Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Tanda Tubuh Kebanyakan Asam Urat, Jangan Disepelekan

7 Tanda Tubuh Kebanyakan Asam Urat, Jangan Disepelekan
ilustrasi nyeri di kaki akibat kadar asam urat tinggi (unsplash.com/imani bahati)
Intinya Sih
  • Asam urat terbentuk dari pemecahan purin dan dapat menumpuk jika produksi berlebih atau ginjal tidak mampu membuangnya, menyebabkan hiperurisemia yang berisiko memicu gout dan gangguan ginjal.
  • Tanda kelebihan asam urat meliputi nyeri sendi mendadak, jempol kaki bengkak, kekakuan sendi, munculnya tofi, batu ginjal berulang, hingga penurunan fungsi ginjal tanpa gejala awal.
  • Pemeriksaan kadar asam urat penting dilakukan rutin, terutama bagi yang memiliki faktor risiko seperti obesitas, hipertensi, diabetes tipe 2, penyakit ginjal, atau riwayat keluarga gout.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Asam urat adalah zat sisa yang terbentuk ketika tubuh memecah purin, senyawa yang secara alami ada alam tubuh dan berbagai jenis makanan. Normalnya, asam urat akan larut dalam darah, disaring oleh ginjal, lalu dikeluarkan melalui urine. Masalah muncul ketika tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat atau ginjal tidak mampu membuangnya secara efektif. Akibatnya, kadar asam urat dalam darah meningkat dan terjadilah hiperurisemia (kondisi ketika kadar asam urat di dalam tubuh melebihi batas normal).

Kadar asam urat tinggi tidak selalu menimbulkan keluhan. Banyak orang hidup bertahun-tahun dengan hiperurisemia tanpa gejala. Namun, ketika kadar asam urat terus meningkat, kristal monosodium urat dapat mulai mengendap di sendi, jaringan lunak, dan ginjal. Ketika ini terjadi, tubuh mulai memberikan berbagai tanda-tanda.

Table of Content

1. Nyeri mendadak yang sangat hebat

1. Nyeri mendadak yang sangat hebat

Ini merupakan tanda paling klasik dari gout, yaitu penyakit yang terjadi akibat penumpukan kristal asam urat.

Nyeri biasanya muncul tiba-tiba, sering kali pada malam hari atau dini hari. Banyak pasien menggambarkannya sebagai salah satu rasa sakit paling intens yang pernah mereka alami.

Kristal asam urat memicu respons inflamasi yang sangat kuat. Sistem imun menganggap kristal tersebut sebagai benda asing dan mengaktifkan berbagai mediator peradangan. Akibatnya, sendi menjadi sangat nyeri bahkan ketika cuma tersentuh selimut atau seprai. Serangan bisa berlangsung selama beberapa hari hingga dua minggu sebelum mereda.

2. Jempol kaki bengkak, merah, dan terasa panas

Sekitar setengah dari serangan gout pertama terjadi pada sendi pangkal jempol kaki, kondisi yang dikenal sebagai podagra.

Alasannya, suhu di ujung tubuh cenderung lebih rendah dibanding bagian tubuh lain. Kristal asam urat lebih mudah terbentuk pada suhu yang lebih dingin, sehingga jempol kaki menjadi lokasi favorit pengendapan kristal.

Saat serangan terjadi, sendi tampak bengkak, kemerahan, mengilap, dan terasa hangat saat disentuh. Beberapa penderita bahkan kesulitan berjalan karena nyeri yang sangat intens.

Meski jempol kaki merupakan lokasi paling umum, tetapi serangan juga dapat terjadi pada pergelangan kaki, lutut, siku, pergelangan tangan, dan jari tangan.

3. Nyeri sendi yang datang dan pergi berulang kali

Seseorang mengenakan kemeja bergaris memegang jari tangannya yang tampak nyeri akibat kadar asam urat tinggi di area persendian.
ilustrasi nyeri di jari tangan akibat kadar asam urat tinggi (unsplash.com/Towfiqu Barbhuiya)

Pada tahap awal, serangan gout biasanya bersifat episodik. Seseorang mungkin mengalami nyeri hebat selama beberapa hari, kemudian gejala menghilang sepenuhnya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Akhirnya, kondisi ini sering dikira sembuh sendiri, padahal kristal asam urat tetap berada di dalam tubuh dan perlahan terus bertambah.

Tanpa pengelolaan yang tepat, interval bebas gejala cenderung makin pendek dan serangan bisa terjadi lebih sering.

Jadi, nyeri sendi berulang yang muncul tiba-tiba dan hilang sendiri sebaiknya tidak dianggap sebagai keluhan biasa.

4. Sendi menjadi kaku dan sulit digerakkan

Seiring waktu, penumpukan kristal asam urat dapat menyebabkan peradangan kronis. Peradangan yang berlangsung lama berpotensi merusak tulang rawan, tulang, dan struktur sendi lainnya. Akibatnya, seseorang mulai mengalami keterbatasan gerak.

Sendi mungkin terasa kaku saat bangun tidur atau sulit ditekuk dan diluruskan seperti sebelumnya.

Pada kasus yang lebih lanjut, kerusakan sendi dapat menjadi permanen dan memengaruhi aktivitas sehari-hari, mulai dari berjalan hingga menggenggam benda.

5. Muncul benjolan keras di bawah kulit (tofi)

Ketika kadar asam urat tinggi berlangsung selama bertahun-tahun, kristal dapat membentuk gumpalan yang disebut tofi.

Tofi biasanya muncul sebagai benjolan keras di bawah kulit. Lokasi yang sering terkena antara lain jari tangan, jari kaki, siku, lutut, tumit, dan daun telinga.

Awalnya, benjolan ini tidak selalu terasa sakit. Namun, ukuran tofi dapat terus membesar dan menyebabkan gangguan fungsi maupun perubahan bentuk sendi.

Keberadaan tofi menunjukkan bahwa penumpukan kristal asam urat sudah berlangsung cukup lama dan memerlukan penanganan medis yang lebih agresif.

6. Batu ginjal yang berulang

Seorang pria duduk di tepi tempat tidur sambil memegangi punggung bagian bawah dan tampak kesakitan akibat sakit pinggang.
ilustrasi sakit pinggang akibat batu ginjal (magnific.com/gpointstudio)

Tidak semua kristal asam urat mengendap di sendi. Sebagian dapat terbentuk di saluran kemih dan berkembang menjadi batu ginjal. Diperkirakan sekitar 10–20 persen batu ginjal berkaitan dengan asam urat.

Tanda-tandanya meliputi nyeri hebat pada pinggang atau punggung bawah, nyeri saat buang air kecil, urine berwarna kemerahan, mual, dan muntah.

Beberapa orang bahkan baru tahu kadar asam uratnya tinggi setelah mengalami batu ginjal berulang. Karena itu, riwayat batu ginjal dapat menjadi petunjuk penting bahwa tubuh mengalami masalah dalam metabolisme atau pembuangan asam urat.

7. Gangguan fungsi ginjal

Ginjal merupakan organ utama yang bertugas membuang sekitar dua pertiga asam urat dari tubuh. Ketika kadar asam urat terlalu tinggi dalam waktu lama, beban kerja ginjal dapat meningkat. Selain itu, kristal asam urat juga dapat mengendap di jaringan ginjal.

Hubungan antara hiperurisemia dan penyakit ginjal kronis masih terus diteliti. Namun, sejumlah studi menunjukkan bahwa kadar asam urat yang tinggi sering ditemukan pada individu dengan penurunan fungsi ginjal.

Yang perlu diwaspadai, gangguan ginjal pada tahap awal sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Pemeriksaan laboratorium menjadi cara terbaik untuk memantau kondisi ini.

Tanda yang paling sering terlewat: tidak ada gejala sama sekali

Menurut data epidemiologi global, sebagian besar individu dengan kadar asam urat tinggi tidak mengalami gout maupun batu ginjal saat diagnosis pertama ditegakkan. Namun, kondisi tanpa gejala bukan berarti aman. Risiko pembentukan kristal tetap ada jika kadar asam urat terus naik dan berlangsung lama.

Maka dari itu penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko seperti obesitas, hipertensi, diabetes tipe 2, penyakit ginjal, riwayat keluarga gout, atau pola makan tinggi purin.

Kapan harus memeriksakan diri?

Seorang dokter mengenakan jas putih dan stetoskop sedang menjelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien di ruang konsultasi medis.
ilustrasi konsultasi dengan dokter (pexels.com/cottonbro studio)

Segera temui dokter jika mengalami:

  • Nyeri sendi mendadak yang sangat hebat.
  • Sendi bengkak, merah, dan terasa panas.
  • Nyeri sendi berulang tanpa penyebab jelas.
  • Muncul benjolan keras di sekitar sendi.
  • Batu ginjal yang berulang.
  • Riwayat keluarga gout dengan kadar asam urat tinggi.

Pemeriksaan darah dapat membantu mengetahui kadar asam urat. Evaluasi tambahan mungkin diperlukan untuk memastikan apakah kristal asam urat sudah menyebabkan komplikasi.

Yang perlu diingat, tujuan utama bukan cuma menurunkan angka asam urat di hasil laboratorium, melainkan mencegah terbentuknya kristal yang dapat merusak sendi dan organ lain di masa depan.

Referensi

Nicola Dalbeth, Tony R Merriman, and Lisa K Stamp, “Gout,” The Lancet 388, no. 10055 (April 27, 2016): 2039–52, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(16)00346-9.

John D. FitzGerald et al., “2020 American College of Rheumatology Guideline for the Management of Gout,” Arthritis Care & Research 72, no. 6 (May 11, 2020): 744–60, https://doi.org/10.1002/acr.24180.

Peter Mandl et al., “2023 EULAR Recommendations on Imaging in Diagnosis and Management of Crystal-induced Arthropathies in Clinical Practice,” Annals of the Rheumatic Diseases 83, no. 6 (February 6, 2024): 752–59, https://doi.org/10.1136/ard-2023-224771.

Tuhina Neogi, “Gout,” New England Journal of Medicine 364, no. 5 (February 2, 2011): 443–52, https://doi.org/10.1056/nejmcp1001124.

National Kidney Foundation. "Uric Acid Stones." Diakses Juni 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. "Gout." Diakses Juni 2026.

Thomas Bardin and Pascal Richette, “Definition of Hyperuricemia and Gouty Conditions,” Current Opinion in Rheumatology 26, no. 2 (January 14, 2014): 186–91, https://doi.org/10.1097/bor.0000000000000028.

Richard J. Johnson et al., “Hyperuricemia, Acute and Chronic Kidney Disease, Hypertension, and Cardiovascular Disease: Report of a Scientific Workshop Organized by the National Kidney Foundation,” American Journal of Kidney Diseases 71, no. 6 (February 27, 2018): 851–65, https://doi.org/10.1053/j.ajkd.2017.12.009.

National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS). "Gout." Diakses Juni 2026.

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More