ilustrasi telat haid (vecteezy.com/ nuttawan jayawan)
Tidak semua keterlambatan haid saat bulan puasa berarti ada masalah kesehatan serius. Siklus menstruasi normal berkisar antara 21 hingga 35 hari, sehingga mundur beberapa hari masih tergolong wajar. Jika keterlambatan hanya terjadi satu kali dan kembali normal pada bulan berikutnya, biasanya tidak perlu khawatir. Tubuh memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kebiasaan.
Namun, jika haid terlambat lebih dari dua minggu atau disertai keluhan lain seperti nyeri hebat dan perdarahan tidak biasa, sebaiknya periksa ke dokter. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan tidak ada gangguan hormon atau kondisi lain seperti gangguan tiroid dan PCOS. Penting juga memastikan kemungkinan kehamilan bila sudah aktif secara seksual. Jadi, telat haid saat bulan puasa bisa saja wajar, tetapi tetap perlu melihat durasi dan gejalanya.
Bulan puasa memang dapat memengaruhi tubuh, termasuk siklus menstruasi, terutama bila terjadi perubahan asupan makanan, berat badan, dan jam tidur. Namun, haid telat saat Ramadan tidak selalu berarti ada gangguan serius selama masih dalam batas normal. Jika keterlambatan terjadi berulang atau disertai keluhan lain, pemeriksaan secara medis menjadi langkah bijak agar tidak berspekulasi sendiri. Jadi, apakah telat haid yang kamu alami masih dalam rentang normal atau sudah perlu dikonsultasikan?
Referensi
"Does Ramadan fasting has any effects on menstrual cycles?" Iranian Journal of Reproductive Magazine. Diakses pada Februari 2026.
"Ramadan and periods". Islam Relief. Diakses pada Februari 2026.
"The relationship between Ramadan fasting with menstrual cycle pattern changes in teenagers". Science Direct. Diakses pada Februari 2026.