Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Film Hamnet (2026), Kisah Pilu di Balik Tragedi Shakespeare
Hamnet (dok. Focus Features/Hamnet)

Perasaan manusia kadang menemukan bentuknya yang paling jujur melalui seni bercerita. Hamnet (2026) adalah contoh yang tepat. Film garapan sutradara pemenang Oscar, Chloé Zhao, ini berkisah tentang kehidupan William Shakespeare (Paul Mescal), istrinya Agnes (Jessie Buckley), serta keluarga kecil mereka di Stratford, Inggris.

William mengaku bukan sosok yang pandai berbicara dari hati ke hati. Namun sebagaimana kita tahu, ia adalah seorang pencerita ulung. Maka sebagai pengganti percakapan, dan cara menyingkap isi hatinya, William menuturkan legenda "Orpheus dan Eurydice" kepada Agnes. Sang istri pun terpikat oleh kisah tersebut. Pertanyaannya adalah, apakah Hamnet juga mampu memikat kita sebagai penonton?

Sinopsis film Hamnet (2026)

Berlatar tahun 1596, Hamnet mengisahkan kehancuran hati William dan Agnes saat anak laki-laki mereka yang berusia 11 tahun, Hamnet, meninggal dunia akibat wabah pes yang melanda Inggris.

Film ini membuka cerita dengan teks yang menjelaskan bahwa di Stratford, "Hamlet" dan "Hamnet" dianggap sebagai dua nama yang sama. Pernyataan tersebut merujuk pada hipotesis populer bahwa Shakespeare menulis drama Hamlet sebagai bentuk katarsis, yakni caranya memahami duka dan rasa bersalah setelah kehilangan putranya.

Melalui pendekatan yang memadukan fakta sejarah dan pendekatan emosional, Hamnet mencoba menggambarkan bagaimana tragedi keluarga Shakespeare menjadi sumber inspirasi bagi salah satu karya terbesar dalam sejarah teater.

Hamnet
2026
4/5
Directed by Chloé Zhao
ProducerLiza Marshall, Pippa Harris, Nicolas Gonda, Sam Mendes, Steven Spielberg
WriterMaggie O'Farrell (novel), Chloé Zhao (naskah)
Age RatingD17
GenrePeriod drama, costume drama, history, tragedy
Duration125 Minutes
Release Date27 Februari
ThemeBiographical period drama
Production HouseFocus Features
Where to WatchBioskop
CastJessie Buckley, Paul Mescal, Emily Watson, Joe Alwyn, Jacobi Jupe

Trailer Hamnet (2026)

1. Chloé Zhao membuka cerita lewat perspektif Agnes

Menariknya, Hamnet bukan kisah tentang William Shakespeare semata. Tokoh pertama yang ditemui penonton justru Agnes Hathaway, yang lebih sering dikenal sebagai Anne Hathaway dalam catatan sejarah.

Film dibuka dengan Agnes yang berjalan di tengah hutan, dengan sorotan lanskap yang sunyi tapi terasa hidup. Seperti dalam film-film Zhao sebelumnya, alam tidak sekadar menjadi latar, melainkan bagian dari emosi cerita.

Melalui sinematografi Łukasz Żal (Cold War, The Zone of Interest), Zhao coba menghadirkan hubungan spiritual antara manusia dan alam. Hutan terasa seperti ruang mistis yang menyimpan banyak rahasia, tempat di mana Agnes menyatu sebagai bagian dari alam itu sendiri.

Bahkan sepanjang film, Agnes dicurigai sebagai "anak penyihir hutan" oleh orang-orang. Ia dipercaya memiliki kemampuan membaca masa depan seseorang hanya dengan menggenggam tangannya. Banyak yang percaya, termasuk William. Meski begitu, Hamnet tidak pernah secara tegas mengonfirmasi kebenaran hal tersebut, walau aura mistisisme yang mengelilinginya tetap menjadi fondasi emosional cerita.

2. Drama keluarga yang perlahan berubah menjadi tragedi

Semua indah pada awalnya. Kehidupan Agnes dan William terasa penuh harapan. Mereka menikah meskipun sempat menghadapi penolakan keluarga, lalu membangun rumah tangga dengan tiga anak: Susanna, Judith, dan Hamnet. Namun, kebahagiaan itu tidak sepenuhnya utuh.

William merasa terkekang oleh kehidupan monoton di Stratford yang terlalu sempit bagi ambisinya. Paul Mescal sukses menyampaikan frustrasi ini dengan tajam, terutama dalam adegan ketika William mengalami writer's block di kamarnya yang sempit. Sungguh terasa menyesakkan.

Agnes kemudian meminta kakaknya, Bartholomew (Joe Alwyn), mengirim William ke London agar ia bisa mengejar kariernya di dunia teater. Di sinilah film secara subtil menyentuh dinamika peran gender. William "terbang" bebas mengejar ambisinya, sementara Agnes justru terjebak dalam kehidupan domestik yang menjauhkannya dari hutan, tempat yang selama ini terasa seperti rumah baginya.

Namun setelah kematian Hamnet, film ini memasuki wilayah yang lebih spekulatif. Dilanda rasa bersalah dan duka yang mendalam, William mulai menulis "The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark." Dalam film ini, proses kreatif tersebut digambarkan sebagai upaya memahami kehilangan yang tak dapat ia ucapkan.

Zhao menampilkan pementasan Hamlet dengan latar lukisan hutan yang besar. Di tengah lukisan terdapat lubang gelap menyerupai rongga pohon, tempat yang mengingatkan Agnes pada hutan yang dulu sering ia kunjungi. Di sinilah film mengemukakan gagasan utamanya: seni mungkin tidak nyata, tetapi emosi yang diciptakannya bisa jadi nyata.

Namun hubungan antara tragedi Hamnet dan cerita Hamlet terkesan terlalu dijelaskan secara eksplisit. Adegan William mendeklamasikan monolog "To be, or not to be" misalnya, terasa sedikit terlalu gamblang bagi film yang sebenarnya sudah cukup puitis.

3. Akting Jessie Buckley dan Paul Mescal menjadi pusat emosi film

Secara akting, Hamnet ditopang oleh dua penampilan yang sangat kuat. Paul Mescal memainkan Shakespeare sebagai sosok yang emosinya sering tertahan. Ketika rasa marah atau frustrasi meledak, ekspresinya terasa sangat manusiawi. Namun film ini benar-benar milik Jessie Buckley.

Ketika wabah pes merenggut nyawa Hamnet, Zhao menempatkan kamera sangat dekat dengan wajah Agnes. Dalam adegan tersebut, Buckley mengeluarkan jeritan yang terasa liar dan menyayat, satu momen yang hampir pasti selalu jadi bahan pembicaraan di musim penghargaan.

Bahkan Jacobi Jupe sebagai Hamnet tampil begitu matang untuk usianya. Belum genap 13 tahun, ia mampu berakting dengan kepekaan ala pelakon dewasa. Melalui sorot matanya, ia sukses menggambarkan rasa takut saat menghadapi kematian. Lagipula, tak ada yang lebih menakutkan daripada pergi meninggalkan orang tercinta, bukan?

4. Film yang memikat secara emosional, meski kadang terasa manipulatif

Sebagai satu sajian sinema yang utuh, Hamnet terasa kuat ketika ia membiarkan gambar dan suara berbicara sendiri. Kolaborasi Zhao dengan sinematografer Łukasz Żal, komposer Max Richter, dan perancang suara Johnnie Burn sukses menciptakan atmosfer hutan yang rimbun, penuh tekstur, dan sedikit meresahkan.

Namun film ini juga tidak luput dari kritik. Beberapa penonton mungkin merasa dramanya terlalu manipulatif, terutama pada beberapa adegan yang secara terang-terangan menekan emosi penonton. Selain itu, fokus cerita yang terus bergeser dari romansa, drama keluarga, isu gender, hingga refleksi seni membuat narasinya terasa tidak konsisten.

Meski begitu, konklusinya berhasil menyatukan berbagai elemen tersebut. Ketika Agnes menyaksikan pementasan Hamlet, realitas duka dan fiksi panggung saling bertaut. Dalam momen tersebut, Zhao menunjukkan bagaimana seni bisa menjadi media penyembuhan bagi luka.

5. Apakah Hamnet layak ditonton?

Dengan pendekatan visual yang puitis dan akting pemeran utama yang kuat (sampai mendapatkan nominasi Oscar), Hamnet berhasil menjadi drama sejarah yang emosional sekaligus reflektif. Meski tidak selalu mulus secara naratif, film ini menawarkan pengalaman sinematik yang menyentuh, terutama melalui performa luar biasa dari Jessie Buckley.

Pada akhirnya, Hamnet mengingatkan kita bahwa magnum-opus seringkali lahir dari luka yang tak terucapkan. Dan dalam kasus Shakespeare, mungkin rasa sakit itulah yang terejawantahkan menjadi salah satu drama terbesar dalam sejarah manusia tercipta. Jika kamu menyukai drama yang emosional dan penuh refleksi tentang duka dan kehilangan, Hamnet adalah film yang patut disaksikan di bioskop.

Editorial Team