"Jadi hati itu kalau sudah rusak salah satu caranya harus ditransplantasi hati. Teman-teman pasti dengar banyak orang-orang Indonesia yang melakukannya di luar negeri. Saya juga baru tahu itu baru dilayani di dua kota, empat rumah sakit—Yogyakarta dan Jakarta," ujarnya di Jakarta pada Selasa (02/06/2026).
Cegah dan Kendalikan Penyakit Hati, Kemenkes Perluas Deteksi Dini

- Kemenkes memperluas skrining dan deteksi dini penyakit hati kronis melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk menekan angka kasus yang mencapai sekitar 70 juta penduduk di Indonesia.
- Menkes Budi Gunadi Sadikin menyoroti keterbatasan layanan transplantasi hati di Indonesia serta pentingnya imunisasi, terutama bagi generasi sebelum 1997 yang belum mendapat vaksin hepatitis B.
- Pemerintah memperkuat pencegahan lewat imunisasi hepatitis B, profilaksis antivirus bagi ibu hamil, dan kebijakan Nutri-Level 2026 guna mengendalikan konsumsi gula, garam, serta lemak penyebab gangguan metabolik.
Penyakit hati kronis masih menjadi tantangan kesehatan yang besar di Indonesia, dengan estimasi sekitar 70 juta penduduk mengalaminya. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit hati kronis melalui perluasan skrining dan deteksi dini di masyarakat.
Prevalensi penyakit hati di dunia angkanya lebih tinggi dibanding HIV (human immunodeficiency virus) dan tuberkulosis (TBC) yang mencapai 300 juta. Begitu juga dengan angka kematiannya yang lebih tinggi dari TBC, hingga 2 juta per tahun atau 4 orang per menit.
70 juta orang memiliki penyakit hati
Penyakit hati disebabkan oleh virus hepatitis B dan hepatitis C. Penyebab lain karena metabolisme tubuh yang tidak baik—obesitas dan alkohol. Di Tanah Air, data terakhir ada sekitar 70 juta orang yang memiliki penyakit hati kronis.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengaku bahwa data di Indonesia sendiri sebenarnya belum rapi karena berbagai faktor, seperti perawatan penyakit hati yang belum bisa maksimal dilakukan.
Langkah pencegahan

Penyakit hati yang sudah sampai di level kanker dan sirosis hati jumlahnya kemungkinan akan makin banyak karena imunisasi nasional yang baru dimulai pada 1997, sehingga mereka yang lahir sebelum periode tersebut otomatis tidak mendapatkannya.
"Jumlah ini meningkat terus, sampai kapan? Sampai nanti mereka yang lahir sebelum 1997 sudah tiada semua. Artinya mereka yang divaksin, sudah bisa menggantikan generasi ini. Tapi itu akan terjadi tiga atau empat dekade lagi. Sementara kita, banyak korban dan biaya yang keluar," imbuh Menkes Budi.
Lebih dalam Menkes mengatakan bahwa penyakit kronis seperti jantung, stroke, hati, ginjal, butuh waktu lama sampai ada di level yang parah. Meski begitu kita bisa mengubahkan dengan strategi promotif dan preventif. Promotifnya dengan membatasi konsumsi gula dan rajin berolahraga agar lemaknya tidak menempel di hati.
Tindakan preventifnya dengan melakukan imunisasi, sedangkan untuk kelahiran sebelum 1997 harus rajin melakukan deteksi dini. Dengan cek darah saja, pasien dapat mengetahui indikator kesehatan organ hatinya.
CKG mencakup skrining hati

Saat ini, cakupan skrining hepatitis di Indonesia diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen, masih jauh dari target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menargetkan 90 persen kasus hepatitis terdeteksi dan 80 persen mendapatkan pengobatan.
“Jangan merasa sehat lalu tidak mau diperiksa. Banyak penyakit kronis, termasuk penyakit hati, berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun. Ketika gejala muncul, sering kali penyakit sudah berada pada tahap lanjut,” Menkes Budi mengatakan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, skrining penyakit hati telah diintegrasikan ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pemeriksaan meliputi deteksi hepatitis B melalui HBsAg serta penilaian fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis pemeriksaan darah.
Selain memperluas deteksi dini, pemerintah juga terus memperkuat upaya pencegahan melalui imunisasi hepatitis B bagi tenaga kesehatan, pemberian profilaksis antivirus bagi ibu hamil dengan hepatitis B untuk mencegah penularan ke bayi, serta penerapan kebijakan Nutri-Level mulai 2026 guna membantu masyarakat mengendalikan konsumsi gula, garam dan lemak yang menjadi faktor risiko penyakit hati akibat gangguan metabolik.






![[QUIZ] Apa Fitness Love Language Kamu? Jawab 1 Pertanyaan Ini](https://image.idntimes.com/post/20250720/pexels-cottonbro-5319375_54dd0954-3c95-4bb3-a55b-57a4451ade0f.jpg)





![[QUIZ] Tes Kesiapan Lari 21K, Kamu Sudah Ready Belum?](https://image.idntimes.com/post/20260129/1000092589_486567a7-4108-42b8-a273-5ef160374a41.jpg)





![[QUIZ] Dari Warna Sepatu Olahragamu, Kami Tebak Cara Kamu Hadapi Tantangan](https://image.idntimes.com/post/20220409/pexels-run-ffwpu-2526878-231598487f96cc977f2f775a83051a8e-0f10c519478ccc720c29106b6975c7b5.jpg)