Meski terdengar menjanjikan, tetapi tirzepatide bukan obat pelangsing bebas pakai. Obat ini perlu digunakan dengan resep dan pengawasan dokter, terutama karena efeknya tidak hanya pada berat badan, tetapi juga gula darah, saluran cerna, dan obat lain yang mungkin sedang dikonsumsi pasien.
Tirzepatide dapat menyebabkan efek samping saluran cerna seperti mual, muntah, dan diare; kondisi ini bisa memicu dehidrasi dan berisiko memperburuk fungsi ginjal pada sebagian orang.
Obat ini juga tidak direkomendasikan pada pasien dengan penyakit saluran cerna berat, termasuk gastroparesis berat.
Selain itu, ada peringatan terkait pankreatitis, gangguan kandung empedu, hipoglikemia jika digunakan bersama insulin atau sulfonilurea, serta kontraindikasi pada orang dengan riwayat pribadi atau keluarga medullary thyroid carcinoma atau MEN 2.
BPOM menyatakan produk obat yang beredar di Indonesia telah melalui evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu, termasuk standar praktik laboratorium, klinik, dan manufaktur yang baik. Setelah izin edar diberikan, keamanan obat tetap dipantau melalui farmakovigilans.
Tirzepatide menambah pilihan baru dalam pengelolaan diabetes tipe 2 dan obesitas di Indonesia. Namun, obat ini bukan cara instan menurunkan berat badan. Manfaat terbaiknya justru muncul ketika digunakan pada pasien yang tepat, dengan diagnosis yang jelas, pemantauan medis, dan perubahan gaya hidup yang tetap menjadi fondasi utama.
Referensi
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “BPOM Dorong Akses Terapi Inovatif untuk Penanganan Penyakit Metabolik dengan Zat Aktif Tirzepatide.” 4 Juli 2026.
BPOM. “Persetujuan Tirzepatide sebagai Terapi DM Tipe 2.” 5 Juni 2026.
U.S. Food and Drug Administration. "Mounjaro (tirzepatide) Injection, for Subcutaneous Use: Prescribing Information." Diakses Juli 2026.
Jastreboff, Ania M., Louis J. Aronne, Nadia N. Ahmad, et al. “Tirzepatide Once Weekly for the Treatment of Obesity.” New England Journal of Medicine 387, no. 3 (2022): 205–216.