Privilese ternyata Memengaruhi Cara Seseorang Menghadapi Stres

- Privilese membuat seseorang memiliki lebih banyak pilihan untuk meredakan stres, seperti cuti, liburan, serta fasilitas rumah yang nyaman dan lengkap.
- Jaringan berpengaruh, kondisi finansial aman, dan aset menjadi jaring pengaman bagi pemilik privilese saat menghadapi kehilangan pekerjaan, usaha merugi, atau utang.
- Akses pendidikan tinggi membentuk cara pandang terhadap stres, sementara status sosial dapat memengaruhi dukungan dan sanksi sosial yang diterima saat menghadapi masalah.
Hak istimewa atau privilese kerap dibicarakan dan termasuk topik yang gampang bikin orang sensitif. Bagi orang-orang yang hidupnya jauh dari privilese, memikirkannya saja bisa membuat sakit hati. Bukan karena rasa benci terhadap para pemilik hak istimewa.
Namun, mereka merasa terluka sebab dunia kadang terasa sangat tidak adil. Kerja keras selama apa pun tak membuat hidup mereka semudah orang-orang yang sejak awal lahir dan besar dengan kondisi lebih baik. Sebaliknya, bagi orang yang mempunyai privilese kadang kurang memahami rasanya menjadi orang lain.
Bukannya mereka pasti jahat, tapi semata-mata gak pernah hidup dalam kondisi yang jauh berbeda. Cara orang dengan privilese dan non-privilese merespons stres pun lain. Hidup tidak untuk dibanding-bandingkan, tetapi perbedaannya memang ada seperti di bawah ini.
1. Punya lebih banyak pilihan untuk menghibur diri kala stres

ilustrasi stres (pexels.com/MART PRODUCTION) Misalnya, kamu stres oleh beban kerja yang berlebih. Dirimu tetap punya jatah cuti dan bisa memanfaatkannya untuk langsung terbang ke mana saja. Persoalan yang bikin stres gak seberapa besar pun, kamu dapat berlibur sampai ke luar negeri sekalipun.
Bila dirimu gak pergi sejauh itu, rumahmu juga supernyaman untuk beristirahat. Ada televisi berlayar sangat besar untuk menikmati hiburan, pendingin udara yang gak pernah mati, kolam renang, perlengkapan olahraga ala gym, kursi pijat canggih, dan sebagainya. Semua itu sangat membantumu melalui stres.
2. Memiliki jaringan luas dan berpengaruh, bantuan cepat datang

ilustrasi stres (pexels.com/Pavel Danilyuk) Salah satu bentuk privilese adalah relasimu gak main-main. Sebagiannya dibangun sendiri olehmu. Sebagian lagi mungkin karena kamu punya orangtua yang berpengaruh. Kekuatan relasi begini akan menjadi jaring pengaman ketika terjadi berbagai hal buruk dalam hidupmu atau kamu mengambil keputusan berani.
Contoh, dirimu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan saat ini dengan aneka alasan. Kalau orang biasa yang melakukannya bisa-bisa setelahnya menganggur lama sekali. Mereka sukar mendapatkan pekerjaan baru walau sudah rajin melamar berbagai lowongan.
Sementara kamu tinggal menelepon kenalanmu atau kenalan orangtua. Mereka punya posisi penting di berbagai perusahaan bahkan pendirinya. Dirimu ibarat tinggal memilih mau bekerja di mana. Orang dengan kompetensi yang sama bahkan melebihi kompetensimu belum tentu memperoleh kesempatan sebaik dan segampang itu.
3. Privilese tingkat pendidikan mengubah cara pandang

ilustrasi stres (pexels.com/Arina Krasnikova) Bentuk privilese bermacam-macam. Hak istimewa dalam hidup tidak melulu tentang harta yang banyak dan orangtua pejabat. Pendidikan tinggi pun bisa menjadi privilese apabila orang-orang di sekitarnya masih sulit mengaksesnya.
Apalagi pendidikan tinggi yang ditempuh di luar negeri. Baik itu menggunakan biaya pribadi atau beasiswa masih sangat sedikit orang di Indonesia yang memiliki kesempatan tersebut. Faktor pendidikan otomatis memengaruhi cara berpikir seseorang.
Makin tinggi tingkat pendidikannya biasanya kemampuan berpikirnya kian luas dan mendalam. Sumber stres yang sama akan dimaknai dan ditanggapi secara berbeda oleh orang berlatar pendidikan sangat baik vs kurang. Ini sebabnya masyarakat sangat mengharapkan pendidikan murah bahkan gratis sampai jenjang kuliah.
4. Stres, tapi tidak dalam kondisi terdesak antara hidup dan mati

ilustrasi stres (pexels.com/Walter Medina Foto) Contoh, kamu punya privilese dalam hal kekayaan. Ketika pendapatan usahamu mengalami penurunan bahkan salah satunya tutup gak sampai membuatmu tidak bisa makan. Mungkin memang dirimu terpaksa melakukan PHK.
Ada juga tunggakan utang usaha yang wajib dibayar. Namun, kamu masih memiliki aset untuk dicairkan dan menutup utang tersebut jika mau. Soal kebutuhan dasar seperti makan dan tempat tinggal juga tidak terganggu. Dirimu sudah punya rumah sendiri yang besar.
Andai pun rumah itu mesti dijual, kamu hanya perlu membeli rumah yang lebih kecil. Sementara itu, orang tanpa privilese yang perputaran uang dalam usahanya sangat kecil langsung gak bisa makan dan membayar kontrakan. Bahaya kelaparan serta menjadi tunawisma di depan mata. Wajar jika mereka benar-benar panik dan menjadi sangat emosional.
5. Dalam kondisi hidup gak baik-baik saja masih dihormati banyak orang

ilustrasi stres (pexels.com/Andrea Piacquadio) Contohnya, pejabat yang tersandung kasus korupsi. Hujatan barangkali hanya ramai di media sosial. Sementara itu, di lingkungan tempat tinggal dan circle pertemanan mereka tetap dihormati.
Nanti begitu mereka menyelesaikan masa tahanan, hidup kembali sempurna seperti dahulu. Mereka masih aktif dalam organisasinya dan gak ada orang yang berani menghujatnya secara langsung. Itu sebabnya banyak pejabat tampak santai saja ketika menghadapi masalah hukum.
Beda dengan nasib masyarakat kecil yang melakukan pencurian semata-mata demi menyambung hidup. Walau benda yang dicuri bernilai tidak seberapa, sanksi sosial yang diterima dapat sangat keras. Sanksi hukum juga tak jarang masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah.
Jika kamu hidup dengan sejumlah privilese sejak kecil pun sebenarnya bukan masalah. Itu keberuntungan yang tidak perlu ditolak atau disangkal. Namun, pahami perbedaan situasi hidupmu dengan orang lain supaya lebih bijak dalam menyikapi berbagai hal.



















