Semua indah pada awalnya. Kehidupan Agnes dan William terasa penuh harapan. Mereka menikah meskipun sempat menghadapi penolakan keluarga, lalu membangun rumah tangga dengan tiga anak: Susanna, Judith, dan Hamnet. Namun, kebahagiaan itu tidak sepenuhnya utuh.
William merasa terkekang oleh kehidupan monoton di Stratford yang terlalu sempit bagi ambisinya. Paul Mescal sukses menyampaikan frustrasi ini dengan tajam, terutama dalam adegan ketika William mengalami writer's block di kamarnya yang sempit. Sungguh terasa menyesakkan.
Agnes kemudian meminta kakaknya, Bartholomew (Joe Alwyn), mengirim William ke London agar ia bisa mengejar kariernya di dunia teater. Di sinilah film secara subtil menyentuh dinamika peran gender. William "terbang" bebas mengejar ambisinya, sementara Agnes justru terjebak dalam kehidupan domestik yang menjauhkannya dari hutan, tempat yang selama ini terasa seperti rumah baginya.
Namun setelah kematian Hamnet, film ini memasuki wilayah yang lebih spekulatif. Dilanda rasa bersalah dan duka yang mendalam, William mulai menulis "The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark." Dalam film ini, proses kreatif tersebut digambarkan sebagai upaya memahami kehilangan yang tak dapat ia ucapkan.
Zhao menampilkan pementasan Hamlet dengan latar lukisan hutan yang besar. Di tengah lukisan terdapat lubang gelap menyerupai rongga pohon, tempat yang mengingatkan Agnes pada hutan yang dulu sering ia kunjungi. Di sinilah film mengemukakan gagasan utamanya: seni mungkin tidak nyata, tetapi emosi yang diciptakannya bisa jadi nyata.
Namun hubungan antara tragedi Hamnet dan cerita Hamlet terkesan terlalu dijelaskan secara eksplisit. Adegan William mendeklamasikan monolog "To be, or not to be" misalnya, terasa sedikit terlalu gamblang bagi film yang sebenarnya sudah cukup puitis.