"Penderita penyakit jantung, diabetes, dan gangguan ginjal diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami cacar api dan komplikasinya. Kondisi tersebut dapat memengaruhi daya tahan tubuh, sehingga virus varicella zoster lebih mudah bereaktivasi," ujarnya di Tangerang, pada Sabtu (17/01/2026).
Waspada, 9 dari 10 Orang Dewasa Menyimpan Virus Cacar Api

- Sebagian besar orang dewasa menyimpan virus cacar api tanpa gejala, aktif kembali saat daya tahan tubuh melemah.
- Risiko cacar api atau herpes zoster meningkat seiring bertambahnya usia dan adanya penyakit penyerta, seperti jantung, diabetes, dan gangguan ginjal.
- Vaksinasi dianjurkan setelah sembuh dari episode cacar api sebelumnya, dengan dua dosis yang diberikan dalam rentang waktu dua sampai enam bulan.
Tanpa disadari, sebagian besar orang dewasa sebenarnya menyimpan virus cacar api di dalam tubuhnya. Virus tersebut bisa bertahan diam selama puluhan tahun, tanpa gejala, hingga suatu hari aktif kembali ketika daya tahan tubuh melemah.
Data menunjukkan, sekitar 9 dari 10 orang dewasa berusia di atas 50 tahun telah memiliki virus penyebab cacar api, dan 1 dari 3 orang berisiko mengalaminya setidaknya sekali seumur hidup.
Virus yang dimaksud adalah varicella zoster virus (VZV), penyebab cacar air di masa kanak-kanak. Setelah infeksi awal sembuh, virus tidak benar-benar hilang, melainkan menetap di sistem saraf dan dapat aktif kembali sebagai herpes zoster atau cacar api. Aktivasi ini lebih sering terjadi pada usia lanjut atau pada individu dengan kondisi medis tertentu yang memengaruhi sistem imun.
Kelompok berisiko
Walaupun bisa dialami oleh siapa saja, tetapi risiko cacar api atau herpes zoster meningkat seiring bertambahnya usia dan adanya penyakit penyerta.
Data menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 orang dewasa berisiko mengalami cacar api selama hidupnya, dengan risiko tertinggi pada kelompok usia di atas 50 tahun. Pada usia ini, sistem kekebalan tubuh cenderung menurun sehingga virus yang sebelumnya tidur lebih mudah aktif kembali.
Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Siloam Lippo Village, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR mengatakan selain faktor usia, individu dengan kondisi medis tertentu juga lebih rentan terkena cacar api.
Langkah perlindungan proaktif melalui vaksinasi

Salah satu cara terbaik melindungi diri dari cacar api adalah dengan mendapatkan vaksinasi. Rekomendasi dari Satgas Imunisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) 2025, vaksin herpes zoster dianjurkan untuk kelompok dengan penyakit penyerta, seperti yang disebutkan di atas.
Melalui vaksinasi, individu dapat mengambil langkah proaktif untuk menurunkan risiko terkena cacar api sekaligus mencegah komplikasi berbahaya yang dapat mengganggu kualitas hidup di kemudian hari.
Risiko juga menjadi lebih serius ketika cacar api terjadi pada usia lanjut. Selain lebih mudah kambuh, pasien lansia lebih berisiko mengalami nyeri pascaherpes (neuralgia pascaherpes/NPH) yang lebih berat dan berlangsung lebih lama dibandingkan pasien yang lebih muda. Kondisi ini dapat berdampak signifikan terhadap aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, hingga produktivitas.
Waktu vaksinasi yang tepat
Vaksinasi menjadi salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko cacar api, terutama pada kelompok usia dewasa dan individu dengan penyakit penyerta. Dokter Sandra menjelaskan bahwa vaksin herpes zoster dapat diberikan setelah seseorang benar-benar sembuh dari episode cacar api sebelumnya.
“Biasanya sesudah sembuh. Ada organisasi yang menyebutkan satu tahun sudah bisa divaksinasi, tapi ada juga yang menyatakan tiga bulan sudah bisa divaksinasi,” lanjutnya.
Saat ini, vaksin herpes zoster diberikan sebanyak dua dosis, dengan jarak pemberian dosis kedua paling cepat dua bulan dan maksimal enam bulan setelah dosis pertama.
“Vaksinnya dua kali. Yang kedua itu antara dua sampai enam bulan. Saat ini pedomannya hanya sekali vaksinasi lengkap, jadi tidak perlu booster tahunan,” ujar dr. Sandra.
Terkait efektivitas, ia menegaskan bahwa vaksin herpes zoster termasuk salah satu vaksin dengan tingkat perlindungan yang sangat tinggi. Meski demikian, vaksinasi tetap perlu diimbangi dengan pola hidup sehat, seperti menjaga asupan gizi, tidur cukup, dan rutin berolahraga untuk mempertahankan daya tahan tubuh.
















