Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Vasektomi Sudah Lama Ada, Mengapa Masih Dianggap Tabu?
ilustrasi pasangan berkonsultasi sebagai persiapan vasektomi (magnific.com/yanalya)
  • Vasektomi pernah digunakan untuk mencoba mengobati pembesaran prostat sebelum berkembang menjadi kontrasepsi.

  • Literatur mencatat penggunaannya di Indonesia sejak 1970-an, tetapi tahun operasi pertama belum dapat dipastikan dari sumber yang ditelusuri.

  • Hambatannya mencakup kekhawatiran tentang seksualitas, pandangan mengenai tanggung jawab KB, pertimbangan agama, dan akses layanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Suami penyanyi Siti Badriah, Krisjiana Baharudin, menjalani vasektomi setelah ia dan sang istri sepakat untuk tidak menambah anak. Menurut pemberitaan yang beredar, keputusan tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam keluarga berencana serta penghargaan atas berbagai hal yang telah dijalani sang istri selama kehamilan dan persalinan.

Beberapa tahun sebelumnya, seorang suami di Bangka Belitung memutuskan menjalani vasektomi setelah melihat istrinya mengalami keluhan saat menggunakan pil KB. Pengalamannya dicatat dalam penelitian yang terbit pada 2021. Namun, dalam wawancara yang sama, laki-laki lain mengungkapkan ketakutan vasektomi akan membuat mereka impoten. Dua pengalaman ini memperlihatkan bagaimana keputusan tentang kontrasepsi dapat dipengaruhi pengalaman keluarga sekaligus informasi yang beredar.

Vasektomi sendiri memiliki sejarah panjang. Sebelum dikenal sebagai pilihan KB laki-laki, tindakan pada saluran sperma ini pernah dicoba untuk mengatasi penyakit prostat, bahkan digunakan dalam praktik sterilisasi paksa.

1. Bermula dari penelitian tentang saluran sperma

Pada awal abad ke-19, ahli bedah Inggris Astley Cooper melakukan salah satu percobaan vasektomi paling awal yang dilaporkan, pada anjing. Ia menutup saluran pembawa sperma sambil mempertahankan aliran darah ke testis. Pengamatannya menunjukkan bahwa produksi sperma tetap berlangsung meskipun jalur keluarnya terputus.

Menjelang akhir abad tersebut, dokter mencoba vasektomi pada manusia untuk mengobati pembesaran prostat. Reginald Harrison melaporkan lebih dari 100 tindakan sepanjang 1893–1900. Namun, hasil pengobatannya tidak konsisten sehingga pendekatan ini kemudian ditinggalkan sebagai terapi prostat.

2. Pernah menjadi alat sterilisasi paksa

Pada awal 1900-an, vasektomi juga digunakan dalam gerakan eugenika di Amerika Serikat. Gerakan ini berusaha mengendalikan siapa yang boleh memiliki keturunan berdasarkan anggapan bahwa kelompok tertentu memiliki sifat yang “tidak diinginkan”. Sejumlah orang disterilkan tanpa persetujuan yang sah.

Peralihannya menjadi kontrasepsi sukarela berlangsung bertahap. Seiring perkembangan teknik dan layanan keluarga berencana, vasektomi makin digunakan oleh orang yang memilih untuk membatasi kesuburannya sendiri.

3. Teknik tanpa pisau bedah mengubah pelaksanaannya

Kemendukbangga/BKKBN menggelar kegiatan Pelayanan KB vasektomi/Metode Operasi Pria (MOP) di seluruh Indonesia (dok. Humas Kemendugbangga/BKKBN)

Pada tahun 1974, teknik no-scalpel vasectomy mulai digunakan di China. Laporan Shunqiang Li dan rekan-rekannya dalam The Journal of Urology pada tahun 1991 menjelaskan perkembangan cara mengakses saluran sperma tersebut.

Istilah “tanpa pisau bedah” merujuk pada bukaan kecil di kulit kantong testis menggunakan alat khusus. Saluran sperma tetap diputus atau ditutup. Prosedur ini tetap merupakan tindakan bedah dan umumnya menggunakan bius lokal.

4. Kapan vasektomi mulai dipraktikkan di Indonesia?

Artikel dalam Journal of Health Research pada 2015 mencatat bahwa penggunaan vasektomi di Indonesia berada di bawah 1 persen sejak 1970-an hingga 2012. Ini menunjukkan bahwa metode tersebut sudah digunakan selama beberapa dekade. Namun, catatan tersebut tidak menetapkan kapan dan di mana operasi pertama dilakukan.

5. Mengapa vasektomi masih sulit diterima dan diakses?

Studi dalam BMC Women’s Health pada 2023 menggabungkan analisis data 8.380 pasangan dari SDKI 2017 dengan diskusi kelompok. Peneliti menemukan beberapa hambatan yang saling berkaitan:

  • KB dianggap tanggung jawab perempuan. Penyuluhan dan perhatian program juga dinilai lebih sering diarahkan kepada istri.

  • Vasektomi disamakan dengan kebiri. Sebagian peserta mengkhawatirkan hilangnya gairah atau kemampuan berhubungan seksual.

  • Pertimbangan agama. Sebagian peserta menyampaikan keberatan keagamaan; temuan ini tidak mewakili pandangan seluruh pemeluk agama.

  • Keterbatasan layanan. Pengelola program melaporkan kendala jarak fasilitas dan ketersediaan tenaga terlatih di sejumlah wilayah.

Penelitian di Bangka Belitung juga menemukan ketakutan terhadap operasi dan kekhawatiran ingin mempunyai anak lagi. Wawancaranya melibatkan tujuh pasangan serta dua penyedia layanan, sehingga hasilnya memberi gambaran lokal, bukan ukuran sikap semua laki-laki Indonesia.

6. Informasi medis yang perlu dibedakan dari mitos

ilustrasi pasangan suami istri (pexels.com/Thirdman)

Vasektomi menutup saluran pembawa sperma, tanpa mengangkat testis. Tindakan ini tidak menghilangkan gairah seksual atau kemampuan ereksi, dan cairan ejakulasi tetap keluar. Namun, risiko seperti perdarahan, infeksi, serta nyeri menetap tetap perlu dibicarakan dengan dokter sebelum tindakan.

Vasektomi juga harus dipandang sebagai kontrasepsi permanen karena operasi penyambungan kembali tidak menjamin kesuburan pulih.

Efek kontrasepsinya tidak langsung, sehingga metode lain tetap diperlukan sampai pemeriksaan air mani mengonfirmasi keberhasilannya.

Konseling sebelum tindakan membantu seseorang memahami konsekuensi tersebut dan menentukan apakah pilihan ini sesuai dengan rencana keluarganya.

Referensi

Dian Kristiani Irawaty dan Yudi Rafani, “Factors Affect the Vasectomy Uptake of Married Couples in Bangka Belitung Islands, Indonesia,” International Journal of Public Health Science 10, no. 1 (2021): 48–54, https://doi.org/10.11591/ijphs.v10i1.20613.

Arizona State University, “Vasectomy for Male Sterilization,” Embryo Project Encyclopedia, diakses September 2026.

Shunqiang Li, Marc Goldstein, Jinbo Zhu, dan Douglas Huber, “The No-Scalpel Vasectomy,” The Journal of Urology 145, no. 2 (1991): 341–44, https://doi.org/10.1016/S0022-5347(17)38334-9.

Mayo Clinic, “Vasectomy,” diakses September 2026.

Yudi Hendra Musrizal, “Vasectomy Intention among Married Males in Indonesia,” Journal of Health Research 29, no. 3 (2015): 203–9.

Sukma Rahayu et al., “Reassessing the Level and Implications of Male Involvement in Family Planning in Indonesia,” BMC Women’s Health 23 (2023): 220, https://doi.org/10.1186/s12905-023-02354-8.

Editorial Team

Related Article