Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

10 Fakta Gelap Kenapa Orang Tetap Bertahan di Pekerjaan yang Menyiksa

10 Fakta Gelap Kenapa Orang Tetap Bertahan di Pekerjaan yang Menyiksa
ilustrasi stres (freepik.com/Drazen Zigic)
Intinya Sih
  • Banyak orang bertahan di pekerjaan menyiksa karena jebakan psikologis seperti sunk cost fallacy, rasa takut pada ketidakpastian, dan identitas diri yang melekat pada penderitaan.

  • Lingkungan kerja toxic, tekanan sosial, serta gaji tinggi menciptakan ilusi keamanan yang membuat seseorang sulit keluar meski kesejahteraan mentalnya menurun.

  • Faktor seperti impostor syndrome dan depresi memperparah kondisi, membuat individu kehilangan energi dan kepercayaan diri untuk mencari peluang baru yang lebih sehat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ada banyak orang yang tetap bertahan di pekerjaan yang sebenarnya sudah menguras tenaga, emosi, bahkan kebahagiaan hidupnya. Dari luar, keputusan untuk keluar mungkin terlihat mudah, tapi kenyataannya kondisi ini jauh lebih rumit dari sekadar soal gaji.

Sering kali ada pola psikologis yang membuat seseorang merasa terus terikat meski setiap hari merasa tersiksa. Mulai dari rasa takut pada hal baru, tekanan sosial, sampai kelelahan mental, semuanya bisa membentuk jebakan yang sulit disadari.

Inilah alasan kenapa banyak orang terlihat tetap “kuat” bertahan, padahal di dalam dirinya sudah lama merasa lelah. Supaya kamu bisa melihatnya lebih jernih, berikut 10 fakta gelap yang sering jadi alasan seseorang tetap bertahan di pekerjaan yang menyiksa.

1. Terjebak biaya pengorbanan masa lalu

ilustrasi bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Karolina Kaboompics)

Kamu mungkin merasa sudah terlalu lama bertahan, jadi keluar sekarang seperti membuat semua perjuangan terasa sia-sia. Pola pikir ini dikenal sebagai sunk cost fallacy, yaitu kecenderungan mempertahankan sesuatu hanya karena sudah banyak waktu dan tenaga yang terlanjur dikeluarkan. Menurut penelitian dalam SpringerPlus, bias ini berkaitan dengan kecenderungan seseorang bertahan lebih lama dalam kondisi yang sebenarnya merugikan kesehatan psikologisnya.

2. Takut pada sesuatu yang belum pasti

ilustrasi khawatir, takut, cemas
ilustrasi khawatir, takut, cemas (freepik.com/wavebreakmedia_micro)

Pekerjaan sekarang memang menyiksa, tapi setidaknya kamu tahu pola stresnya seperti apa. Sementara itu, keluar berarti menghadapi kemungkinan baru yang belum tentu lebih baik. Otak sering kali memilih penderitaan yang sudah familier dibanding risiko yang belum jelas. Karena itu, rasa takut terhadap ketidakpastian sering terasa lebih besar daripada rasa benci pada pekerjaan saat ini.

3. Identitas diri melekat pada penderitaan

ilustrasi suasana kerja
ilustrasi suasana kerja (freepik.com/DC Studio)

Kalau terlalu lama mengeluh soal pekerjaan, tanpa sadar hal itu bisa jadi bagian dari identitasmu. Kamu mulai merasa dikenal sebagai orang yang selalu “bertahan” dalam tekanan. Lama-kelamaan, penderitaan itu terasa seperti bagian dari cerita hidup yang membentuk siapa dirimu sekarang. Akibatnya, keluar dari pekerjaan justru terasa seperti kehilangan versi diri yang sudah lama kamu kenal.

4. Lingkungan toxic bikin kamu merasa tak punya pilihan

ilustrasi lelah
ilustrasi lelah (pexels.com/Nicola Barts)

Tempat kerja yang toxic sering perlahan merusak rasa percaya diri. Lama-lama kamu merasa beruntung masih punya pekerjaan, meski diperlakukan buruk. Kondisi ini mirip konsep learned helplessness, saat seseorang terbiasa dengan tekanan sampai lupa bahwa dirinya sebenarnya punya opsi lain. Akhirnya, kamu berhenti mencoba mencari peluang baru.

5. Drama dan kekacauan terasa normal

ilustrasi gosip
ilustrasi gosip (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Kalau kamu terbiasa hidup di lingkungan penuh tekanan, drama kantor bisa terasa seperti hal yang wajar. Situasi kerja yang tenang malah kadang terasa asing atau membosankan. Menurut konsep learned helplessness dalam kajian psikologi yang dimuat dalam jurnal Contemporary Clinical Dentistry, seseorang yang terlalu lama berada dalam situasi negatif bisa kehilangan sensitivitas untuk melihat pilihan yang lebih sehat, sehingga pola yang familier terasa lebih nyaman meski sebenarnya merugikan. Inilah yang bikin pekerjaan toxic terasa seperti “rumah kedua”.

6. Mulai membela perusahaan yang menyakitimu

ilustrasi atasan galak
ilustrasi atasan galak (freepik.com/yanalya)

Semakin lama diperlakukan buruk, kadang seseorang justru mulai mencari alasan untuk membenarkan perilaku atasannya. Misalnya, kamu berkata atasan galak karena sedang banyak beban atau perusahaan keras demi hasil terbaik. Lama-kelamaan, muncul ikatan emosional yang membuatmu sulit melihat situasi secara objektif. Tanpa sadar, loyalitas tumbuh pada tempat yang sebenarnya tidak memberi rasa aman.

7. Tekanan sosial membuatmu malu untuk resign

ilustrasi menganggur
ilustrasi menganggur (freepik.com/Drazen Zigic)

Status sebagai orang yang bekerja masih dianggap lebih aman secara sosial. Kamu jadi takut dianggap gagal kalau keluar sebelum punya pekerjaan baru. Pertanyaan sederhana seperti “sekarang kerja di mana?” bisa terasa menekan. Akibatnya, rasa malu karena menganggur sering lebih kuat daripada keinginan menjaga kesehatan mental.

8. Gaji tinggi berubah jadi borgol emas

ilustrasi gaji
ilustrasi gaji (pexels.com/www.kaboompics.com)

Semakin tinggi gaji, biasanya gaya hidup ikut naik. Cicilan rumah, kendaraan, sampai kebutuhan sehari-hari membuatmu merasa gak bisa pergi. Situasi ini sering disebut golden handcuffs, ketika penghasilan besar justru menjadi alasan utama bertahan. Kamu akhirnya bekerja keras demi membiayai hidup yang bahkan tak sempat dinikmati.

9. Sindrom impostor bikin merasa tak pantas dapat yang lebih baik

ilustrasi rendah diri
ilustrasi rendah diri (freepik.com/freepik)

Ada orang yang merasa dirinya sebenarnya gak cukup hebat untuk mendapat pekerjaan lebih baik. Perasaan ini dikenal sebagai impostor syndrome. Menurut penelitian dalam Journal of Vocational Behavior, kondisi ini membuat seseorang lebih mudah meragukan kemampuan diri dan merasa takut mencoba peluang baru.

10. Depresi membuat keluar terasa mustahil

ilustrasi depresi
ilustrasi depresi (pexels.com/Mikhail Nilov)

Pekerjaan yang terus-menerus menekan bisa memicu depresi sungguhan. Masalahnya, depresi juga menguras energi untuk mencari pekerjaan baru. Menurut penelitian dalam SpringerPlus, kecenderungan bertahan dalam situasi buruk berkaitan dengan gejala depresi dan penundaan mencari bantuan. Saat sudah berada di titik ini, resign bukan lagi soal kemauan, tapi soal energi mental yang memang sudah habis.

Bertahan di pekerjaan yang menyiksa sering kali bukan semata karena soal uang, tapi juga karena jebakan psikologis yang bekerja diam-diam. Rasa takut, tekanan sosial, sampai kelelahan mental bisa membuatmu merasa seolah gak punya jalan keluar.

Dengan memahami pola ini, kamu jadi lebih mudah mengenali apakah bertahan masih sehat atau justru sudah merugikan diri sendiri. Kadang langkah paling berani bukan terus bertahan, melainkan memilih jalan yang lebih baik untuk hidupmu ke depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Related Articles

See More