Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sutradara Jelasin Ending Lee Cronin's The Mummy, Ternyata Diubah!

Sutradara Jelasin Ending Lee Cronin's The Mummy, Ternyata Diubah!
Lee Cronin's The Mummy (dok. Warner Bros. Pictures/Lee Cronin's The Mummy)

Film Lee Cronin's The Mummy (2026) berpusat pada satu pertanyaan, "Apa yang terjadi pada Katie?" Bagaimana jika yang kembali dari dirinya bukan sekadar tubuh, tapi sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih licik? Itulah pertanyaan yang menghantui The Mummy sejak menit pertama. Film ini bukan sekadar kisah horor tentang kutukan Mesir, tapi puzzle emosional tentang keluarga yang perlahan dihancurkan dari dalam.

Rilis di bioskop pada 15 April 2026, The Mummy perlahan membuka rahasia di balik kepulangan Katie Cannon yang tampak seperti keajaiban, tetapi sebenarnya adalah awal dari mimpi buruk. Lewat ending-nya yang ambigu sekaligus brutal, Lee Cronin tidak hanya memberi jawaban, tapi juga meninggalkan ruang interpretasi yang bikin merinding. Yuk, kita bedah satu per satu!

Awas, artikel ini mengandung spoiler!

Table of Content

1. Apa sebenarnya yang terjadi pada Katie Cannon?

1. Apa sebenarnya yang terjadi pada Katie Cannon?

Sosok berwajah pucat dengan ekspresi menyeramkan berdiri di ruangan remang, menampilkan suasana horor dari film Lee Cronin's The Mummy.
Lee Cronin's The Mummy (dok. Warner Bros. Pictures/Lee Cronin's The Mummy)

Kunci dari plot film ini ada pada satu fakta mengerikan: Katie tidak pernah benar-benar "pulang." Ia menjadi wadah bagi entitas kuno bernama Nasmaranian, sosok yang dikenal sebagai "Penghancur Keluarga." Makhluk ini bukan hanya merasuki, tapi juga merusak keluarga.

Selama delapan tahun, Katie dijadikan penjara hidup melalui ritual kuno oleh keluarga sang penyihir. Saat ia ditemukan dan dibawa pulang, segel itu ikut terbuka. Menariknya, film memberi petunjuk bahwa Katie masih "ada" di dalam dirinya. Momen itu terjadi ketika ia mencoba berkomunikasi dengan ayahnya lewat kode Morse melalui gemeretak giginya.

Di akhir film, situasi berubah menjadi lebih kelam. Charlie (ayah Katie) justru dirasuki. Dalam upaya balas dendam, keluarga Cannon berencana memindahkan Nasmaranian ke tubuh sang penyihir. Secara moral, ini terasa seperti keadilan. Tapi secara logika? Ini perjudian berbahaya. Jika satu-satunya orang yang memahami ritual itu disingkirkan, siapa yang akan menjaga Nasmaranian selanjutnya?

2. Berbeda dari versi lama, film ini bukan sekadar kisah mumi

Beberapa kru film berinteraksi dengan aktor berpenampilan menyeramkan di lokasi syuting film horor Lee Cronin's The Mummy.
Lee Cronin's The Mummy (dok. Warner Bros. Pictures/Lee Cronin's The Mummy)

Kalau kamu tumbuh dengan versi petualangan The Mummy (1999) ala Brendan Fraser, bersiaplah untuk ditampar lewat film ini. Versi Lee Cronin tidak tertarik pada harta karun atau petualangan epik. Ia justru membawa horor itu ke ruang paling dekat: rumah.

Menurut Cronin, ini adalah cerita tentang "mumifikasi" tapi untuk tujuan berbeda. Bukan lagi soal raja atau firaun, tapi tentang orang biasa dengan rahasia kelam. Teror dalam film ini pun terasa lebih personal, lebih sempit, tapi justru karena itu lebih menyesakkan.

"Perbedaan utamanya adalah ini adalah film mumi yang benar-benar menakutkan. Jadi, alih-alih tentang rahasia besar yang terkait dengan politik dan hierarki, ini sebenarnya adalah rahasia keluarga kecil," kata sang pembuat film kepada Entertainment Weekly (1/4/2026).

Dalam percakapan yang ama, produser James Wan menyebut film ini sebagai upaya kembali ke akar monster klasik yang benar-benar menakutkan, bukan cuma hiburan. Dan memang terasa, karena horor di sini tak cuma visual tapi juga emosional. Ada kombinasi body horror, kerasukan, dan misteri.

"Jika kalian memikirkan mumi, kalian pasti akan membayangkan firaun, raja, ratu, orang kaya. Salah satu hal yang kami bicarakan sejak awal adalah: Bagaimana jika (kisah) mumi itu adalah tentang orang biasa?" tegas Cronin.

3. Lee Cronin mengubah ending film karena dianggap terlalu gore

Sutradara dan kru film sedang mengarahkan adegan dengan kamera besar di lokasi syuting, menampilkan aktor berpenampilan menyeramkan berlumur darah.
Lee Cronin's The Mummy (dok. Warner Bros. Pictures/Lee Cronin's The Mummy)

Menariknya, ending yang kita lihat di bioskop ternyata bukan versi awal. Lee Cronin sempat merancang akhir cerita yang jauh lebih gelap, berfokus pada pengorbanan Charlie. Namun, reaksi penonton uji coba berkata lain. Ending tersebut dianggap terlalu suram tanpa memberi "ruang bernapas." Akhirnya, Cronin memutuskan untuk mengubah arahnya.

"Kami mengakhiri film lebih awal. Kami mengakhirinya (dan) lebih berfokus pada pengorbanan Charlie, yang sangat penting bagi saya, tetapi itu membuat penonton merasa sedikit kurang lengkap. Saya sangat peduli agar penonton tak cuma merasa tegang, tetapi juga merasa lega atau bersorak," ujarnya pada The Hollywood Reporter (20/4/2026).

Cronin mengakui ingin tetap membuat karakternya menderita, tapi tidak ingin meninggalkan penonton dalam kehampaan total. Karena itu, ending yang sekarang terasa seperti kompromi. Kelam, tapi ada secercah harapan. Harapan itu hadir dalam bentuk keputusan keluarga Cannon untuk melawan, bukan menyerah. Meski konsekuensinya belum jelas, setidaknya mereka tidak lagi menjadi korban.

"Kita harus sedikit memberi mereka (penonton) kelonggaran di akhir. Kita tidak bisa membiarkan mereka terperangkap dalam momen-momen ini," lanjutnya.

Dan di situlah kekuatan ending The Mummy versi baru ini. Ia tidak memberi kepastian, tapi memberi pilihan. Apakah ini akhir dari teror, atau justru awal dari kisah baru? Lee Cronin's The Mummy sedang tayang di bioskop Indonesia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria
Follow Us

Related Articles

See More

Review Mother Mary, Kisah Melodrama Mistik Sang Diva Anne Hathaway

24 Apr 2026, 05:39 WIBHype