Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kapan Waktu Terbaik untuk Mulai Membuat Kompos? Ini Kata Pakarnya
ilustrasi pupuk tanaman (pexels.com/karolina-grabowska)
  • Waktu ideal memulai kompos adalah saat limbah organik melimpah, seperti ketika sering memasak, musim panen buah, atau daun kering banyak berguguran.
  • Cuaca hangat mempercepat penguraian karena meningkatkan aktivitas mikroorganisme. Di Indonesia yang tropis, kompos dapat dibuat kapan saja asalkan kelembapannya tidak terlalu kering.
  • Gunakan campuran daun kering kaya karbon dan bahan hijau, tetapi hindari daging, susu, lemak, tulang, gulma berbiji, serta tanaman berpenyakit atau berpest.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa sayang saat harus membuang kulit buah, ampas sayuran, atau daun-daun kering begitu saja? Padahal, bahan-bahan tersebut bisa diolah menjadi kompos yang kaya nutrisi untuk menyuburkan tanaman di rumah. Kabar baiknya, kamu tak perlu menunggu punya kebun yang luas untuk mulai membuat kompos.

Meski kompos bisa dibuat kapan saja, ternyata ada waktu-waktu tertentu yang membuat proses pengomposan berjalan lebih optimal. Kapan saja? Simak penjelasannya berikut ini!

1. Saat bahan organik sedang melimpah menjadi waktu yang paling ideal

ilustrasi kompos (pexels.com/theplanetspeaks)

Dikutip dari Real Simple, Melinda Myers, pakar berkebun dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang hortikultura, mengatakan bahwa waktu terbaik untuk mulai membuat kompos adalah ketika bahan organik tersedia dalam jumlah melimpah. Di negara empat musim, kondisi ini biasanya terjadi pada musim gugur saat daun-daun berguguran dan sisa hasil panen lebih banyak tersedia.

"Pada musim gugur, daun-daun yang berguguran dan sisa sayuran seperti kulit buah dan sayuran tersedia dalam jumlah melimpah," jelas Myers.

Di Indonesia, waktu terbaik membuat kompos bisa disesuaikan dengan ketersediaan limbah organik di rumah. Misalnya, ketika kamu lebih sering memasak, musim panen buah tertentu, atau saat daun-daun kering banyak berguguran pada musim kemarau. Semakin beragam bahan yang digunakan, semakin kaya pula nutrisi yang dihasilkan untuk menyuburkan tanah.

2. Cuaca hangat juga membantu mempercepat proses pengomposan

ilustrasi proses menanam tanaman (pexels.com/cottonbro)

Dikutip dari Homes and Gardens, pakar hortikultura dan penata lanskap Denis McCausland menjelaskan, bahwa suhu yang hangat berperan penting dalam membantu proses penguraian bahan organik. Sebab, aktivitas mikroorganisme di dalam kompos akan meningkat ketika berada pada kondisi yang sesuai. Hal ini membuat proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat dan optimal.

"Musim semi merupakan waktu terbaik dalam setahun untuk mulai membuat kompos karena suhu yang hangat dibutuhkan agar proses penguraian bahan organik dapat berlangsung dengan baik," ujar McCausland.

Dikutip dari laman yang sama, Lauren Click, pendiri Let's Go Compost, mengatakan bahwa suhu yang hangat membantu meningkatkan aktivitas mikroba dan jamur dalam proses penguraian. Karena Indonesia beriklim tropis, kamu pun tidak perlu menunggu musim tertentu untuk mulai membuat kompos. Yang terpenting, jaga kelembapannya agar tidak terlalu kering.

"Peningkatan durasi siang hari dan suhu yang lebih hangat dapat meningkatkan aktivitas mikroba dan jamur yang berperan penting dalam proses penguraian," jelas Lauren Click.

3. Daun kering jangan buru-buru dibuang

ilustrasi daun kering (pexels.com/kadirkaya)

Daun-daun yang berguguran sering kali dianggap sebagai sampah, padahal kaya akan karbon yang dibutuhkan dalam proses pengomposan. Bahan ini dapat membantu menghasilkan kompos yang lebih seimbang dan bernutrisi. Karena itu, jangan buru-buru membuang daun kering yang ada di halaman rumah.

Agar hasilnya lebih optimal, padukan daun kering dengan bahan hijau seperti sisa sayuran dan kulit buah. Sebagian daun kering juga bisa dibiarkan terurai secara alami untuk membantu menyuburkan tanah di sekitar tanaman. Selain lebih ramah lingkungan, cara ini juga membantu mengurangi limbah organik yang terbuang percuma.

4. Tidak semua limbah organik boleh dimasukkan ke dalam kompos

ilustrasi pupuk (freepik.com/jcomp)

Meski sebagian besar limbah organik dapat dimanfaatkan, ada beberapa bahan yang sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam kompos. Melinda Myers menyarankan untuk menghindari daging, produk susu, lemak, dan tulang karena dapat mengundang tikus maupun hewan lainnya.

"Jangan memasukkan gulma menahun maupun tanaman invasif, gulma tahunan yang sudah menghasilkan biji, serta tanaman yang terserang penyakit atau hama serangga," ujar Myers.

"Sebagian besar tumpukan kompos tidak cukup panas untuk membunuh semua itu. Akibatnya, bahan-bahan tersebut justru akan kembali tersebar ke taman atau halaman rumah ketika kompos digunakan," tambahnya.

Karena itu, Lauren Click juga menyarankan pentingnya untuk memilih bahan kompos dengan tepat sejak awal. Agar hasilnya lebih optimal, susun bahan yang kaya karbon, seperti daun kering, secara berlapis dengan bahan hijau agar kelembapan dan sirkulasi udara tetap terjaga.

"Fokuslah mengumpulkan bahan-bahan yang kaya karbon, seperti daun-daun kering, lalu susun secara berlapis dengan bahan hijau agar tumpukan kompos tidak menjadi terlalu basah dan padat sehingga menghambat sirkulasi udara," sarannya.

Pada akhirnya, tidak ada waktu yang benar-benar salah untuk mulai membuat kompos. Selama tersedia bahan organik di rumah dan pengelolaannya dilakukan dengan tepat, kapan pun bisa menjadi waktu yang baik untuk memulainya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article