Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pekerjaan yang Diprediksi Tetap Dibutuhkan meski AI Berkembang
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Nataliya Vaitkevich)

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara banyak industri bekerja. Berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan manusia kini dapat dibantu atau bahkan diotomatisasi oleh AI, mulai dari mengolah data, membuat konten sederhana, hingga melayani pelanggan melalui chatbot.

Kondisi ini membuat banyak orang khawatir bahwa pekerjaan mereka suatu saat akan tergantikan oleh teknologi. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa AI tidak akan menggantikan semua jenis pekerjaan.

1. Tenaga kesehatan tetap sulit digantikan AI karena membutuhkan empati

ilustrasi tenaga kesehatan (unsplash.com/Irwan)

AI kini mampu membantu menganalisis hasil pemeriksaan medis, mendeteksi penyakit dari citra radiologi, hingga menyusun dokumentasi pasien. Meski demikian, hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis, tetapi juga empati, komunikasi, dan pertimbangan etis yang belum bisa sepenuhnya dilakukan mesin.

Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) menempatkan profesi di bidang kesehatan, seperti perawat, tenaga perawatan lansia, tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, dan lainnya, sebagai kelompok pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat dalam beberapa tahun mendatang. Peningkatan usia harapan hidup dan kebutuhan layanan kesehatan menjadi faktor utama yang mendorong permintaan tenaga kerja di sektor ini.

"Pertumbuhan peran bagi perawat serta profesional di bidang penjualan dan perhotelan, sekaligus menjadi salah satu pendorong pertumbuhan terbesar bagi pramuniaga toko, perwakilan penjualan grosir dan manufaktur, pelayan makanan dan minuman, serta pekerja pengolahan makanan dan bidang terkait. Di sisi lain, pertumbuhan populasi usia kerja diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan peran di bidang pendidikan," demikian laporan WEF.

2. Guru dan pendidik tetap berperan sebagai pembimbing, bukan sekadar penyampai materi

ilustrasi guru sedang mengajari murid (pexels.com/ Pavel Danilyuk)

AI dapat membantu menjelaskan materi pelajaran, membuat soal latihan, bahkan memberikan umpan balik secara otomatis. Namun, pendidikan bukan hanya soal menyampaikan informasi. Guru juga berperan membangun karakter, memotivasi siswa, memahami kondisi emosional mereka, serta menciptakan lingkungan belajar yang positif.

Laporan UNESCO mengenai AI dalam pendidikan menegaskan bahwa teknologi seharusnya mendukung pekerjaan guru, bukan menggantikannya. AI dapat meningkatkan efisiensi administrasi sehingga pendidik memiliki lebih banyak waktu untuk membimbing dan berinteraksi dengan siswa secara langsung.

"Guru tidak bisa diprogram layaknya kode komputer. Di tengah transformasi pendidikan yang didorong oleh kecerdasan buatan, UNESCO menyerukan agar guru ditempatkan sebagai pusat dari perubahan ini. Masa depan pendidikan bermula dari guru. Gurulah yang menghidupkan pendidikan. Mereka membangun hubungan antarmanusia yang tidak dapat ditiru oleh perangkat apa pun," dikutip dari laporan UNESCO yang menegaskan bahwa teknologi paling canggih sekalipun tidak dapat menggantikan hubungan manusia yang terbangun antara guru dan peserta didik.

3. Pekerjaan yang mengandalkan kreativitas tetap memiliki nilai tinggi

ilustrasi kreativitas seseorang melukis (pexels.com/Anna Shvets)

AI memang mampu menghasilkan gambar, musik, video, atau tulisan dalam hitungan detik. Akan tetapi, kreativitas manusia tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi juga memahami konteks budaya, emosi, pengalaman hidup, serta tujuan komunikasi yang ingin dicapai.

Laporan Future of Jobs Report 2025 menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif (creative thinking) menjadi salah satu keterampilan yang paling dibutuhkan oleh perusahaan hingga beberapa tahun ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas justru semakin bernilai di era AI.

"Pemikiran analitis tetap menjadi keterampilan inti utama bagi pemberi kerja, di mana tujuh dari sepuluh perusahaan menganggapnya sebagai hal yang esensial. Hal ini diikuti oleh ketangguhan, fleksibilitas, dan kelincahan, serta kepemimpinan dan pengaruh sosial; hal tersebut menegaskan peran krusial kemampuan beradaptasi dan kolaborasi di samping keterampilan kognitif. Pemikiran kreatif serta motivasi dan kesadaran diri masing-masing menempati peringkat keempat dan kelima," jelasnya.

4. Psikolog dan konselor dibutuhkan karena AI tidak memiliki empati sejati

ilustrasi psikolog (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Chatbot berbasis AI kini mulai digunakan untuk memberikan dukungan awal terkait kesehatan mental. Namun, AI belum mampu benar-benar memahami pengalaman emosional manusia maupun membangun hubungan terapeutik sebagaimana dilakukan psikolog atau konselor profesional.

Penggunaan AI dalam layanan kesehatan mental harus tetap berada di bawah pengawasan profesional. Hubungan terapeutik, empati, dan penilaian klinis tetap menjadi aspek penting yang tidak dapat sepenuhnya diotomatisasi.

"Kecerdasan buatan (AI) menawarkan banyak manfaat bagi masyarakat, namun teknologi ini tidak boleh menggantikan dukungan manusia yang sangat penting dalam perawatan kesehatan mental," jelas Presiden British Psychological Society Dr. Roman Raczka kepada The Guardian.

"AI tidak dapat meniru empati manusia yang tulus, dan terdapat risiko bahwa teknologi ini justru menciptakan ilusi keterhubungan alih-alih interaksi yang bermakna," tambahnya.

5. Pekerjaan yang membutuhkan kepemimpinan dan pengambilan keputusan strategis akan tetap dicari

Ilustrasi sibuk bekerja (pexels.com/Photo by Photo By: Kaboompics.com)

AI dapat menyajikan data, membuat prediksi, bahkan membantu menyusun berbagai alternatif keputusan. Namun, keputusan strategis dalam organisasi tetap membutuhkan pertimbangan etika, pengalaman, intuisi, kemampuan bernegosiasi, serta pemahaman terhadap dinamika manusia yang sulit direplikasi oleh mesin.

Menurut Future of Jobs Report 2025, keterampilan seperti kepemimpinan, pengaruh sosial, ketahanan, serta pemikiran analitis termasuk kompetensi yang diperkirakan semakin penting di dunia kerja masa depan. Perusahaan membutuhkan pemimpin yang mampu memanfaatkan AI sekaligus mengelola tim manusia secara efektif.

"Keterampilan lain yang juga masuk dalam daftar 10 besar keterampilan yang sedang berkembang pesat meliputi kepemimpinan dan pengaruh sosial, manajemen talenta, pemikiran analitis, serta pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Keterampilan-keterampilan ini menyoroti kebutuhan akan tenaga kerja yang mampu memimpin tim, mengelola talenta secara efektif, serta beradaptasi dengan keberlanjutan dan transisi ramah lingkungan di dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung," demikian laporannya.

Perkembangan AI memang akan mengubah banyak jenis pekerjaan, tetapi tidak berarti semua profesi akan hilang. Justru, pekerjaan yang mengandalkan empati, kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan mengambil keputusan kompleks diperkirakan tetap memiliki peran penting di masa depan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article