"Ada narasi berbahaya dan meresap bahwa kita harus bekerja 24/7 untuk membuktikan nilai diri kita, mendapatkan promosi, atau disukai oleh atasan. Mengambil cuti berarti memutus narasi tersebut," papar Lee, seorang terapis melalui artikel kesehatan psikologi berjudul "“Rest Is Productive”—a Therapist Shares How To Beat Vacation Guilt Once and for All" yang dilansir dari Camillestyles.
Kenapa Kita Sering Merasa Bersalah saat Mengambil Cuti? Ini Alasannya!

- Vacation guilt membuat pekerja merasa bersalah mengambil cuti meski jatahnya tersedia, karena nilai diri kerap dikaitkan dengan produktivitas dan kebiasaan tetap memantau pekerjaan.
- Budaya hustle serta kekhawatiran dinilai atasan kurang berkomitmen dapat memperkuat rasa bersalah, sementara berhenti dari rutinitas sibuk juga bisa memicu kecemasan saat relaksasi.
- Kekhawatiran membebani rekan kerja dan menghadapi tumpukan tugas setelah cuti dapat dikurangi lewat handover jelas, penyelesaian prioritas, serta komunikasi tugas berjalan sebelum pergi.
Apakah kamu pernah merasa gak enak saat mau mengajukan cuti? Padahal, jatah cuti masih ada dan pekerjaan sudah dipersiapkan sebelum ditinggal. Namun, bukannya merasa lega, kita malah kepikiran pekerjaan, rekan kerja, sampai takut dinilai kurang profesional oleh atasan.
Perasaan seperti ini ternyata cukup umum dan sering disebut sebagai vacation guilt. Ada banyak alasan yang membuat seseorang sulit menikmati hak cutinya tanpa rasa bersalah. Berikut beberapa di antaranya!
1. Keterikatan nilai diri dengan produktivitas (Productivity Guilt)

ilustrasi pekerja kantor (pexels.com/Yan Krukau) Banyak orang merasa bersalah karena sejak kecil dididik bahwa 'istirahat didapatkan setelah bekerja keras'. Nilai ini tanpa sadar tertanam sehingga membentuk nilai diri seseorang yang terhubung dengan seberapa sibuk mereka di kantor.
Akibatnya, seseorang bisa tetap mencari kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan saat cuti. Misalnya, mengecek pesan kantor dengan alasan sebentar saja atau menyelesaikan satu tugas kecil. Tanpa sadar, waktu libur pun masih dipenuhi urusan pekerjaan.
2. Budaya kerja dan ketakutan dihakimi atasan

dua orang pekerja kantor yang sedang berdiskusi (pexels/Yan Krukau) Selain karena productivity guilt, rasa bersalah ini juga sering dipicu oleh lingkungan kerja yang secara tidak sengaja mengaggungkan hustle culture. Alhasil, kita bisa takut dicap gak berkomitmen pada perusahaan. Padahal, cuti dan berlibur juga merupakan hak kita.
"Coba ubah pola pikirmu seputar liburan. Saat kamu hadir total dalam kehidupan kerja, cobalah untuk hadir total juga di hari liburmu," papar Jennifer Moss, pakar kesejahteraan tempat kerja dan penulis buku burnout, dalam artikelnya berjudul 'It’s Time To Stop Feeling Guilty About Taking Vacation. Here’s How.' dilansir dari platform Jennifer moss.
3. Otak mengartikan "diam" sebagai ancaman

ilustrasi pekerja kantor (pexels.com/Andrea Piacquadio) Untuk beberapa orang yang terbiasa sibuk, transisi dari kondisi bekerja keras ke kondisi mendadak diam saat cuti bisa memicu stress psikologis. Hal ini karena otak mendeteksi ketiadaan aktivitas sebagai sesuatu yang salah.
"Ketika kamu berhenti, tubuhmu tidak lega. Sebaliknya ia panik. Ini adalah kecemasan akibat relaksasi (relaxation-induced anxiety). Saat mencoba beristirahat, sistem saraf justru membunyikan alarm tanda bahaya," papar Jennifer Budhan, seorang terapis, dilansir dari artikel berjudul "Does Rest Make You Anxious? Understanding Relaxation-Induced Anxiety and Why Slowing Down Feels Unsafe" dalam website Soulfulflow.
4. Merasa gak enak karena pekerjaan harus dialihkan ke rekan kerja

ilustrasi pekerja kantor (pexels.com/Thirdman) Sebelum cuti, banyak yang akan terpikir, “Nanti siapa yang mengerjakan tugasku?” Pikiran tersebut sering menjadi sumber rasa bersalah. Apalagi kalau pekerjaan kita memang perlu dialihkan sementara kepada anggota tim lainnya.
Meski begitu, pekerjaan yang perlu dialihkan selama cuti sebenarnya merupakan hal yang bisa dikelola bersama. Di sinilah pentingnya melakukan handover, memberikan informasi penting, serta menyelesaikan pekerjaan prioritas sebelum pergi.
"Sebelum menukar ruang rapat dengan tempat liburan, buatlah dokumen handover yang singkat dan jelas. Langkah ini akan menjaga proyek tetap berjalan tanpa kamu, memastikan tidak ada tugas penting yang terlupakan, sehingga kamu bisa berhenti memeriksa kantor dan fokus menikmati liburan," ungkap Cavoto, Pakar Manajemen Karier, dilansir dari Forbes.
5. Sudah membayangkan pekerjaan yang menumpuk setelah cuti

ilustrasi pekerja kantor (pexels.com/Arina Krasnikova) Terakhir, rasa bersalah bisa muncul karena kita memikirkan hari pertama setelah cuti. Bayangan kotak masuk yang penuh, tugas baru, sampai proyek yang terus berjalan membuat liburan terasa kurang tenang.
"Mereka membayangkan 'hukuman' berupa tumpukan pekerjaan yang menanti di hari Senin pertama mereka kembali. Antisipasi terhadap stres pasca-liburan inilah yang membunuh rasa tenang dan memicu rasa bersalah saat mengajukan cuti," terang Dr. David Ballard, Psikolog Organisasi, dalam laporan American Psychological Association (APA).
Kekhawatiran tersebut sebenarnya bisa dikurangi dengan persiapan sebelum cuti. Buat daftar pekerjaan yang perlu diselesaikan, informasikan tugas yang sedang berjalan, dan tentukan siapa yang bisa dihubungi jika memang muncul kebutuhan mendesak.
Demikian penjelasan mengapa kita sering merasa bersalah saat mengambil cuti. Rasa bersalah saat mengambil cuti bisa muncul karena banyak hal, mulai dari budaya kerja hingga tuntutan terhadap diri sendiri. Namun, selama tanggung jawab sudah dipersiapkan dengan baik, gak ada salahnya menggunakan waktu cuti untuk benar-benar beristirahat, kok!















![[QUIZ] Dari Kebiasaan Menyendiri, Apa Tipe Anxious Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20260618/pexels-keira-burton-6147264_aa7957d8-9c9c-4b88-89d0-eaaf7d004234.jpg)



![[QUIZ] Dari Kebiasaan Kamu di Pagi Hari, Kamu Tipe yang Optimis atau Realistis?](https://image.idntimes.com/post/20260130/upload_16158eda803e30802a92de6e97a73766_27aad171-2525-4a5e-bbda-bef2b6de567e.jpg)
