Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Jemaah Haji Perlu Membawa Oralit?

Apakah Jemaah Haji Perlu Membawa Oralit?
ilustrasi oralit, larutan rehidrasi oral, garam rehidrasi oral (pexels.com/laura adai)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Oralit dapat membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare, muntah, atau keringat berlebihan selama haji.

  • Cuaca panas, aktivitas fisik tinggi, dan risiko gangguan pencernaan membuat jemaah lebih rentan mengalami dehidrasi.

  • Oralit bukan pengganti air putih untuk diminum setiap hari, tetapi sebaiknya tetap dibawa sebagai bagian dari perlengkapan kesehatan pribadi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cuaca panas, tingginya aktivitas fisik, perubahan pola makan, dan jadwal ibadah yang padat membuat banyak jemaah haji lebih rentan mengalami kekurangan cairan. Tidak sedikit yang merasa lemas, pusing, mulut kering, atau sakit kepala karena kurang minum. Pada sebagian orang, dehidrasi juga bisa muncul setelah diare, muntah, atau terlalu banyak berkeringat.

Karena itu, oralit (larutan rehidrasi oral atau garam rehidrasi oral) sering masuk dalam daftar perlengkapan kesehatan yang dianjurkan untuk dibawa saat haji. Oralit memang bukan obat ajaib dan tidak perlu diminum setiap hari, tetapi dalam kondisi tertentu, larutan ini bisa sangat membantu mencegah dehidrasi menjadi lebih berat.

Table of Content

1. Oralit membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang

1. Oralit membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang

Saat tubuh kehilangan banyak cairan, tubuh juga kehilangan elektrolit seperti natrium, kalium, dan klorida yang berperan penting untuk menjaga fungsi otot, saraf, tekanan darah, dan keseimbangan cairan.

Minum air putih memang penting, tetapi dalam kondisi seperti diare atau muntah, air saja kadang tidak cukup untuk mengganti elektrolit yang hilang. Di sinilah oralit dapat membantu. Oralit mengandung kombinasi gula dan garam dalam jumlah tertentu yang membantu tubuh menyerap cairan lebih efektif.

Oralit merupakan salah satu intervensi paling efektif untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi akibat diare. Penelitian juga menunjukkan bahwa larutan oralit dapat membantu menurunkan risiko dehidrasi berat dan mengurangi kebutuhan rawat inap pada orang dengan kehilangan cairan sedang hingga berat.

2. Risiko dehidrasi saat haji cukup tinggi

Jemaah haji hendak melaksanakan lempar jumrah.
Jemaah haji hendak melaksanakan lempar jumrah. (IDN Times/Rochmanudin)

Saat beribadah haji, jemaah terpapar cuaca panas dan kering. Suhu siang hari di Arab Saudi bisa sangat tinggi, terutama di area terbuka seperti Arafah, Mina, atau saat perjalanan menuju Jamarat. Dalam kondisi ini, tubuh kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat dan napas.

Masalahnya, banyak jemaah tidak sadar mereka sudah mulai dehidrasi. Rasa haus sering muncul terlambat. Sebelum merasa haus, tubuh biasanya sudah menunjukkan tanda lain seperti urine lebih pekat, bibir kering, pusing, jantung berdebar, atau mudah lelah.

Penelitian pada jemaah haji menunjukkan bahwa dehidrasi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup sering terjadi, terutama pada lansia dan jemaah dengan penyakit kronis. Risiko meningkat pada mereka yang kurang minum, terlalu lama berada di bawah matahari, atau mengalami diare dan muntah selama perjalanan.

3. Oralit sangat berguna jika mengalami diare

Diare termasuk salah satu keluhan yang cukup sering dialami jemaah haji. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari perubahan pola makan, makanan yang tidak cocok, infeksi saluran cerna, hingga kebersihan makanan dan minuman.

Saat diare, tubuh bisa kehilangan cairan dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Jika tidak segera diganti, kondisi ini dapat menyebabkan lemas, pusing, penurunan tekanan darah, hingga gangguan ginjal, terutama pada lansia.

Dalam kondisi seperti ini, oralit sering kali lebih penting dibanding obat diare. Obat mungkin membantu mengurangi frekuensi buang air besar, tetapi oralit membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang.

4. Tidak harus menunggu diare berat untuk minum oralit

Jemaah haji meminum air zamzam yang diambil di Masjid Nabawi.
Jemaah haji meminum air zamzam yang diambil di Masjid Nabawi. (IDN Times/Sunariyah)

Banyak orang menganggap oralit cuma diperlukan jika diare sudah berat. Padahal, oralit juga bisa dipakai lebih awal saat mulai muncul tanda-tanda kehilangan cairan, misalnya setelah beberapa kali diare, muntah, atau berkeringat sangat banyak.

Oralit juga bisa membantu pada jemaah yang mengalami kelelahan akibat panas, terutama jika mereka sulit makan atau minum cukup. Dalam kondisi seperti ini, oralit dapat membantu tubuh pulih lebih cepat dibanding hanya minum air biasa.

Namun, oralit bukan untuk diminum rutin setiap hari apabila tubuh dalam kondisi sehat. Minuman ini mengandung garam dan gula, sehingga tidak perlu dikonsumsi jika tidak ada tanda kehilangan cairan. Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk kebutuhan minum sehari-hari.

5. Lansia dan jemaah dengan penyakit kronis lebih membutuhkan

Lansia lebih rentan mengalami dehidrasi karena rasa haus mereka cenderung menurun. Selain itu, tubuh lansia juga lebih sulit mempertahankan keseimbangan cairan saat cuaca panas atau saat mengalami diare.

Jemaah dengan diabetes, penyakit ginjal, tekanan darah rendah, atau yang rutin minum obat diuretik juga lebih berisiko mengalami dehidrasi. Pada kelompok ini, kehilangan cairan dalam jumlah kecil saja kadang sudah cukup untuk membuat tubuh terasa sangat lemas atau memicu masalah kesehatan lain.

Karena itu, oralit sebaiknya menjadi bagian dari perlengkapan kesehatan pribadi, terutama untuk jemaah lansia dan mereka yang memiliki penyakit kronis. Namun, apabila ada kondisi medis tertentu seperti gagal ginjal atau pembatasan cairan, penggunaan oralit sebaiknya dibicarakan dulu dengan dokter sebelum berangkat.

6. Tahu kapan harus mencari pertolongan medis

Jemaah haji yang sakit saat haji.
ilustrasi jemaah haji yang sakit saat haji (IDN Times/Sunariyah)

Oralit memang membantu, tetapi ada situasi tertentu yang tidak bisa ditangani sendiri. Kalau terus-terusan diare, muntah hebat, tidak bisa minum, demam tinggi, urine sangat sedikit, linglung, atau tampak sangat lemas, segera cari pertolongan medis.

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah mata cekung, kulit terasa sangat kering, jantung berdebar cepat, atau pusing berat saat berdiri. Pada lansia, dehidrasi berat kadang muncul dalam bentuk kebingungan atau penurunan kesadaran.

Dalam kondisi seperti itu, tubuh mungkin membutuhkan cairan infus atau penanganan lebih lanjut. Karena itu, oralit sebaiknya dipandang sebagai pertolongan awal, bukan pengganti pemeriksaan medis bila gejala sudah berat.

Oralit memang bukan barang yang wajib diminum setiap hari selama haji, tetapi layak dibawa sebagai bagian dari perlengkapan kesehatan pribadi. Cuaca panas, aktivitas fisik yang tinggi, serta risiko diare dan muntah membuat jemaah lebih rentan kehilangan cairan. Dalam situasi tertentu, oralit bisa membantu tubuh pulih lebih cepat dan mencegah dehidrasi lebih berat.

Referensi

World Health Organization. “Drinking-Water Fact Sheet.” Diakses April 2026.

World Health Organization dan United Nations Children's Fund. “Diarrhoea: Why Children Are Still Dying and What Can Be Done.” Diakses April 2026.

J A Al-Tawfiq and Z A Memish, “The Hajj: Updated Health Hazards and Current Recommendations for 2012,” Eurosurveillance 17, no. 41 (October 11, 2012): 20295, https://doi.org/10.2807/ese.17.41.20295-en.

Centers for Disease Control and Prevention. “Preventing Dehydration When You Are Sick.” Diakses April 2026.

National Health Service. “Dehydration.” Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More