Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Peptida dalam Fitness: Efektif atau Berisiko?

Peptida dalam Fitness: Efektif atau Berisiko?
ilustrasi suplemen peptida untuk fitness (pexels.com/Guto Macedo)
Intinya Sih
  • Peptida dalam dunia fitness berfungsi sebagai molekul sinyal yang memengaruhi hormon pertumbuhan, membantu pembentukan otot, mempercepat pemulihan jaringan, serta mendukung metabolisme lemak dan daya tahan tubuh.

  • Beberapa jenis peptida menunjukkan potensi meningkatkan massa otot tanpa lemak serta mempercepat penyembuhan cedera, meski bukti ilmiah pada manusia masih terbatas.

  • Penggunaan peptida memiliki risiko serius seperti gangguan hormon dan legalitas yang belum jelas; penggunaannya sebaiknya di bawah pengawasan medis dan bukan pengganti latihan, nutrisi, atau istirahat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dunia fitness terus berkembang, dan bersama itu muncul berbagai pendekatan baru untuk meningkatkan performa dan pemulihan. Salah satu yang sering dibicarakan adalah peptida, molekul kecil yang disebut-sebut mampu membantu pertumbuhan otot, mempercepat pemulihan, hingga meningkatkan daya tahan.

Peptida bekerja pada level biologis yang lebih dalam, berinteraksi langsung dengan sistem hormon dan sel tubuh. Memahami manfaatnya berarti juga memahami batasan, risiko, dan konteks penggunaannya dalam dunia kebugaran.

Table of Content

Apa itu peptida?

Apa itu peptida?

Peptida adalah rantai pendek asam amino (blok penyusun protein) yang berfungsi sebagai molekul sinyal dalam tubuh. Mereka membantu mengatur berbagai proses, termasuk:

  • Pertumbuhan jaringan.
  • Respons imun.
  • Metabolisme energi.

Dalam konteks fitness, beberapa peptida menarik perhatian karena kemampuannya memengaruhi hormon seperti hormon pertumbuhan/growth hormone (GH).

Peptida tertentu dapat merangsang pelepasan GH, yang berperan penting dalam pertumbuhan otot dan perbaikan jaringan.

Manfaat peptida

Ilustrasi latihan otot.
ilustrasi latihan otot (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Dalam fitness, berikut ini beberapa potensi manfaat peptida:

1. Meningkatkan pertumbuhan otot (hipertrofi otot)

Beberapa peptida, seperti growth hormone-releasing peptides (GHRPs), bekerja dengan merangsang produksi hormon pertumbuhan.

GH memiliki efek:

  • Meningkatkan sintesis protein.
  • Mempercepat regenerasi sel.
  • Mendukung pertumbuhan otot.

Studi menunjukkan bahwa peningkatan GH dapat meningkatkan massa tubuh tanpa lemak (lean body mass). Namun, penting dicatat bahwa efek ini sangat bergantung pada dosis, kondisi individu, dan kombinasi dengan latihan.

2. Mempercepat pemulihan dan penyembuhan

Salah satu manfaat paling menarik dari peptida adalah potensinya dalam mempercepat pemulihan jaringan.

Contohnya:

  • BPC-157: dikaitkan dengan penyembuhan tendon dan ligamen.
  • TB-500: berperan dalam regenerasi jaringan.

Penelitian pada model hewan menunjukkan bahwa peptida ini dapat mempercepat penyembuhan luka dan cedera jaringan lunak.

Dalam konteks latihan, manfaatnya:

  • Mengurangi waktu pemulihan.
  • Membantu kembali latihan lebih cepat.
  • Mengurangi risiko cedera berulang.

Namun, bukti pada manusia masih terbatas, butuh penelitian lebih lanjut.

3. Meningkatkan pembakaran lemak (fat loss)

Peptida tertentu juga berperan dalam metabolisme lemak. GH yang dipicu oleh peptida dapat meningkatkan lipolisis (pemecahan lemak) dan mengurangi penyimpanan lemak.

Menurut penelitian, hormon pertumbuhan memiliki efek signifikan terhadap komposisi tubuh, termasuk pengurangan lemak tubuh. Akan tetapi, efek ini biasanya tidak instan dan tetap bergantung pada pola makan serta aktivitas fisik.

4. Meningkatkan daya tahan dan energi

Beberapa peptida, seperti analog erythropoietin atau yang memengaruhi oksigenasi jaringan, dikaitkan dengan peningkatan endurance.

Efek potensialnya:

  • Peningkatan kapasitas oksigen.
  • Penundaan kelelahan.
  • Performa lebih stabil dalam durasi panjang.

Meski demikian, banyak dari peptida ini masuk dalam kategori doping dan dilarang dalam kompetisi olahraga oleh World Anti-Doping Agency (WADA).

5. Mendukung kesehatan sendi dan jaringan

Peptida juga berperan dalam produksi kolagen, elastisitas jaringan, dan kesehatan sendi. Ini penting bagi pelari, lifter, dan atlet dengan beban berulang tinggi.

Penelitian menunjukkan, dukungan terhadap jaringan ikat dapat membantu mengurangi risiko cedera pada atlet.

Risiko dan hal lainnya yang perlu diwaspadai

Walaupun terdengar menjanjikan, tetapi penggunaan peptida tidak lepas dari risiko:

Pertama adalah regulasi dan legalitas. Banyak produk peptida yang:

  • Tidak disetujui untuk penggunaan umum.
  • Hanya untuk penelitian.
  • Dilarang dalam kompetisi olahraga.

Kedua, potensi efek sampingnya meliputi:

  • Gangguan hormon.
  • Retensi cairan.
  • Resistansi insulin.

Terakhir, dan juga sangat penting, adalah kurangnya bukti jangka panjang. Sebagian besar penelitian masih berskala kecil, berbasis hewan, dan belum memiliki data jangka panjang pada manusia.

Penggunaan hormon atau peptida tanpa indikasi medis dapat membawa risiko kesehatan serius.

Apakah penggunaan peptida diperlukan untuk fitness?

Ilustrasi latihan beban.
ilustrasi latihan beban (pexels.com/Jonathan Borba)

Untuk sebagian besar orang, fondasi utama tetap:

  • Latihan terstruktur.
  • Nutrisi yang tepat.
  • Istirahat cukup.

Peptida mungkin memiliki potensi sebagai alat tambahan, tetapi:

  • Bukan pengganti dasar latihan.
  • Tidak diperlukan untuk hasil optimal.
  • Harus digunakan dengan pengawasan medis.

Peptida menawarkan potensi peningkatan performa, mempercepat pemulihan, dan mendukung komposisi tubuh. Namun, di balik itu ada risiko yang tidak boleh diabaikan. Dalam fitness, hasil terbaik tetap datang dari konsistensi, bukan jalan pintas. Pada akhirnya, tubuh yang kuat dibangun dari bagaimana merawatnya secara menyeluruh.

Referensi

C.B. Chan, Margaret C.L. Tse, and Christopher H.K. Cheng, “Regulation and Mechanism of Growth Hormone and Insulin-like Growth Factor-I Biosynthesis and Secretion,” in Elsevier eBooks, 2006, 7–23, https://doi.org/10.1016/b978-012088484-1/50004-5.

H Liu et al., “Systematic Review: The Effects of Growth Hormone on Athletic Performance,” Database of Abstracts of Reviews of Effects (DARE): Quality-assessed Reviews - NCBI Bookshelf, 2008, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK75460/.

Predrag Sikiric et al., “Stable Gastric Pentadecapeptide BPC 157 May Recover Brain–Gut Axis and Gut–Brain Axis Function,” Pharmaceuticals 16, no. 5 (April 30, 2023): 676, https://doi.org/10.3390/ph16050676.

Gudmundur Johannsson et al., “Growth Hormone Treatment of Abdominally Obese Men Reduces Abdominal Fat Mass, Improves Glucose and Lipoprotein Metabolism, and Reduces Diastolic Blood Pressure1,” The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 82, no. 3 (March 1, 1997): 727–34, https://doi.org/10.1210/jcem.82.3.3809.

World Anti-Doping Agency. “Prohibited List.” Diakses April 2026.

“Biology of Tendon Injury: Healing, Modeling and Remodeling,” PubMed, June 1, 2006, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16849830/.

Endocrine Society. “Hormone use and misuse.” Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More