Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Viral Bukan Berarti Fakta: Cara Cek Informasi Sebelum Ikut Menyebarkan

Viral Bukan Berarti Fakta: Cara Cek Informasi Sebelum Ikut Menyebarkan
ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/iam hogir)
Share Article

Di media sosial, sebuah informasi bisa menyebar dalam hitungan menit. Judul yang mengejutkan, video yang emosional, atau unggahan dari akun dengan banyak pengikut sering kali membuat orang langsung percaya dan ikut membagikannya. Padahal, jumlah views, likes, komentar, maupun repost tidak pernah menjadi jaminan bahwa informasi tersebut benar.

Masalahnya, semakin sering sebuah klaim muncul di linimasa, semakin mudah pula kita menganggapnya sebagai sesuatu yang benar. Jadi ada baiknya sebelum ikut membuat sesuatu menjadi viral, biasakan berhenti sejenak dan melakukan pengecekan sederhana.

  1. 1. Jangan langsung percaya hanya karena informasinya viral

    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Jenny Ueberberg)
    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Jenny Ueberberg)

    Viral sering membuat sebuah informasi terkesan kredibel daripada sebenarnya. Ketika sebuah unggahan sudah dibagikan ribuan atau bahkan jutaan kali, kita bisa secara tidak sadar menganggap banyaknya orang yang membagikan sebagai bukti bahwa informasi tersebut benar. Padahal, sebuah informasi yang salah juga dapat menyebar dengan sangat cepat.

    "Menurut saya, ada kekhawatiran luas mengenai dampak misinformasi di tengah masyarakat. Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Namun, saat ini kita menghadapi faktor pendorong yang dampaknya sangat masif, yaitu media sosial, yang mampu menyebarkan misinformasi dalam hitungan sepersekian detik," kata profesor psikologi Sander van der Linden, PhD, dari University of Cambridge dikutip dari Nature.

    Jadi, jangan menjadikan jumlah views, likes, followers, atau repost sebagai alat untuk menentukan kebenaran sebuah informasi. Ketika melihat klaim yang sedang ramai, justru jadikan popularitas tersebut sebagai alasan untuk melakukan pengecekan lebih lanjut.

  2. 2. Cek sumber asli, bukan cuma akun yang membagikan

    ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Michael Burrows)
    ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Michael Burrows)

    Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memeriksa siapa yang membagikan informasi, tetapi tidak mencari sumber asli dari klaim tersebut. Sebuah unggahan bisa saja berasal dari akun terkenal, tetapi akun tersebut mungkin hanya mengutip unggahan lain.

    Jika rantainya tidak ditelusuri, kita belum benar-benar mengetahui dari mana informasi itu berasal. Sam Wineburg, profesor pendidikan emeritus di Stanford University dalam penelitiannya bersama Sarah McGrew, banyak mengkaji literasi informasi digital dan menjelaskan konsep “lateral reading”.

    "Banyak sampel/responden sering kali terkecoh oleh elemen situs web yang mudah dimanipulasi, seperti logo dan nama domain yang tampak resmi. Mereka cenderung membaca secara vertikal, yakni tetap berada di dalam situs web yang sama untuk menilai keandalannya," demikian laporannya tentang Lateral Reading and the Nature of Expertise: Reading Less and Learning More When Evaluating Digital Information dalam Sage Journals.

  3. 3. Periksa tanggal, konteks, foto, dan videonya

    ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Michael Burrows)
    ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Michael Burrows)

    Informasi yang benar sekalipun bisa menjadi menyesatkan jika digunakan di luar konteks. Salah satu contohnya adalah foto atau video lama yang kembali beredar dan diberi keterangan seolah-olah baru saja terjadi. Ada pula potongan video yang sebenarnya berasal dari peristiwa berbeda, tetapi digunakan untuk mendukung klaim tertentu.

    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada baiknya kamu jangan hanya membaca caption. Periksa juga kapan foto atau video dibuat, siapa yang mengunggah pertama kali, di mana kejadiannya, dan apakah visual tersebut memang berkaitan dengan klaim yang sedang dibicarakan.

    Untuk foto yang mencurigakan, melakukan pencarian gambar secara mendalam juga dapat membantu menemukan publikasi yang lebih lama. Langkah kecil seperti ini bisa membongkar informasi yang tampak meyakinkan tetapi ternyata memakai materi lama atau di luar konteks.

  4. 4. Waspadai judul yang sengaja memancing emosi

    ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Ahmed Aqtai)
    ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Ahmed Aqtai)

    Konten yang membuat marah, takut, panik, atau sangat senang cenderung lebih mudah menarik perhatian. Karena itu, ketika sebuah informasi membuat emosi langsung naik, justru jangan buru-buru membagikannya. Beri waktu beberapa menit untuk memeriksa apakah klaim tersebut benar.

    "Kita tahu bahwa konten yang bermuatan emosional lebih berpeluang menjadi viral di media sosial, terutama konten yang memicu emosi negatif. Oleh karena itu, salah satu strategi yang banyak digunakan oleh penyebar disinformasi adalah memanfaatkan rasa cemas dan takut saat menyusun pesan mereka, karena hal itulah yang memancing reaksi orang," jelas Sander van der Linden.

    Jadi, saat sebuah konten membuat kamu sangat emosional, jadikan itu sebagai tanda untuk berhenti dan bertanya: “Informasi ini benar atau cuma dibuat agar aku bereaksi?” Hal ini bisa membuat kamu untuk berhenti sejenak dan mempelajari lebih dalam tentang konten tersebut.

     

  5. 5. Bandingkan dengan sumber kredibel sebelum share

    ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Karolina Grabowska)
    ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Karolina Grabowska)

    Tidak semua informasi harus langsung dipercaya hanya karena terlihat profesional. Situs dengan desain bagus, logo resmi, istilah ilmiah, atau nama tokoh terkenal juga belum otomatis menjadikan sebuah klaim benar. Yang lebih penting adalah apakah klaim tersebut memiliki bukti dan dapat dikonfirmasi oleh sumber independen yang kredibel.

    Oleh karena itu, biasakan melakukan pengecekan silang. Untuk informasi kesehatan, cari penjelasan dari lembaga kesehatan, dokter, jurnal ilmiah, atau institusi medis yang kredibel. Untuk informasi hukum, cari aturan atau lembaga resmi. Untuk berita, bandingkan laporan dari beberapa media yang memiliki reputasi baik.

    Menjadi pengguna media sosial yang bijak bukan berarti harus selalu menjadi ahli pemeriksa fakta. Kamu hanya perlu membangun kebiasaan sederhana: berhenti sebelum membagikan, telusuri sumber asli, cek tanggal dan konteks, waspadai konten yang sengaja memancing emosi, lalu bandingkan dengan sumber kredibel.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More