Ibnu Jamil soal Bedanya Jadi Dubber dan Voice Actor, Susah Mana?

- Ibnu Jamil membagikan pengalamannya menjadi voice actor dan menjelaskan perbedaan mendasar dengan profesi dubber yang selama ini sering dianggap sama.
- Ia menilai kedua profesi punya tantangan unik, terutama saat harus berimajinasi penuh untuk membangun emosi tanpa lawan main nyata di depan mata.
- Ibnu mengaku tantangan terbesar sebagai voice actor adalah berakting hanya dengan panduan sketsa di monitor, berbeda dengan syuting film live action yang lebih realistis.
Jakarta, IDN Times - Biasa berakting di depan kamera, kali ini Ibnu Jamil membagikan pengalamannya saat harus mengisi suara sebuah karakter. Walau pertama kali menjadi voice actor, ia pernah berpengalaman berakting di balik mikrofon studio saat menjadi dubber.
Walau kedengarannya sama, faktanya dua pekerjaan ini benar-benar berbeda. Ibnu Jamil pun menjelaskan bagaimana proses keduanya. Di antara voice actor dan dubber, mana yang menurut Ibnu Jamil susah, ya?
1. Ibnu Jamil jelaskan perbedaan voice actor dan dubber

Sebelum terlibat di proyek animasi ini sebagai voice actor, Ibnu sudah pernah merasakan pengalaman mengisi suara untuk film yang sudah jadi alias menjadi dubber. Dari situ dia langsung merasakan perbedaan mendasar antara dua pekerjaan yang sering dianggap sama ini.
"Kalau dubber itu filmnya udah ada. Tinggal gimana caranya kita isi suara. Tapi kalau animasi, itu dimulai dari suara dulu. Kita ambil suaranya, sesuai dengan kebutuhan emosi dan kebutuhan setiap adegannya juga. Setelah itu, baru nanti di-adjust sama gambarnya," ujar Ibnu Jamil saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa (28/4/2026).
2. Ibnu Jamil menilai setiap profesi ada tantangannya tersendiri

Meski serupa tapi tak sama, Ibnu Jamil masih merasa dua-duanya adalah hal yang menantang. Namun secara khusus, ia menceritakan kesulitannya saat jadi pengisi suara.
"Kalau ini (voice actor), kita membangun rasanya juga. Penuh dengan daya imajinasi yang luas. Kayak misalnya, saya sebagai ayahnya ngelihat Keanu Azka lagi main bola, itu harus ngebayangin semuanya," tutur aktor kelahiran 1981 ini.
"Kan gak mungkin, Keanu beneran main bola di depan saya. Agak repot ya," lanjutnya sambil tertawa.
3. Ibnu Jamil merasa tertantang harus berakting dengan monitor

Tanpa film yang sudah jadi, Ibnu harus mengandalkan layar monitor berisi sketsa atau gambar kasar sebagai satu-satunya referensi visual saat berakting. Ini yang disebutnya sebagai tantangan paling berbeda dibanding syuting film biasa.
"Challenge-nya ini, mainnya itu sama monitor, kita itu ngeliatnya monitor alias TV-nya, gambarnya, sketch-nya. Tapi kalau kita syuting film live action, kita bisa ngelihat, kita bisa tahu rasanya lebih real," ujarnya.
Kamu bisa mendengarkan suara Ibnu Jamil sebagai ayah dari tokoh Putra di film Garuda di Dadaku. Film animasi produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation ini akan berlayar di bioskop pada 11 Juni 2026, tepat saat Piala Dunia dimulai!










![[QUIZ] Dari Pengetahuan soal Member, Yakin Kamu Fans Team Love JKT48?](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_d001bb55027649ba54d263db203f7118_e76e20da-256e-4a77-be6a-55f4d0e9853e.png)







