Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

4 Jenis Batu Ginjal, Penyebabnya Tidak Sama

4 Jenis Batu Ginjal, Penyebabnya Tidak Sama
ilustrasi batu ginjal (commons.wikimedia.org/Jakupica)
Intinya Sih
  • Batu ginjal terbentuk dari kristalisasi zat dalam urine, dengan jenis berbeda seperti kalsium, asam urat, struvit, dan sistin yang memiliki penyebab serta faktor risiko masing-masing.
  • Batu kalsium paling umum dipicu dehidrasi, konsumsi garam tinggi, obesitas, dan pola makan tertentu; sedangkan batu asam urat sering terkait pH urine rendah dan makanan tinggi purin.
  • Pencegahan batu ginjal mencakup minum cukup air, menjaga berat badan ideal, membatasi garam serta gula, mengontrol penyakit metabolik, dan segera menangani infeksi saluran kemih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Ginjal bekerja menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan tubuh tanpa henti. Dalam kondisi tertentu, zat-zat yang seharusnya larut dalam urine justru mengendap dan mengkristal. Seiring waktu, kristal tersebut dapat tumbuh menjadi batu ginjal.

Batu ginjal atau nefrolitiasis adalah salah satu gangguan urologi paling umum di dunia. Angka kejadiannya meningkat dalam beberapa dekade terakhir, sebagian karena perubahan pola makan, obesitas, diabetes, dan gaya hidup sedenter.

Banyak orang menganggap semua batu ginjal sama. Padahal, komposisi batu ginjal dapat berbeda-beda. Jenis batu yang terbentuk sering kali memberi petunjuk mengenai penyebabnya dan menentukan strategi pencegahan yang paling efektif.

Table of Content

1. Batu kalsium adalah yang paling umum

1. Batu kalsium adalah yang paling umum

Sekitar 70–80 persen kasus batu ginjal merupakan batu kalsium, terutama kalsium oksalat dan sebagian kecil kalsium fosfat.

Batu kalsium sering dikira terbentuk karena terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi kalsium, tetapi penelitian menunjukkan bahwa asupan kalsium yang cukup dari makanan justru dapat membantu mengurangi risiko batu ginjal karena kalsium mengikat oksalat di usus sehingga tidak banyak diserap tubuh.

Penyebab yang lebih sering berperan meliputi dehidrasi, konsumsi garam berlebihan, pola makan tinggi protein hewani, obesitas, dan kadar oksalat tinggi dalam urine.

Oksalat sendiri ditemukan dalam berbagai makanan seperti bayam, bit, cokelat, kacang-kacangan tertentu, dan teh hitam.

Selain faktor pola makan, beberapa kondisi medis juga dapat meningkatkan risiko batu kalsium, termasuk hiperparatiroidisme, penyakit radang usus, dan gangguan metabolisme tertentu.

Faktor risiko batu kalsium yang diketahui antara lain:

  • Kurang minum air.
  • Konsumsi garam berlebihan.
  • Pola makan tinggi protein hewani.
  • Obesitas.
  • Diabetes tipe 2.
  • Riwayat keluarga batu ginjal.
  • Kadar oksalat urine tinggi.

2. Batu asam urat sering dikaitkan dengan pola makan

Batu asam urat terbentuk ketika urine terlalu asam sehingga asam urat lebih mudah mengkristal.

Asam urat merupakan hasil pemecahan purin, yaitu senyawa yang secara alami terdapat dalam tubuh dan sejumlah makanan. Jeroan, daging merah, kerang, sarden, dan beberapa jenis makanan laut mengandung purin dalam jumlah tinggi.

Banyak penderita batu asam urat tidak selalu memiliki kadar asam urat darah yang tinggi. Faktor yang berperan justru sering kali adalah pH urine yang rendah atau terlalu asam.

Obesitas, diabetes, sindrom metabolik, dan resistansi insulin merupakan faktor risiko penting untuk batu asam urat karena kondisi-kondisi tersebut cenderung membuat urine menjadi lebih asam.

Faktor risiko batu asam urat

  • Konsumsi makanan tinggi purin.
  • Obesitas.
  • Diabetes tipe 2.
  • Sindrom metabolik.
  • Dehidrasi kronis.
  • Penyakit asam urat (gout).
  • Urine yang terlalu asam.

3. Batu struvit, berhubungan dengan infeksi saluran kemih

Tiga batu ginjal berwarna cokelat kekuningan dengan permukaan kasar diletakkan di atas kertas bergaris dan penggaris untuk skala ukuran.
ilustrasi batu ginjal (commons.wikimedia.org/Jakupica)

Batu struvit berbeda dari jenis lainnya karena hampir selalu berkaitan dengan infeksi saluran kemih.

Bakteri tertentu, seperti Proteus, Klebsiella, dan Pseudomonas, menghasilkan enzim urease yang mengubah komposisi urine sehingga mempermudah pembentukan kristal struvit.

Karena terbentuk akibat infeksi, batu struvit dapat tumbuh cepat. Dalam beberapa kasus, batu bahkan dapat memenuhi sebagian besar sistem pengumpul urine di ginjal dan membentuk apa yang disebut staghorn calculi atau batu tanduk rusa.

Masalahnya, batu struvit tidak selalu menimbulkan nyeri sejak awal. Sebagian pasien baru menyadari kondisinya setelah mengalami infeksi berulang, demam, nyeri pinggang, atau penurunan fungsi ginjal.

Faktor risiko batu struvit

  • Infeksi saluran kemih berulang.
  • Kelainan anatomi saluran kemih.
  • Penggunaan kateter jangka panjang.
  • Gangguan pengosongan kandung kemih.
  • Cedera saraf yang memengaruhi fungsi kandung kemih.

4. Batu sistin langka, tetapi bisa muncul sejak usia muda

Batu sistin merupakan jenis yang paling jarang ditemukan.

Penyebabnya bukan pola makan atau infeksi, melainkan kelainan genetik yang disebut sistinuria. Pada kondisi ini, ginjal tidak mampu menyerap kembali asam amino sistin secara normal sehingga kadarnya dalam urine meningkat.

Karena sistin relatif sulit larut dalam urine, zat ini dapat membentuk kristal dan berkembang menjadi batu ginjal berulang.

Berbeda dengan jenis batu lainnya yang biasanya muncul pada usia dewasa, batu sistin sering mulai terbentuk pada masa remaja atau dewasa muda. Banyak pasien memiliki riwayat keluarga dengan masalah yang sama.

Faktor risiko batu sistin

  • Kelainan genetik sistinuria.
  • Riwayat keluarga batu sistin.
  • Dehidrasi.
  • Volume urine rendah.

Cara mengurangi risiko batu ginjal

Meskipun penyebabnya beragam, tetapi ada beberapa langkah yang bisa membantu menurunkan risiko berbagai jenis batu ginjal, seperti:

  • Minum cukup air hingga urine berwarna kuning pucat.
  • Batasi konsumsi garam berlebihan.
  • Pertahankan berat badan sehat.
  • Konsumsi kalsium dari makanan dalam jumlah yang cukup.
  • Kurangi minuman berpemanis tinggi gula.
  • Kendalikan diabetes dan tekanan darah.
  • Segera obati infeksi saluran kemih.
  • Konsultasikan evaluasi metabolik jika pernah mengalami batu ginjal berulang.

Batu ginjal bukanlah satu penyakit dengan satu penyebab. Setiap jenis batu memiliki mekanisme terbentuk yang berbeda. Memahami jenis batu yang dimiliki dapat membantu dokter dan pasien menyusun strategi pencegahan yang lebih tepat, sehingga risiko kekambuhan dapat diminimalkan.

Referensi

Türk, Christian, et al. "EAU Guidelines on Urolithiasis." Arnhem: European Association of Urology, 2025. Diakses Juni 2026.

Margaret S. Pearle et al., “Medical Management of Kidney Stones: AUA Guideline,” The Journal of Urology 192, no. 2 (May 20, 2014): 316–24, https://doi.org/10.1016/j.juro.2014.05.006.

Ben H. Chew et al., “Prevalence, Incidence, and Determinants of Kidney Stones in a Nationally Representative Sample of US Adults,” JU Open Plus 2, no. 1 (January 1, 2024), https://doi.org/10.1097/ju9.0000000000000107.

Charles D. Scales et al., “Prevalence of Kidney Stones in the United States,” European Urology 62, no. 1 (March 31, 2012): 160–65, https://doi.org/10.1016/j.eururo.2012.03.052.

Pietro Manuel Ferraro et al., “Dietary and Lifestyle Risk Factors Associated With Incident Kidney Stones in Men and Women,” The Journal of Urology 198, no. 4 (March 30, 2017): 858–63, https://doi.org/10.1016/j.juro.2017.03.124.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). "Kidney Stones." Diakses Juni 2026.

National Kidney Foundation. "Kidney Stones." Diakses Juni 2026.

Orson W Moe, “Kidney Stones: Pathophysiology and Medical Management,” The Lancet 367, no. 9507 (January 1, 2006): 333–44, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(06)68071-9.

Elaine M. Worcester and Fredric L. Coe, “Calcium Kidney Stones,” New England Journal of Medicine 363, no. 10 (September 1, 2010): 954–63, https://doi.org/10.1056/nejmcp1001011.

Gary C. Curhan, “Epidemiology of Stone Disease,” Urologic Clinics of North America 34, no. 3 (August 1, 2007): 287–93, https://doi.org/10.1016/j.ucl.2007.04.003.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More