Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Baju yang Sebaiknya Disingkirkan saat Decluttering Lemari

5 Baju yang Sebaiknya Disingkirkan saat Decluttering Lemari
ilustrasi decluttering lemari (pexels.com/Jessica Lewis thepaintedsquare)
  • Pilah atasan atau bawahan yang terus dilewati meski masih bagus, lalu pertimbangkan menjual, menyumbangkan, atau memberikannya kepada orang lain.
  • Kurangi busana formal yang hanya dipakai satu-dua kali, terutama model khusus; simpan pilihan sederhana yang fleksibel, sementara kebutuhan tertentu bisa dipenuhi dengan menyewa.
  • Evaluasi baju dari fase hidup lama, pembelian diskon, dan koleksi kenangan; sisakan yang masih relevan atau paling bermakna agar lemari lebih fungsional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lemari yang penuh sering kali bukan disebabkan oleh ukurannya, melainkan karena terlalu banyak baju yang terus disimpan. Ada pakaian yang masih bagus tetapi sudah lama tidak dikenakan, ada pula baju yang tetap dipertahankan hanya karena terasa sayang untuk dilepas. Kalau dibiarkan, tumpukan tersebut justru membuat pakaian yang sering dipakai ikut sulit dicari.

Karena itu, saat mulai membereskan lemari, perhatikan beberapa pakaian yang selama ini paling jarang disentuh atau hanya disimpan karena alasan tertentu. Lima jenis baju yang sebaiknya disingkarkan saat decluttering lemari berikut ini sebaiknya kamu perhatikan.

  1. 1. Atasan atau bawahan yang selalu dilewati

    ilustrasi lemari pakaian
    ilustrasi lemari pakaian (freepik.com/freepik)

    Ada baju yang sudah lama tergantung di lemari, tetapi hampir tidak pernah kamu sentuh saat kamu memilih pakaian. Setiap kali hendak pergi, kamu selalu menemukan pilihan lain yang terasa lebih cocok, lebih nyaman, atau lebih mudah dipadukan. Padahal, baju tersebut mungkin masih bagus dan ukurannya juga belum berubah.

    Kalau hal ini terus terjadi, mungkin memang sudah waktunya baju tersebut dilepas. Tidak perlu menunggu sampai rusak untuk mengakui bahwa kamu sudah tidak ingin memakainya. Daripada terus memenuhi gantungan, baju yang selalu kamu lewatkan bisa dijual, disumbangkan, atau diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkannya.

  2. 2. Gaun dan busana formal untuk acara tertentu

    ilustrasi blazer
    ilustrasi blazer (unsplash.com/Marina Abrosimova)

    Gaun pesta, kebaya, blazer, atau pakaian formal memang tidak dipakai setiap hari. Masalahnya, koleksi seperti ini mudah bertambah setiap kali ada undangan atau acara khusus, sedangkan baju dari acara sebelumnya tetap disimpan. Lama-kelamaan, lemari penuh dengan pakaian yang hanya dikenakan satu atau dua kali.

    Coba hitung berapa banyak busana formal yang benar-benar kamu gunakan dalam setahun. Beberapa pilihan dengan model sederhana dan mudah dipadukan biasanya sudah cukup untuk berbagai acara. Sementara itu, pakaian dengan model sangat khusus dan hanya cocok untuk satu kesempatan bisa dipertimbangkan untuk dilepas, apalagi jika kebutuhan serupa masih bisa dipenuhi dengan menyewa.

  3. 3. Koleksi baju dari fase hidup yang sudah berubah

    ilustrasi baju
    ilustrasi baju (pexels.com/Francesco Paggiaro)

    Isi lemari sering kali menyimpan banyak cerita dari masa lalu. Ada kemeja dari pekerjaan lama, celana yang biasa dipakai saat kuliah, atau pakaian dari kegiatan yang sekarang sudah tidak lagi dilakukan. Baju-baju tersebut mungkin masih dalam kondisi baik, tetapi kehidupanmu sudah berubah sehingga kebutuhan untuk mengenakannya pun ikut berkurang.

    Tidak semua pakaian lama harus langsung dibuang. Kalau masih ada baju yang cocok dipakai sekarang, tentu tidak masalah untuk mempertahankannya. Namun, pakaian yang sudah bertahun-tahun hanya berpindah dari satu sudut lemari ke sudut lainnya bisa mulai dipilah agar tempatnya dapat digunakan untuk pakaian yang memang kamu kenakan saat ini.

  4. 4. Baju yang dibeli karena tergoda diskon

    ilustrasi beli baju
    ilustrasi beli baju (pexels.com/ MART PRODUCTION)

    Diskon besar sering membuat baju terasa terlalu sayang untuk dilewatkan. Saat melihat harganya, pembelian mungkin terlihat menguntungkan, tetapi ceritanya bisa berbeda setelah baju tersebut sampai di rumah. Warnanya ternyata sulit dipadukan, potongannya kurang nyaman, atau modelnya tidak pernah benar-benar cocok dengan gaya berpakaianmu.

    Lihat kembali baju-baju seperti ini dan ingat seberapa sering kamu memakainya. Jika hampir tidak pernah, coba bayangkan kamu menemukan barang tersebut di toko hari ini dengan harga normal. Masih ingin membelinya? Kalau tidak, berarti tidak ada alasan kuat untuk terus menyimpannya hanya karena dulu kamu mendapatkannya dengan harga murah.

  5. 5. Baju yang disimpan karena kenangan

    ilustrasi baju
    ilustrasi baju (pexels.com/Timur Weber)

    Kaus zaman sekolah, pakaian pemberian seseorang, atau baju dari perjalanan tertentu biasanya punya cerita sendiri. Karena itu, pakaian semacam ini sering menjadi bagian paling sulit saat membereskan lemari. Kita tahu barangnya sudah tidak pernah dipakai, tetapi tetap merasa berat untuk melepaskannya.

    Untuk pakaian seperti ini, kamu tidak harus memilih antara menyimpan semuanya dan membuang semuanya. Pilih beberapa potong yang memang paling berarti, kemudian simpan di tempat khusus bersama benda kenangan lainnya. Dengan begitu, cerita di balik pakaian tersebut tetap ada tanpa membuat lemari sehari-hari penuh dengan baju yang sudah tidak dikenakan.

    Kadang kita tidak sadar berapa banyak baju di lemari yang sebenarnya sudah lama tidak dipakai. Setelah mulai memilah, biasanya baru terlihat bahwa beberapa pakaian memang sudah tidak cocok dengan kebutuhan dan kebiasaan sekarang. Lemari pun tidak harus kosong, cukup sisakan baju yang memang masih ingin kamu kenakan. Jika kamu menemukan lima jenis baju yang sebaiknya disingkirkan saat decluttering lemari, sepatutnya masukkan ke dalam kotak penyimpanan, sumbangkan, atau jual preloved.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More