Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkah Haid Sering Telat Datang saat Bulan Puasa Ramadan?
Pembalut menstruasi dipegang dengan satu tangan. (pexels.com/Karola G)

Bulan puasa sering dikaitkan dengan perubahan kondisi tubuh, termasuk soal siklus menstruasi. Tidak sedikit perempuan merasa haid datang lebih lambat di bulan Ramadan, lalu bertanya-tanya apakah puasa menjadi penyebab utamanya.

Pertanyaan ini wajar karena tubuh memang mengalami perubahan jam makan dan waktu istirahat selama Ramadan. Namun, apakah benar bulan puasa bisa membuat haid telat datang, atau ada faktor lain yang lebih berperan? Berikut penjelasan medis yang perlu dipahami sebelum menyimpulkan sendiri.

1. Perubahan asupan makan memengaruhi hormon tubuh

ilustrasi makanan (pexels.com/rangga ispraditya)

Selama puasa, waktu makan bergeser menjadi hanya saat sahur dan berbuka, sehingga asupan kalori sering kali ikut berubah tanpa disadari. Jika jumlah kalori turun drastis atau kualitas gizi kurang seimbang, tubuh dapat menyesuaikan produksi hormon reproduksi. Hormon estrogen dan progesteron sangat bergantung pada kecukupan energi, sehingga kekurangan asupan bisa memicu keterlambatan haid. Kondisi ini lebih mungkin terjadi pada perempuan yang memang membatasi makan secara ketat saat berbuka.

Selain jumlah kalori, komposisi makanan juga berpengaruh. Kekurangan lemak sehat atau protein dapat mengganggu proses pembentukan hormon. Tubuh akan memprioritaskan fungsi vital dibandingkan sistem reproduksi ketika energi terbatas. Akibatnya, ovulasi bisa tertunda dan haid datang lebih lambat dari biasanya. Jadi, bukan puasanya yang langsung menyebabkan telat haid, melainkan perubahan pola makan yang terlalu ekstrem.

2. Perubahan berat badan mengganggu ovulasi

ilustrasi berat badan (pexels.com/Annushka Ahuja)

Sebagian orang mengalami penurunan berat badan selama bulan puasa, terutama jika aktivitas tetap tinggi tetapi asupan kurang mencukupi. Penurunan berat badan yang cepat dapat memengaruhi kerja hipotalamus, bagian otak yang mengatur hormon reproduksi. Saat sinyal dari otak terganggu, proses ovulasi bisa tertunda. Jika ovulasi terlambat, maka haid otomatis ikut mundur.

Sebaliknya, ada juga yang justru mengalami kenaikan berat badan karena konsumsi makanan tinggi gula dan lemak saat berbuka. Lonjakan berat badan yang signifikan dalam waktu singkat juga bisa memengaruhi keseimbangan hormon. Perubahan berat badan, baik turun maupun naik, sama-sama dapat berdampak pada siklus menstruasi. Artinya, fluktuasi berat badan selama bulan puasa menjadi faktor penting yang sering luput diperhatikan.

3. Perubahan jam tidur mempengaruhi produksi hormon

ilustrasi tidur (pexels.com/cottonbro studio)

Bulan puasa sering membuat waktu tidur berkurang karena harus bangun sahur dan menjalankan ibadah malam. Kurang tidur dapat memengaruhi produksi hormon melatonin dan kortisol. Kedua hormon ini berkaitan dengan kerja hormon reproduksi dalam tubuh. Jika kualitas tidur menurun dalam waktu cukup lama, siklus menstruasi bisa ikut bergeser.

Tubuh memerlukan istirahat cukup agar sistem hormon bekerja seimbang. Begadang hampir setiap malam selama satu bulan bisa membuat siklus menjadi tidak teratur. Meski tidak selalu menyebabkan haid telat, perubahan jam tidur dapat memperpanjang fase sebelum ovulasi. Karena itu, menjaga durasi tidur tetap cukup saat bulan puasa menjadi langkah sederhana yang sering diabaikan.

4. Stres fisik saat puasa berperan pada siklus menstruasi

ilustrasi stres (pexels.com/Yan Krukau)

Puasa pada dasarnya aman bagi perempuan sehat, tetapi tubuh tetap mengalami adaptasi terhadap perubahan jadwal makan. Pada sebagian orang, adaptasi ini terasa berat, terutama jika tetap beraktivitas penuh tanpa pengaturan energi yang baik. Tubuh yang kelelahan dapat memengaruhi kerja hormon yang mengatur siklus menstruasi. Dampaknya bisa berupa haid yang datang lebih lambat dari biasanya.

Perlu dipahami bahwa yang dimaksud di sini adalah stres fisik, bukan gangguan emosional. Aktivitas berat tanpa asupan dan istirahat cukup bisa membuat tubuh menunda fungsi reproduksi sementara waktu. Jika kondisi ini terjadi berulang, siklus bisa menjadi tidak teratur. Namun, pada perempuan dengan kondisi fisik baik dan asupan cukup, perubahan ini biasanya tidak signifikan.

5. Telat haid saat bulan puasa bisa jadi hal wajar

ilustrasi telat haid (vecteezy.com/ nuttawan jayawan)

Tidak semua keterlambatan haid saat bulan puasa berarti ada masalah kesehatan serius. Siklus menstruasi normal berkisar antara 21 hingga 35 hari, sehingga mundur beberapa hari masih tergolong wajar. Jika keterlambatan hanya terjadi satu kali dan kembali normal pada bulan berikutnya, biasanya tidak perlu khawatir. Tubuh memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kebiasaan.

Namun, jika haid terlambat lebih dari dua minggu atau disertai keluhan lain seperti nyeri hebat dan perdarahan tidak biasa, sebaiknya periksa ke dokter. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan tidak ada gangguan hormon atau kondisi lain seperti gangguan tiroid dan PCOS. Penting juga memastikan kemungkinan kehamilan bila sudah aktif secara seksual. Jadi, telat haid saat bulan puasa bisa saja wajar, tetapi tetap perlu melihat durasi dan gejalanya.

Bulan puasa memang dapat memengaruhi tubuh, termasuk siklus menstruasi, terutama bila terjadi perubahan asupan makanan, berat badan, dan jam tidur. Namun, haid telat saat Ramadan tidak selalu berarti ada gangguan serius selama masih dalam batas normal. Jika keterlambatan terjadi berulang atau disertai keluhan lain, pemeriksaan secara medis menjadi langkah bijak agar tidak berspekulasi sendiri. Jadi, apakah telat haid yang kamu alami masih dalam rentang normal atau sudah perlu dikonsultasikan?

Referensi

"Does Ramadan fasting has any effects on menstrual cycles?" Iranian Journal of Reproductive Magazine. Diakses pada Februari 2026.

"Ramadan and periods". Islam Relief. Diakses pada Februari 2026.

"The relationship between Ramadan fasting with menstrual cycle pattern changes in teenagers". Science Direct. Diakses pada Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team