Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tips Memilih Sepatu Haji agar Kaki Tidak Lecet dan Bengkak
Jemaah haji mulai lempar jumrah Aqabah usai bermalam di Muzdalifah. (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)
  • Sepatu atau sandal yang tidak pas ukuran dan kurang menopang telapak kaki dapat meningkatkan risiko lecet, nyeri, hingga cedera selama haji.

  • Jemaah haji berjalan sangat jauh setiap hari, sering kali di cuaca panas dan permukaan keras, sehingga alas kaki yang nyaman dan stabil menjadi sangat penting.

  • Jemaah dengan diabetes, obesitas, atau usia lanjut perlu lebih berhati-hati karena lebih rentan mengalami luka dan komplikasi pada kaki.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap pemilihan alas kaki bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap kesehatan dan kesiapan fisik selama ibadah haji. Dengan panduan yang rinci tentang ukuran, bahan, dan cara adaptasi sepatu, jemaah memiliki kesempatan lebih besar untuk beribadah dengan tenang, aman, dan bebas dari gangguan kaki.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Langkah kaki saat haji bisa terasa berat. Dalam satu hari, jemaah bisa berjalan beberapa kilometer, berdiri lama, berpindah lokasi, hingga berdesakan di tengah cuaca panas. Di tengah semua itu, alas kaki sering dianggap hal sepele, padahal justru bisa menjadi penentu ibadah akan terasa lancar atau diwarnai rasa sakit.

Tidak sedikit jemaah yang baru sadar sepatu atau sandalnya bermasalah saat kaki mulai lecet, bengkak, atau nyeri di hari-hari awal. Ketika telapak kaki sudah terluka, aktivitas harian seperti berjalan dari hotel ke masjid bisa terasa menyakitkan. Karena itu, memilih alas kaki yang akan memengaruhi kesehatan dan kemampuan tubuh bertahan selama ibadah haji.

Mengapa alas kaki haji sangat penting?

Ibadah haji menuntut aktivitas fisik yang tinggi. Jemaah bisa berjalan jauh di permukaan keras, panas, dan licin, sering kali sambil membawa tas atau perlengkapan lain. Kondisi ini meningkatkan tekanan berulang pada telapak kaki, tumit, pergelangan kaki, dan lutut.

Masalah kaki merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami jemaah haji dan umrah. Lecet, kram, keseleo, nyeri telapak kaki, hingga luka terbuka banyak terjadi akibat berjalan terlalu jauh dan memakai alas kaki yang tidak sesuai. Studi pada jemaah umrah tahun 2024 menemukan bahwa 46 persen peserta mengalami masalah pada kaki, dengan cedera seperti sprain (keseleo), strain (robekan atau peregangan berlebih pada otot atau tendon), dan nyeri otot paling sering terjadi.

Penelitian lain pada jemaah haji menunjukkan bahwa sekitar 31 persen mengalami lepuh atau lecet pada kaki. Risiko ini lebih tinggi pada perempuan, lansia, orang dengan obesitas, dan orang dengan diabetes.

Tips memilih sepatu atau sandal haji yang lebih aman

Jemaah haji Indonesia saat hendak menuju Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.(Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

  • Pilih ukuran yang benar-benar pas

Sepatu yang terlalu sempit dapat menekan jari dan memicu lecet. Sebaliknya, sepatu yang terlalu longgar bikin kaki mudah bergeser sehingga gesekan meningkat.

Idealnya, ada sedikit ruang sekitar 0,5 hingga 1 sentimeter (cm) di depan jari kaki. Ukuran kaki juga cenderung membesar saat cuaca panas atau setelah berjalan lama, jadi jangan memilih alas kaki yang terlalu presisi.

  • Utamakan bantalan yang empuk, tetapi tetap stabil

Banyak orang tergoda memilih sandal tipis karena terasa ringan. Padahal, sol yang terlalu tipis membuat telapak kaki menerima tekanan lebih besar dari permukaan keras dan panas.

Pilih alas kaki dengan bantalan yang cukup empuk pada tumit dan telapak depan, tetapi tidak terlalu lembek hingga kaki terasa goyah. Dukungan pada lengkung kaki juga penting, terutama bagi orang yang memiliki telapak kaki datar atau mudah nyeri.

  • Cari bahan yang ringan dan mudah menyerap keringat

Kaki yang lembap lebih mudah lecet dan lebih rentan terkena infeksi jamur. Karena itu, pilih bahan yang breathable atau memiliki sirkulasi udara baik.

Untuk sepatu tertutup, bahan mesh atau kain yang ringan biasanya lebih nyaman dibanding bahan sintetis tebal. Untuk sandal, pilih bahan yang tidak membuat kulit mudah berkeringat berlebihan dan tidak kasar di bagian tali.

  • Hindari alas kaki baru saat berangkat

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah membeli sepatu atau sandal baru lalu langsung dipakai saat haji. Alas kaki baru biasanya masih kaku dan belum mengikuti bentuk kaki.

Gunakan sepatu atau sandal tersebut setidaknya beberapa minggu sebelum keberangkatan. Pakai untuk berjalan jauh, naik turun tangga, atau latihan fisik ringan agar kaki terbiasa dan kamu bisa mengetahui apakah ada bagian yang menekan atau memicu lecet.

Banyak pelari dan pejalan jarak jauh menyebut proses ini sebagai “break-in period”, yaitu masa adaptasi antara kaki dan alas kaki. Komunitas jemaah haji juga sering menekankan pentingnya memakai sandal yang sudah dicoba berkali-kali sebelum keberangkatan.

  • Bawa lebih dari satu jenis alas kaki

Satu alas kaki saja sering kali tidak cukup. Banyak jemaah merasa lebih nyaman memiliki satu sandal terbuka untuk area tertentu dan satu sepatu atau sandal yang lebih suportif untuk jalan jauh.

Sandal jepit tipis mungkin praktis, tetapi kurang ideal jika dipakai berjalan berjam-jam. Sebaliknya, sepatu tertutup bisa terasa terlalu panas jika digunakan terus-menerus.

Karena itu, memiliki cadangan alas kaki juga penting jika alas kaki utama basah, rusak, atau mulai terasa tidak nyaman.

  • Perhatikan aturan alas kaki saat ihram

Untuk laki-laki yang sedang ihram, ada aturan tertentu terkait alas kaki. Umumnya, sandal tidak boleh menutupi mata kaki dan bagian atas kaki secara penuh. Karena itu, model sandal terbuka sering menjadi pilihan yang lebih praktis.

Untuk perempuan, pilihan alas kaki cenderung lebih fleksibel. Namun, prinsip kenyamanan dan keamanan tetap sama: hindari alas kaki yang licin, terlalu keras, atau membuat kaki cepat lelah.

Siapa yang perlu ekstra hati-hati?

Jemaah dengan diabetes perlu lebih waspada karena luka kecil di kaki bisa berkembang menjadi infeksi yang serius. Pada jemaah dengan diabetes, sensasi nyeri kadang berkurang sehingga lecet atau luka tidak langsung terasa.

Penelitian menunjukkan, jemaah yang memiliki diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami kapalan, lecet, dan luka pada kaki selama haji. Karena itu, mereka sebaiknya memeriksa kaki setiap hari, memakai alas kaki yang benar-benar pas, dan tidak berjalan tanpa alas kaki terlalu lama.

Selain diabetes, lansia, orang dengan obesitas, gangguan sirkulasi, atau riwayat nyeri sendi juga sebaiknya mempertimbangkan alas kaki dengan bantalan lebih baik dan dukungan tambahan pada lengkung kaki.

Pada akhirnya, sepatu atau sandal haji yang tepat tidak harus mahal atau bermerek terkenal. Yang paling penting adalah nyaman, pas di kaki, tidak licin, dan mampu menopang tubuh saat berjalan jauh.

Kaki yang sehat akan sangat membantu jemaah menjalani rangkaian ibadah dengan lebih nyaman. Karena itu, persiapan alas kaki sebaiknya dilakukan sejak jauh-jauh hari, sama pentingnya dengan latihan fisik, vaksinasi, dan perlengkapan lainnya.

Referensi

Shruti Sridhar et al., “Foot Ailments During Hajj: A Short Report,” Journal of Epidemiology and Global Health 5, no. 3 (January 1, 2015): 291, https://doi.org/10.1016/j.jegh.2014.12.007.

Mohammad Alfelali et al., “Foot Injuries Among Hajj Pilgrims With and Without Diabetes Mellitus: Implications for Infection Management,” Infectious Disorders - Drug Targets 14, no. 2 (October 31, 2014): 140–47, https://doi.org/10.2174/1871526514666140713160413.

Abdulaziz Almqaiti et al., “Prevalent Foot Injuries Among Pilgrims During 2023 Hajj Season: A Cross-sectional Study,” Journal of Umm Al-Qura University for Medical Sciences 10, no. 2 (December 30, 2024): 46–54, https://doi.org/10.54940/ms58858836.

Ghadah Sulaiman Alsaleh et al., “Prevalence of Foot Diseases and Injuries and Their Associations With Demographic and Health-Related Factors Among Umrah Pilgrims in 2024 G (1445 H),” International Journal of Environmental Research and Public Health 22, no. 9 (September 8, 2025): 1402, https://doi.org/10.3390/ijerph22091402.

Abhishektha Boppana and Allison P. Anderson, “Dynamic Foot Morphology Explained Through 4D Scanning and Shape Modeling,” Journal of Biomechanics 122 (April 25, 2021): 110465, https://doi.org/10.1016/j.jbiomech.2021.110465.

Editorial Team