Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sebelum Beralih ke Menstrual Cup, Kenali Potensi Risikonya

Sebelum Beralih ke Menstrual Cup, Kenali Potensi Risikonya
ilustrasi menstrual cup (magnific.com/freepik)
Intinya Sih
  • Menstrual cup umumnya aman digunakan jika ukuran, cara pakai, dan kebersihannya tepat.

  • Risiko yang bisa terjadi antara lain iritasi, nyeri, bocor, sulit melepas, infeksi, toxic shock syndrome yang sangat jarang, dan kemungkinan menggeser IUD.

  • Jangan pakai terlalu lama, selalu cuci tangan, bersihkan cup sesuai instruksi, dan hentikan pemakaian jika muncul nyeri, demam, ruam, bau tidak biasa, atau sulit buang air kecil.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Saat menstruasi, beberapa perempuan memilih pakai menstrual cup karena praktis, bisa dipakai ulang, lebih ramah lingkungan, dan pada terasa lebih nyaman dibanding pembalut atau tampon. Namun, seperti semua produk menstruasi yang masuk ke vagina, menstrual cup tetap perlu digunakan dengan benar.

Bukti ilmiah sejauh ini menunjukkan menstrual cup umumnya aman dan digunakan di berbagai negara. Namun, tetapi masih dibutuhkan penelitian berkualitas lebih baik, terutama terkait keamanan, efektivitas, dan penggunaan jangka panjang.

Sebelum kamu beralih ke menstrual cup, yuk ketahui dulu risiko apa saja yang perlu dikenali dan cara menguranginya.

Table of Content

1. Iritasi, nyeri, atau luka kecil pada vagina

1. Iritasi, nyeri, atau luka kecil pada vagina

Risiko yang paling mungkin terjadi adalah rasa tidak nyaman, terutama saat awal belajar pakai menstrual cup. Cup yang terlalu besar, terlalu keras, tidak terbuka sempurna, atau dipasang terlalu tinggi maupun rendah bisa menyebabkan tekanan, nyeri, rasa mengganjal, atau iritasi.

Dalam sebuah tinjauan ilmiah, beberapa efek samping yang dilaporkan mencakup nyeri, luka atau iritasi vagina, alergi atau ruam, serta kesulitan melepas cup. Keluhan seperti ini tidak selalu berbahaya, tetapi menandakan ukuran, bentuk, atau teknik pemakaian mungkin belum sesuai.

Solusinya, jangan memaksa jika terasa sakit. Cuci tangan, rilekskan otot panggul, gunakan pelumas berbasis air jika perlu, dan coba ukuran atau tipe cup yang berbeda.

Kalau nyeri menetap, ada perdarahan yang tidak biasa, atau terasa seperti ada luka, hentikan pemakaian dan periksakan diri ke dokter.

2. Bocor atau sulit dilepas

Bocor bisa membuat pengguna panik dan akhirnya menarik cup terlalu keras. Kebocoran bisa terjadi jika cup belum terbuka sempurna, posisinya tidak tepat, kapasitasnya penuh, atau ukuran tidak cocok.

Kesulitan melepas juga dapat terjadi, terutama pada pemula. Menstrual cup bekerja dengan membuat semacam segel ringan di dinding vagina. Karena itu, cup sebaiknya tidak langsung ditarik dari tangkainya. Segelnya perlu dilepas dulu dengan mencubit dasar cup atau menekan salah satu sisi cup secara perlahan.

Jika cup terasa seperti tersangkut, jangan menarik paksa. Coba jongkok, bernapas pelan, dan dorong ringan seperti saat buang air besar. Jika tetap tidak bisa dilepas, cari bantuan tenaga kesehatan.

3. Infeksi bisa terjadi jika kebersihan buruk

Seseorang mengenakan pakaian berwarna merah muda memegang menstrual cup berwarna putih dan kantong kain kecil di tangannya.
ilustrasi menstrual cup (unsplash.com/Oana Cristina)

Menstrual cup tidak menyerap darah seperti tampon, melainkan menampungnya. Namun, darah menstruasi tetap bisa menjadi media pertumbuhan mikroba jika cup terlalu lama dipakai atau tidak dibersihkan dengan baik.

Sebuah tinjauan dalam jurnal The Lancet Public Health tidak menemukan peningkatan risiko infeksi reproduksi atau infeksi sistemik pada pengguna menstrual cup dibanding produk menstruasi lain dalam studi yang tersedia. Namun, cup tetap harus dikosongkan dan dibersihkan secara teratur.

Sebagian besar produsen menyarankan menstrual cup dikosongkan setiap 4–12 jam, tergantung banyaknya darah menstruasi dan jenis cup.

Kajian keamanan produk menstrual cup juga mencatat bahwa sebagian besar instruksi produsen menyarankan cup dikosongkan setiap 4–12 jam dan dibersihkan dengan air serta sabun ringan atau metode yang sesuai petunjuk produk.

Solusinya, cuci tangan sebelum memasang atau melepas cup, kosongkan secara teratur, bersihkan cup sesuai instruksi, dan sterilkan di antara siklus menstruasi jika dianjurkan produsen.

Jangan memakai cup yang rusak, lengket, berubah bau, atau permukaannya retak.

4. Toxic shock syndrome sangat jarang, tetapi serius

Toxic shock syndrome (TSS) adalah infeksi langka tetapi bisa mengancam nyawa. Kondisi ini dapat terjadi pada pengguna tampon, menstrual cup, atau alat lain yang berada di vagina terlalu lama.

TSS bisa terjadi saat menggunakan tampon atau menstrual cup, dan gejalanya berkembang cepat sehingga perlu penanganan darurat.

Kasus TSS terkait menstrual cup jarang, tetapi pernah dilaporkan.

Sebuah artikel kasus dalam literatur medis melaporkan TSS yang berhubungan dengan penggunaan menstrual cup dan menekankan pentingnya penggunaan serta pembersihan yang tepat.

Studi laboratorium dalam jurnal Applied and Environmental Microbiology juga menunjukkan bahwa alat intravaginal seperti tampon dan menstrual cup dapat menjadi lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan produksi toksin pada kondisi tertentu.

Gejala TSS yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak, menggigil, ruam dengan sensasi seperti terbakar matahari, muntah, diare, pusing, pingsan, nyeri otot, dan tubuh terasa sangat lemah. Jika gejala seperti ini muncul saat sedang menstruasi dan memakai cup, segera lepas dan cari bantuan medis.

5. Bisa berkaitan dengan IUD bergeser atau keluar

Pengguna IUD tetap bisa memakai menstrual cup, tetapi perlu lebih hati-hati. Risiko yang sering dibahas adalah kemungkinan cup menarik benang IUD atau efek isapan saat cup dilepas ikut memengaruhi posisi IUD.

Tinjauan sistematis tahun 2023 menyimpulkan ada kemungkinan hubungan antara penggunaan menstrual cup dan peningkatan risiko ekspulsi IUD, tetapi buktinya masih terbatas dan penelitian berkualitas tinggi masih dibutuhkan.

Para peneliti menyarankan informasi ini tetap perlu disampaikan kepada pasien, termasuk soal teknik melepas cup dan kemungkinan memotong benang IUD lebih pendek atau menunda penggunaan cup setelah pemasangan IUD.

Jika memakai IUD, diskusikan dengan dokter atau bidan sebelum mulai menggunakan menstrual cup. Saat melepas cup, pastikan segelnya dilepas dulu, jangan menarik langsung, dan hindari menarik benang IUD.

Periksa jika benang IUD terasa berubah, muncul nyeri perut bawah, perdarahan tidak biasa, atau curiga IUD bergeser.

6. Tekanan pada saluran kemih, meski jarang

Beberapa pembalut berwarna putih tersusun di atas permukaan biru dengan satu menstrual cup merah di tengahnya.
ilustrasi pembalut dan menstrual cup (pexels.com/Cliff Booth)

Pada kasus yang jarang, menstrual cup yang posisinya tidak tepat atau ukurannya tidak sesuai dapat menekan kandung kemih atau saluran kemih. Keluhannya bisa berupa sulit buang air kecil, rasa tidak tuntas, nyeri perut bawah, atau darah dalam urine.

Sebuah tinjauan dalam jurnalThe Lancet Public Health, keluhan saluran kemih dilaporkan pada sejumlah kecil kasus, termasuk beberapa laporan hidronefrosis atau pembengkakan ginjal akibat aliran urine terganggu. Ini jarang, tetapi penting dikenali karena pengguna mungkin tidak langsung mengaitkannya dengan cup.

Jika kamu sulit buang air kecil, nyeri hebat, atau ada darah dalam urine saat memakai menstrual cup, segera lepas cup. Jika keluhan tidak membaik, temui dokter.

Cara aman pakai menstrual cup

  • Pilih ukuran sesuai rekomendasi produk, riwayat melahirkan, panjang serviks, dan banyaknya aliran menstruasi.
  • Cuci tangan sebelum memasang dan melepas.
  • Kosongkan cup setiap 4–12 jam, jangan menunggu sampai penuh atau dipakai terlalu lama.
  • Bersihkan cup dengan air bersih dan sabun ringan tanpa pewangi jika sesuai instruksi produk, lalu bilas sampai benar-benar bersih.
  • Saat melepas, lepaskan segelnya dulu dengan mencubit bagian bawah cup. Jangan menarik tangkainya kuat-kuat.
  • Jika memakai IUD, ekstra hati-hati dan diskusikan teknik yang aman dengan tenaga kesehatan.

Hentikan pemakaian jika muncul nyeri, gatal hebat, bau tidak biasa, keputihan abnormal, demam, ruam, sulit buang air kecil, atau perdarahan yang tidak sesuai pola haid.

Jangan berbagi menstrual cup dengan orang lain, dan jangan memakai cup yang rusak.

Menstrual cup umumnya aman. Namun, tetap ada risiko kesehatan yang perlu kamu kenali, mulai dari iritasi, nyeri, kebocoran, sulit melepas, infeksi, TSS yang sangat jarang, kemungkinan menggeser IUD, hingga keluhan saluran kemih pada kasus langka.

Kunci amannya ada pada ukuran yang sesuai, teknik pemasangan dan pelepasan yang benar, kebersihan tangan, pembersihan cup, serta tidak memakainya terlalu lama.

Referensi

Anna Maria van Eijk, et al., “Menstrual Cup Use, Leakage, Acceptability, Safety, and Availability: A Systematic Review and Meta-Analysis,” The Lancet Public Health 4, no. 8 (2019): e376–e393.

Helen El Soufi, et al., “Toxic Shock Syndrome Associated with Menstrual Cup Use,” IDCases 25 (2021): e01171.

Lina Nonfoux, et al., “Impact of Currently Marketed Tampons and Menstrual Cups on Staphylococcus aureus Growth and Toxic Shock Syndrome Toxin 1 Production In Vitro,” Applied and Environmental Microbiology 84, no. 12 (2018): e00351-18.

Natalie Bowman and Deborah Thwaites, “Menstrual Cup and Risk of IUD Expulsion: A Systematic Review,” Contraception and Reproductive Medicine 8 (2023): 1.

Victoria P. Sica, et al., “Safety Assessment Scheme for Menstrual Cups and Application for the Evaluation of a Menstrual Cup Comprised of Medical Grade Silicone,” eBioMedicine 86 (2022): 104332.

National Health Service, “Toxic Shock Syndrome,” Diakses Juli 2026.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More