Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kerja Sesuai Porsi, 5 Tanda Kamu Sedang Mengalami Quiet Quitting

4 min read
Kerja Sesuai Porsi, 5 Tanda Kamu Sedang Mengalami Quiet Quitting
ilustrasi tidak semangat kerja (pexels.com/cottonbro studio)
  • Quiet quitting menggambarkan karyawan yang tetap menjalankan tugas utama, tetapi menarik diri dari pekerjaan tambahan dan usaha di luar tanggung jawab.
  • Tandanya mencakup tidak selalu tersedia di luar jam kerja, menjaga batas kehidupan pribadi, serta berkurangnya minat memberi ide atau melakukan usaha ekstra.
  • Kondisi ini tidak selalu berarti malas; keterlibatan yang menurun dapat berkaitan dengan motivasi, kualitas manajemen, peluang berkembang, ekspektasi, dan pengalaman kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bekerja bukan berarti harus selalu memberikan tenaga ekstra setiap saat. Ada kalanya seseorang memilih fokus menyelesaikan tugas sesuai tanggung jawab tanpa terus-menerus mengambil pekerjaan tambahan. Sikap seperti ini kemudian dikenal dengan istilah quiet quitting.

Meski terdengar seperti berhenti bekerja secara diam-diam, quiet quitting sebenarnya bukan berarti seseorang benar-benar meninggalkan pekerjaannya. Istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika karyawan mulai menarik diri dari pekerjaan dan tidak lagi merasa perlu melakukan usaha di luar tanggung jawab utamanya.

Lantas, seperti apa tandanya? Berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan.

  1. 1. Mulai berhenti mengambil pekerjaan di luar tanggung jawab

    ilustrasi suasana di ruang kerja
    ilustrasi suasana di ruang kerja (pexels.com/cottonbro studio)

    Dulu kamu mungkin sering menawarkan bantuan, mengambil tugas tambahan, atau bersedia mengerjakan sesuatu yang sebenarnya bukan bagian dari tanggung jawab utama. Namun, sekarang kamu memilih fokus pada pekerjaan yang memang menjadi kewajibanmu.

    Kamu tetap menyelesaikan tugas dengan baik, tetapi tidak lagi merasa harus selalu menjadi orang yang bersedia mengerjakan semuanya. Dalam konteks quiet quitting, perubahan seperti ini dapat menjadi salah satu bentuk menarik diri dari aktivitas ekstra di tempat kerja.

  2. 2. Tidak lagi merasa harus selalu tersedia di luar jam kerja

    ilustrasi kerja santai
    ilustrasi kerja santai (pexels.com/Yan Krukau)

    Pesan dari atasan masuk setelah jam kantor dan kamu tidak langsung membalasnya. Undangan rapat di luar jadwal kerja juga tidak lagi otomatis kamu terima.

    Kamu mulai memahami bahwa waktu di luar pekerjaan juga merupakan bagian dari kehidupan pribadi. Selama tidak ada keadaan darurat atau aturan pekerjaan yang memang mengharuskanmu tersedia, kamu memilih menyelesaikan pekerjaan sesuai jam dan tanggung jawab yang telah disepakati.

  3. 3. Mulai menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi

    ilustrasi selesai bekerja
    ilustrasi selesai bekerja (pexels.com/https://kaboompics.com/)

    Setelah jam kerja selesai, kamu benar-benar berusaha meninggalkan urusan kantor. Tidak terus membuka email, memikirkan pekerjaan sebelum tidur, atau membawa semua persoalan kantor ke rumah.

    Keinginan untuk memiliki batas yang lebih jelas sebenarnya tidak selalu buruk. Justru, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bisa menjadi hal yang sehat. Yang perlu diperhatikan adalah ketika batas tersebut muncul bersamaan dengan hilangnya keterlibatan dan ketertarikan terhadap pekerjaan. Gallup sendiri mengaitkan quiet quitting dengan keterikatan psikologis yang rendah terhadap pekerjaan.

  4. 4. Tidak lagi tertarik melakukan usaha ekstra

    ilustrasi tidak bersemangat
    ilustrasi tidak bersemangat (pexels.com/Ron Lach)

    Ada masa ketika kamu begitu bersemangat memberikan ide, mengikuti kegiatan tambahan, atau mencari cara untuk memberikan hasil yang lebih baik. Namun, sekarang kamu merasa cukup dengan menyelesaikan apa yang memang menjadi tugasmu.

    Bukan berarti kamu sengaja mengerjakan sesuatu dengan buruk. Kamu hanya tidak lagi memiliki dorongan untuk terus go the extra mile. HBR menyebut salah satu ciri quiet quitting adalah berkurangnya kesediaan melakukan aktivitas di luar tugas utama, seperti datang lebih awal, pulang lebih larut, atau mengikuti kegiatan yang sebenarnya tidak wajib.

  5. 5. Mulai merasa tidak terlalu terikat dengan pekerjaan

    ilustrasi bekerja
    ilustrasi bekerja (pexels.com/Antoni Shkraba)

    Kamu tetap datang, menyelesaikan pekerjaan, dan menerima gaji seperti biasa. Namun, secara emosional kamu merasa semakin jauh dari pekerjaan tersebut.

    Misalnya, kamu tidak lagi terlalu peduli dengan perkembangan perusahaan, tidak merasa antusias ketika membicarakan pekerjaan, atau sekadar bekerja untuk menyelesaikan hari. Gallup menggambarkan pekerja yang quiet quitting sebagai karyawan yang tetap menjalankan pekerjaannya, tetapi secara psikologis mulai terlepas dari tempat kerja.

    Quiet quitting sering dianggap sebagai istilah lain untuk karyawan malas. Padahal, keduanya tidak selalu sama. Seseorang yang bekerja sesuai tanggung jawab, menjaga batas jam kerja, dan menolak pekerjaan tambahan yang tidak diperlukan belum tentu sedang malas.

    Namun, kalau kamu mulai kehilangan motivasi, tidak peduli dengan hasil pekerjaan, atau hanya melakukan usaha seminimal mungkin karena sudah tidak memiliki keterikatan dengan pekerjaan, mungkin ada masalah yang lebih besar di baliknya.

    Rendahnya keterlibatan karyawan dapat berkaitan dengan berbagai hal, termasuk kualitas manajemen, kesempatan berkembang, kejelasan ekspektasi, dan pengalaman kerja secara keseluruhan. Karena itu, daripada langsung melabeli diri sebagai malas, coba tanyakan kembali: apakah kamu memang sedang belajar menjaga batas yang sehat, atau sebenarnya sudah kehilangan alasan untuk terlibat dalam pekerjaanmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More