Kisah Di Balik Lokasi Syuting Film Na Willa, Bebas Asap Rokok dan Ada Jam Tidur Siang

- Proses syuting film Na Willa dijalankan dengan konsep bebas asap rokok untuk menjaga kesehatan dan mood para aktor cilik serta menciptakan suasana kerja yang kondusif bagi seluruh kru.
- Durasi syuting dibatasi hanya 8–10 jam per hari, disertai waktu istirahat dan tidur siang agar anak-anak tidak kelelahan dan kualitas produksi tetap optimal.
- Tim produksi menyediakan makanan sehat dan membatasi konsumsi kopi serta gorengan, demi menjaga energi kru dan memastikan lingkungan kerja tetap bersih serta nyaman.
Surabaya, IDN Times - Siang itu, cuaca Surabaya yang cukup panas ditambah dengan suhu AC tidak terlalu dingin, tak menyurutkan semangat saya untuk berbincang dengan Yadi Sugandi, Director of Photography film Na Willa (2026). Kami membahas berbagai hal seputar film arahan Ryan Adriandhy itu, salah satunya tentang suasana syuting “sehat” yang sempat menjadi perbincangan di sosial media beberapa waktu lalu.
Sempat jadi perbincangan, terutama karena proses syuting yang bebas asap rokok, sebenarnya menciptakan lingkungan syuting sehat dan kondusif untuk film anak-anak adalah hal yang lazim dilakukan. Hal tersebut tidak hanya memberikan dampak positif bagi para aktor cilik, tapi juga kru di lokasi.
"Saya pikir normal kok itu, bukan sesuatu hal yang berbeda di dunia industri. Mem-push waktu syuting lebih dari 18 kerja jam itu justru tidak benar. Itu mengeksploitasi anak-anak kecil. Jadi kami sangat menjaga quality semuanya," ungkap Yadi Sugandi pada Jumat, 27 Maret 2026.
Ia melanjutkan, "Efeknya ya ke kru juga, karena ada istirahat yang baik, waktu salat yang baik, ada istirahat. Jadi kru juga kondisi fisiknya bagus, hasilnya akan bagus."
Yadi pun mengungkapkan bahwa, selain bebas asap rokok, tim produksi sengaja menyiapkan waktu untuk tidur siang hingga menyediakan makanan sehat untuk menunjang kondisi nyaman tersebut.
1. Syuting Na Willa bebas asap rokok, karena ingin menciptakan lingkungan sehat, agar mood anak-anak terjaga

Tim produksi mendesain lingkungan syuting sehat untuk menjaga mood para aktor cilik. Selain membuat suasana syuting tetap ceria dan tidak menegangkan, tim produksi juga melarang asap rokok atau vape.
"Jadi memang kita berharap banget, ini kan filmnya ceria tentang Na Willa dan teman-temannya, makanya kita jaga. Salah satu contohnya, tidak ada asap rokok atau vape," tutur Yadi kepada IDN Times dalam wawancara untuk program Cerita Orang Dalam atau #COD.
Bagi kru yang ingin merokok masih tetap bisa, namun mereka harus menjauh sejenak dari lokasi syuting. Terlebih lagi, adegan dalam ruangan diproduksi di dalam studio yang memang bebas asap rokok.
2. Syutingnya 8 sampai 10 jam, itu belum termasuk waktu tidur siang dan makan

Setiap harinya, produksi film Na Willa (2026) hanya berlangsung sekitar 8 sampai 10 jam, tapi belum termasuk jam makan siang dan istirahat. Durasi jam kerja ini diberlakukan untuk menghindari mood para aktor cilik menjadi tidak stabil karena kelelahan.
"Anak kecil itu punya mood yang buruk ketika dia capek atau kurang istirahat. Jadi memang kami menargetkan pas makan siang, terus itu waktunya dzuhur, kita tambah lagi kurang lebih setengah jam untuk anak-anak tidur," jelas Director of Photography yang juga menangani film Petualangan Sherina 2 (2023) ini.
Dengan durasi maksimal 10 jam per hari, ternyata film Na Willa (2026) hanya membutuhkan waktu syuting selama 27 hari. Setiap harinya, mereka hanya memproduksi empat sampai lima page length atau satu halaman naskah yang setara satu menit.
"Paling gak empat atau lima lembar dari naskah. Kami berusaha untuk tidak melangkahi itu, karena empat atau lima lembar skenario, ada treatment menghafal dialognya, treatment kamera movement, treatment kita harus benerin ini itu," lanjutnya.
3. Makanannya juga sehat, gak cuma gorengan dan kopi aja

Uniknya lagi, saat syuting berlangsung, tidak ada kopi atau jajanan yang sengaja diedarkan dari satu kru ke kru lainnya. Selain itu, menu snack yang disediakan untuk para kru gak melulu kopi dan gorengan.
"Makanan tidak ngeluyur, tidak muter-muter di kopi aja. Kalau mau ngopi ke kantin. Yang ada di lokasi hanya tumbler. Even kue-kue itu juga gak ada yang seperti biasa ngeder," ujar Yadi mengingat momen syuting film Na Willa (2026).
Selain itu, menu sarapan yang disediakan juga lebih sehat. Kadang di lokasi syuting ada gorengan, tapi itu yang dibeli secara pribadi oleh kru, bukan disiapkan rumah produksi.
"Gak ada lontong sayur yang pagi-pagi santen. Walaupun juga ada nasi goreng. Saya makan rebus-rebusan. Semuanya makanan sehat," tambahnya.
Suasana syuting yang menyenangkan gak cuma di lokasi adegan diambil, tapi juga tempat para kru beristirahat. Rumah produksi sengaja menyiapkan catering dan kursi-kursi di dalam tenda panjang untuk makan para kru.
"Selama ini mungkin kita ngelihat makan pagi-pagi di trotoar, makan nasi kotak. Kami gak ada yang kayak gitu. Kami makan catering di kursi di dalam tenda panjang bersama-sama," cerita Yadi yang juga pernah menangani film La Tahzan (2025) ini.
Gak hanya untuk para aktor cilik, lingkungan syuting yang sehat ini juga memberikan dampak positif bagi para kru. Selain itu, semakin sehat lingkungan syuting, maka kualitas pengerjangan filmnya pun akan terjaga.



















