4 Bentuk Kritik Sosial yang Tersirat dalam Drakor Honour, Sadar Gak?

- Drakor *Honour* menyoroti perjuangan tiga pengacara menghadapi kasus penuh ancaman, menggambarkan kerasnya perjuangan menegakkan keadilan di tengah tekanan dan kekuasaan yang menyimpang.
- Kritik sosial muncul lewat isu penyalahgunaan harta, tahta, serta ketidakadilan terhadap korban pelecehan seksual yang kerap disudutkan oleh sistem hukum dan opini publik.
- Serial ini juga menyinggung bahaya bagi jurnalis dan pengungkap kebenaran, memperlihatkan minimnya ruang aman serta upaya institusi melindungi citra dengan menutupi fakta sebenarnya.
Kehidupan trio pengacara saat mengungkap kasus yang penuh ancaman terasa semakin kompleks. Hal ini terlihat seiring bertambahnya rintangan yang harus mereka lewati. Rintangan-rintangan tersebut jadi bukti bahwa proses mereka dalam menyelesaikan kasus tidaklah mudah.
Akan selalu ada pihak-pihak yang campur tangan untuk menghancurkan. Akan selalu ada masalah lain yang turut menambah beban. Lebih lengkapnya, berikut adalah empat bentuk kritik sosial yang tersirat dalam drakor Honour. Tanpa sadar, kritik-kritik ini menyadarkan banyak orang untuk menjunjung tinggi keadilan.
1. Kritik terhadap penyalahgunaan harta dan tahta karena penanganan kasus besar dapat dipengaruhi oleh keduanya

Miris jika mengetahui bahwa segala hal bisa dilakukan oleh pihak yang takut kejahatannya terbongkar. Mereka seringkali menggunakan cara-cara licik untuk mencegah kebenaran terungkap. Di sinilah uang dan kekuasaan menjadi senjata mereka.
Hal ini dibuktikan dengan terbunuhnya jurnalis, pemutarbalikan fakta kasus, bahkan tewasnya saksi kunci di drakor Honour. Berbagai ancaman kepada trio pengacara pun seringkali diberikan baik secara langsung maupun teror. Fakta pahit ini cukup menguji mental, tetapi tidak menjadi alasan bagi Yoon Ra Young, Kang Shin Jae, dan Hwang Hyun Jin untuk menyerah.
2. Kritik terhadap desakan dan tekanan yang diberikan kepada korban pelecehan seksual

Pada awal episode, ketidakadilan sudah terlihat sangat jelas. Terdapat adegan ketika korban pelecehan seksual didesak oleh pertanyaan-pertanyaan yang mengundang trauma. Bahkan, barisan pertanyaan tersebut terdengar seperti menyalahkan dan menyudutkan.
Hal ini terjadi karena pelaku pelecehan sangat terkenal. Selain itu, kemampuan manipulasi dan komunikasi dalam menarik hati juga menjadi alasan bahwa kekuatan pelaku cukup besar. Bukti-bukti yang sedikit pun menjadi titik lemah bagi korban. Padahal semua itu tidak seharusnya membuat pelaku layak untuk menang. Proses hukum yang rumit ini memang seringkali membuat para korban serba salah dalam bersuara.
3. Kritik terhadap tokoh dan institusi yang menyembunyikan kebenaran untuk melindungi citra baik

Ketika Yoon Ra Young, Kang Shin Jae, dan Hwang Hyun Jin memutuskan untuk terus melanjutkan kasus, terdapat rintangan yang kembali menerpa mereka. Kekuasaan tertinggi kini tidak berada di tangan Kang Shin Jae, melainkan ada pada Kwong Jung Hyun. Pergantian kekuasaan ini membuat ketiga pengacara harus mengikuti prosedur baru.
Setelah diketahui bahwa Kwong Jung Hyun merupakan pelanggan VIP yang pernah menggunakan jaringan prostitusi, dia memerintahkan trio pengacara untuk mundur dari kasus. Alasannya karena masih banyak kelompok rentan yang butuh bantuan dan takut perusahaan hukum mereka terancam. Padahal bisa saja itu dilakukan untuk melindungi citra baik dirinya. Namun, ketiga pengacara tidak semudah itu untuk menuruti maunya.
4. Kritik terhadap lingkungan yang minim ruang aman bagi jurnalis dan pengungkap kebenaran

Terbunuhnya seorang jurnalis yang sedang menyelidiki kasus tentang jaringan prostitusi besar menjadi sinyal bahwa tidak ada ruang aman bagi pengungkap kebenaran. Padahal dalam setiap wawancara yang dilakukannya, terdapat informasi kuat untuk menaklukkan pihak di balik jaringan tersebut. Sayangnya, dalam proses mengumpulkan data, jurnalis tersebut mendapatkan penyerangan yang merenggut nyawanya.
Lebih parahnya lagi, muncul fitnah atas nama dirinya bahwa sebelum meninggal dia memperkosa seorang gadis. Tidak hanya jurnalis, trio pengacara wanita dalam drakor ini juga tidak merasa aman setiap harinya. Mereka pernah mendapatkan teror coretan di mobil, disuntik heroin, bahkan diserang saat sedang berada di apartemen.
Sebaik apa pun niat dan tindakan untuk menegakkan keadilan, akan selalu ada rintangan bahkan ancaman yang harus diterima. Tidak semua orang dapat melewati hal ini karena selalu butuh keberanian dan keyakinan. Empat bentuk kritik sosial tersirat dalam drakor Honour di atas seolah menjadi tamparan halus untuk realita. Terlepas dari apapun risikonya, semoga semakin banyak manusia yang tetap berada di sisi kebenaran.

















![[QUIZ] Tebak Siapa Member TWICE Ini dari Matanya Saja!](https://image.idntimes.com/post/20260218/1000160346_a2b6d8cc-5829-41ff-ac16-6e9c680cc764.jpg)
