Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App

Age Verification

This content is intended for users aged 18 and above. Please verify your age to proceed.

6 Dampak Mengejutkan pada Tubuh Saat Kamu Berhenti Berhubungan Seks
potret pasangan saling diam (freepik.com/freepik)

Ada banyak alasan mengapa kehidupan seks bisa menemui jalan buntu. Mungkin karena kamu dan pasangan sedang mengalami masa sulit, mungkin karena kesibukan yang padat atau karena fokus dalam mengurus anak.

Tanpa kamu sadari, hari berubah menjadi minggu atau bulan, dan kamu tidak menyadari bahwa kamu dan pasangan sudah lama tidak berhubungan seks. Kamu mungkin merasa hal ini bukan masalah besar, namun berhenti berhubungan seks bisa berdampak serius pada tubuh, lho.

Baik itu disengaja atau tidak, keputusan untuk menghentikan aktivitas seks dapat memicu berbagai perubahan dalam tubuh. Lalu, apa saja yang terjadi pada tubuh ketika berhenti berhubungan seks? Simak artikelnya di bawah ini agar jadi pembelajaran bagimu. 

1. Kamu jadi lebih mudah sakit

potret terkenal flu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Saat kamu berhenti berhubungan seks, sistem kekebalan tubuhmu bisa menurun. Kondisi ini membuat tubuh lebih mudah terserang infeksi atau penyakit ringan seperti flu dan batuk. Hal ini dikarenakan, aktivitas seksual ternyata membantu menjaga daya tahan tubuh melalui pelepasan hormon tertentu. Salah satu hormon penting yang berperan dalam hal ini adalah Dehydroepiandrosterone (DHEA).

Hormon DHEA ini membantu tubuh melawan infeksi dan menjaga keseimbangan hormon secara keseluruhan. Jika kadar hormon ini menurun, daya tahan tubuh pun ikut melemah. Akibatnya, kamu jadi lebih rentan sakit dibanding biasanya. Meski begitu, dampaknya bisa berbeda pada setiap orang, tergantung pada gaya hidup, pola makan, dan faktor genetik masing-masing.

2. Tingkat stresmu jadi meningkat

potret seseorang stres (pexels.com/Liza Summer)

Saat kamu berhubungan seks, tubuh secara alami akan melepaskan hormon endorfin, yaitu hormon yang membuatmu merasa bahagia. Hormon ini berperan besar dalam menciptakan perasaan euforia atau senang yang intens. Selain itu, endorfin juga membantu tubuh merasa lebih rileks setelah beraktivitas fisik. Pelepasan hormon ini bahkan dapat menurunkan kadar stres dan membuat suasana hati menjadi lebih baik secara keseluruhan.

Akan tetapi, ketika kamu berhenti berhubungan seks, produksi endorfin dalam tubuhmu bisa menurun. Akibatnya, kamu mungkin merasa lebih mudah stres karena tubuh tidak lagi mendapatkan dorongan hormon kebahagiaan tersebut. Kondisi ini dapat membuatmu merasa lebih tegang dan sulit menenangkan diri. Dalam beberapa kasus, hal ini juga bisa memunculkan rasa cemas atau ketidaknyamanan emosional yang sebelumnya jarang kamu rasakan.

3. Kamu jadi lebih sulit terangsang

ilustrasi sulit terangsang (freepik.com/jcomp)

Ketika kamu berhenti berhubungan seks secara aktif, tubuhmu bisa mulai mengalami perubahan yang memengaruhi gairah seksual, lho. Salah satu dampaknya adalah kamu mungkin merasa lebih sulit terangsang dibanding sebelumnya. Hal ini wajar terjadi karena tubuh sedang beradaptasi dengan kondisi baru tanpa aktivitas seksual. Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi hal ini, seperti perubahan hormon, aktivitas saraf yang menurun, serta kondisi psikologis yang ikut berubah.

Perubahan hormon, terutama kadar testosteron dan estrogen, dapat menurunkan libido dan membuat respons tubuh terhadap rangsangan jadi berbeda. Kurangnya aktivitas saraf akibat tidak adanya rangsangan seksual juga bisa membuat tubuhmu jadi kurang peka terhadap sentuhan atau stimulus erotis. Selain itu, faktor psikologis seperti stres, kecemasan, atau perubahan suasana hati juga dapat memperburuk keadaan. Kondisi emosional yang tidak stabil juga sering kali membuat seseorang semakin sulit untuk merasa terangsang secara alami.

4. Tingkat ketertarikan pada pasangan mulai menurun

potret pasangan saling diam (freepik.com/freepik)

Ikatan emosional di antara kalian juga bisa mulai berkurang. Kamu mungkin merasa hubungan tidak sehangat dulu lagi. Rasa kedekatan dan keintiman kalian sebagai pasangan perlahan memudar tanpa disadari. Akibatnya, muncul perasaan tidak aman dan kurang nyaman dalam hubungan.

Perasaan tidak aman ini bisa membuatmu mencari perhatian atau kenyamanan emosional dari orang lain. Padahal, seks bukan hanya soal kenikmatan fisik, tapi juga cara untuk menjaga koneksi emosional dengan pasangan. Aspek psikologis dan emosional berperan besar dalam kehidupan seksualmu. Oleh karena itu, berhenti berhubungan seks dapat menimbulkan berbagai perubahan dalam perasaan dan dinamika hubungan, lho!

5. Risiko terkena kanker prostat pada laki-laki meningkat

ilustrasi terkena kanker prostat (freepik.com/krakenimages.com)

Ketika seorang laki-laki berhenti berhubungan seks, terutama jika sebelumnya cukup aktif secara seksual, tubuhnya dapat mengalami beberapa perubahan. Salah satunya adalah meningkatnya risiko terhadap gangguan pada prostat, termasuk kanker prostat. Risiko ini muncul karena berkurangnya aktivitas seksual yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh. Selain itu, aliran darah ke area prostat juga bisa menurun, yang berpotensi memengaruhi kesehatan organ tersebut.

Meski hubungan antara berhenti berhubungan seks dan risiko kanker prostat belum sepenuhnya terbukti secara pasti, beberapa penelitian menunjukkan adanya kaitan antara keduanya. Aktivitas seksual yang sehat dan teratur dinilai dapat membantu menjaga fungsi dan kesehatan prostat. Hal ini karena seks yang rutin bisa menyeimbangkan kadar hormon, mengurangi stres, serta memperlancar sirkulasi darah ke prostat. Semua faktor tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan prostat dan menurunkan risiko terjadinya kanker.

6. Dinding vagina bisa melemah

ilustrasi dinding vagina perempuan (freepik.com/freepik)

Saat seorang perempuan berhenti berhubungan seks, otot-otot di dinding vaginanya bisa kehilangan kekuatan dan elastisitas. Aktivitas seksual yang rutin sebenarnya membantu melatih otot di sekitar vagina agar tetap kuat dan sehat. Saat terjadi stimulasi, otot-otot tersebut bekerja dan menjadi lebih lentur. Namun, ketika stimulasi berhenti, otot-otot itu menjadi jarang digunakan.

Akibatnya, kekuatan dan elastisitas otot bisa menurun secara bertahap. Kondisi ini dapat membuat dinding vagina melemah. Dampaknya bisa berbeda pada setiap perempuan, tergantung pada kondisi tubuh dan kebiasaan hidupnya. Secara umum, melemahnya otot vagina bisa menyebabkan penurunan sensasi saat berhubungan, inkontinensia urin atau sulit menahan kencing, hingga risiko prolaps organ panggul atau turunnya organ dari posisi semula.

Berhenti berhubungan seks adalah pilihan pribadi yang sepenuhnya wajar. Namun, kamu tetap perlu memahami bahwa keputusan ini bisa memengaruhi kesehatan fisik maupun emosionalmu.

Beberapa perubahan di atas mungkin tidak terasa dalam waktu dekat, tetapi bisa berdampak dalam jangka panjang jika kamu abaikan. Oleh karena itu, penting untuk tetap menjaga kesehatan tubuh dan keseimbangan emosional dengan cara lain, ya. Semoga membantu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy