Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You
Age VerificationThis content is intended for users aged 18 and above. Please verify your age to proceed.

Girls, Yuk Kenali Vulvitis dan Beberapa Faktanya Berikut Lebih Dalam!

Girls, Yuk Kenali Vulvitis dan Beberapa Faktanya Berikut Lebih Dalam!
doctorinsta.com

Kompleksnya sistem reproduksi wanita membuat kita yang tidak mendalami studi di bidang kesehatan terkait jadi minim wawasan. Berbagai gejala yang coba disampaikan melalui kondisi tertentu juga kerap disalahtafsirkan dan diabaikan. Vulvitis salah satunya. Istilah yang satu ini masih jarang terdengar di telinga kaum hawa sendiri. Padahal, cukup banyak lho wanita yang mengalaminya!

1. Bukan penyakit

breetaylormolyneaux.com.au
breetaylormolyneaux.com.au

Perlu dicatat, vulvitis bukanlah sebuah penyakit. Istilah ini merujuk pada kondisi peradangan vulva, yakni lipatan kulit lembut yang berada di luar vagina. Namun, yang perlu diingat, meski vulvitis sendiri bukanlah sebuah penyakit, tetapi kondisi ini justru dapat menjadi gejala penyakit organ reproduksi wanita lainnya.

Peradangan atau iritasi pada vulva cukup sering terjadi karena kondisi kuli vulva yang lembap. Adapun beberapa penyebab utama vulvitis adalah karena infeksi, cedera, atau alergi. Karena agak susah untuk menentukan secara pasti penyebabnya, maka diagnosis dan penanganan yang tepat jadi cukup menyusahkan.

Sebagai catatan, yang dimaksud dengan vagina sebenarnya adalah saluran otot tertutup dan berada lebih dalam setelah melalui vulva. Nah, vulva sendiri adalah jaringan di sekitar liang vagina dan menjadi bagian paling luar dari keseluruhan sistem reproduksi wanita. Adapun bagian-bagian yang termasuk vulva adalah klitoris, labia, dan vestibulum.

2. Risiko lebih tinggi pada usia non-produktif

durban.getitonline.co.z
durban.getitonline.co.z

Pada dasarnya setiap wanita dari seluruh kelompok usia berisiko mengalami peradangan vulva. Namun, secara umum, wanita yang mempunyai alergi atau sensitivitas lebih tinggi cenderung lebih mudah mengalami vulvitis.

Meski begitu, risiko terbesar wanita yang mengalami vulvitis adalah mereka yang belum mengalami masa pubertas dan setelah menopause. Hal ini disebabkan oleh kadar hormon estrogen yang rendah.

Rendahnya tingkat hormon yang mengatur tumbuh kembang remaja perempuan terutama pada masa puber dan kehamilan ini menjadikan jaringan vulva lebih tipis dan kering. Maka dari itu, vulva jadi lebih rentan terhadap perubahan suhu dan kelembapan.

3. Faktor penyebabnya cukup bervariasi

anoceanview.com
anoceanview.com

Patogen merupakan faktor yang paling sering menyebabkan vulvitis. Patogen ini dapat berupa bakteri seperti klamidia dan gonokus, protozoa seperti trichomonas vaginalis, virus seperti herpes dan papiloma manusia, dan tentu saja jamur seperti candida.

Bahan-bahan dari luar yang cukup iritatif juga berpotensi menimbulkan risiko vulvilis. Seperti contoh adalanh sabun pembersih kewanitaan, deterjen, pewangi pakaian, tisu toilet (terutama yang mengandung pewangi), sabun dan bubble bath (terutama yang mengandung pewangi), sampo, kondisioner, deodoran, zat di dalam air mandi, dan lain-lain.

Pada beberapa kasus, penyakit di kawasan kewanitaan juga menyebabkan vulvitis. Beberapa penyakit ini antara lain kanker vulva (dominan menyerang pada wanita berusia di atas 60 tahun), penyakit kulit, tumor, ulvodynia, dan lain-lain. Di samping itu, perubahan hormonal dan terapi penyinaran juga bisa menimbulkan peradangan pada vulva.

4. Gejala Kerap Diabaikan

nationalpainreport.com
nationalpainreport.com

Gejala vulvitis hampir mirip dengan beberapa gejala pada gangguan kesehatan area kewanitaan lainnya seperti keputihan. Keputihan abnormal yang dihasilkan pun tidak berbeda dengan keputihan yang disebabkan oleh bakteri, jamur, dan patogen pada penyakit lainnya.

Walau begitu, ada gejala lain yang bisa diamati jika mengalami vulvitis. Paling tidak, penderita akan mengalami rasa gatal di bagian genital terutama di malam hari, sensasi panas terbakar di sekitar vulva, kulit sekitar vulva pecah-pecah dan bersisik, penebalan area putih di vulva, serta adanya bengkak berwarna merah pada labia dan vulva dan munculnya benjolan berisi cairan di vulva.

Diagnosis yang dilakukan haruslah melalui konsultasi dengan dokter. Selain melalui penelurusran riawayat penyakit dan keluhan, diagnosis juga melakukan pemeriksaan fisik. Pada beberapa kasus yang dicurigai, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan urin maupun biopsi.

Vulvitis sendiri bukanlah gejala yang terlalu serius, tetapi jangan sampai kamu jadi terlena dan justru jadi bumerang. Karena itu, yuk jaga kesehatan organ wanita dengan lebih baik lagi!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Amanda Lizbeth
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono

Latest in Health

See More

7 Perubahan Payudara Usia 40-an, Apa yang Normal dan Kenapa Terjadi

06 Apr 2026, 23:23 WIBHealth