Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko karies meskipun konsumsi makanan manis relatif jarang:
Plak tidak terangkat sempurna. Bakteri dan sisa makanan dapat bertahan di sela gigi, tepi gusi, serta lekukan gigi geraham.
Pasta gigi tidak mengandung fluorida. Fluorida membantu memperkuat email, mengganti mineral yang hilang, dan mengurangi kemampuan bakteri menghasilkan asam.
Mulut kering. Air liur membantu membersihkan sisa makanan dan memasok mineral bagi gigi. Produksi air liur dapat menurun akibat obat-obatan tertentu, penyakit, atau terapi kanker. Mulut kering yang menetap meningkatkan risiko karies.
Bentuk gigi sulit dibersihkan. Lekukan geraham yang dalam, gigi berjejal, atau area di sekitar tambalan dapat menjadi tempat plak dan makanan tertahan.
Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dengan menghindari makanan atau minuman manis. Perhatikan pula frekuensi nyemil, kandungan gula pada produk kemasan, kebersihan sela gigi, serta keluhan mulut kering. Menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluorida dan cek kesehatan gigi berkala membantu menemukan kerusakan sejak dini.
Referensi
Nigel B. Pitts et al., “Dental Caries,” Nature Reviews Disease Primers 3 (2017): 17030, https://doi.org/10.1038/nrdp.2017.30.
National Institute of Dental and Craniofacial Research, “The Tooth Decay Process: How to Reverse It and Avoid a Cavity,” diakses September 2026.
Sarah Hancock, Caryn Zinn, and Grant Schofield, “The Consumption of Processed Sugar- and Starch-Containing Foods, and Dental Caries: A Systematic Review,” European Journal of Oral Sciences 128, no. 6 (2020): 467–75, https://doi.org/10.1111/eos.12743.
World Health Organization, “Sugars and Dental Caries,” diakses September 2026.
National Institute of Dental and Craniofacial Research, “Dry Mouth,” diakses September 2026.