
