Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kebakaran TPA Jatiwaringin, IDAI Ingatkan Tingkat Polutan yang Tinggi

Kebakaran TPA Jatiwaringin, IDAI Ingatkan Tingkat Polutan yang Tinggi
Personil gabungan berjibaku memadamkan api kebakaran TPA Jatiwaringin, Tangerang dengan menggunakan semprotan air pada Senin (6/7). (Dok. BNPB)
Intinya Sih
  • Sebanyak 72 warga di sekitar TPA Jatiwaringin mengalami ISPA akibat paparan asap kebakaran yang meningkatkan kadar polutan berbahaya di udara.

  • IDAI menekankan pentingnya evakuasi, penggunaan masker, serta perlindungan dalam ruangan dengan air purifier untuk mengurangi risiko kesehatan terutama pada anak-anak.

  • Dokter menyarankan penanaman pohon di sekitar pemukiman sebagai langkah alami memfilter dan menurunkan kadar polutan dari kebakaran sampah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sebanyak 72 warga dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, yang terjadi sejak Selasa (30/6).

Dalam media briefing "Dampak Polusi Udara pada Anak" pada Selasa (07/07/2026), Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp.Respi.(K) menjelaskan sejumlah hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menjauhi anaknya dari risiko kesehatan.

“Kalau memang kadar polutan sedemikian tinggi dan padat, tidak memungkinkan untuk bernapas dan mengancam nyawa, harus dievakuasi tentunya orang-orang atau warga di sekitar tempat tersebut. Namun, tentu makin jauh areanya mungkin makin baik karena polutannya masih aman, nah ini yang areanya lebih jauh ini yang bisa kita pilah-pilah,” ujarnya.

Table of Content

Tingkat polutan bisa tinggi

Tingkat polutan bisa tinggi

Saat terjadi kebakaran di TPA—sampahnya beragam—tingkat polutan bisa tinggi. Sehingga untuk anak yang sudah bisa menggunakan alat pelindung diri (APD), terutama usia di atas 3 tahun, dr. Cynthia menyarankan penggunaan masker.

"Kalau kita bicara kebakaran sampah, ini materi yang terbakar itu kan macam-macam, bisa saja salah satu yang terbakar itu plastik, misalnya. Plastik itu kalau sampai terbakar isinya salah satunya adalah dioksin atau furan,” katanya.

Meski senyawanya kecil, tetapi risikonya diketahui sangat tinggi. Bahkan menurut dr. Cynthia, itu bisa memicu kanker di kemudian hari, gangguan saluran pernapasan dan masalah di saluran saraf.

Lakukan langkah pencegahan

Seorang anak duduk di sofa menggunakan alat nebulizer untuk membantu pernapasan, sementara seorang wanita menemaninya di ruang tamu.
ilustrasi anak mengalami ISPA (pexels.com/cottonbro studio)

Langkah terpenting saat ada kebakaran TPA ialah evakuasi. Jika polutan ada di luar rumah, lindungi diri dalam ruangan dengan menutup ventilasinya dengan tambahan penggunaan air purifier.

Namun, jika harus keluar rumah, jangan lupa menggunakan APD. Manfaatkan juga aplikasi digital untuk mengecek kadar polusi di lingkungan sekitar.

Dari dinas juga harus melakukan mitigasi. Misalnya saja dengan meliburkan anak sekolah saat keadaan masih berbahaya agar mereka tidak menghirup polusi udara karena efeknya bisa langsung dirasakan, terutama bagi pasien yang memiliki asma.

Disarankan menanam pohon

Dokter Cynthia juga menjelaskan bahwa tanaman akan sangat membantu untuk memfilter polusi. Sudah banyak penelitian yang memaparkan bahwa menanam pohon di deket rumah, bisa menjadi pelindung terhadap polutan.

"Misalnya untuk warga yang mau tidak mau daerahnya dekat dengan TPA, sangat disarankan mempunyai pohon atau tanaman karena itu membantu, memfilter maupun mem-barrier. Dan, uniknya tanaman ini bisa mendegradasi polutan itu sendiri," tambahnya.

Bukan cuma polutan, senyawa logam pun bisa didegradasi dengan tanaman. Lingkungan yang rimbun akan membuat polutan lebih sulit untuk menembus ke daerah yang punya banyak oksigen.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More