Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tips Mengatur Bujet buat Mengisi Rumah, Tak Perlu Komplet
ilustrasi rumah baru (pexels.com/Vitaly Gariev)
  • Artikel menekankan pentingnya mengisi rumah secara bertahap dengan fokus pada fungsi perabot, bukan sekadar estetika agar keuangan tetap aman.
  • Dianjurkan menabung untuk membeli perabot mahal dan menghindari pembelian impulsif terhadap barang murah yang tidak terlalu dibutuhkan.
  • Prioritaskan kebutuhan harian sebelum belanja perabot serta pertimbangkan keuntungan dan biaya antara belanja online atau offline.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Rumah telah berhasil terbeli dengan susah payah. Akan tetapi, kamu sepertinya masih kurang bahagia. Pikiran malah seolah-olah tambah penuh. Bukan soal atap rumah belum apa-apa sudah bocor atau kerusakan lainnya.

Dirimu sangat kepikiran soal mengisi rumah dengan beragam perabot. Kebutuhan serta keinginan banyak, tapi dana terbatas. Tambah kamu memikirkannya tambah sumpek. Pikirmu, butuh uang sebanyak apa lagi untuk membuat rumah benar-benar nyaman dihuni?

Kata kunci pertama buat para pemilik rumah baru adalah bertahap. Jangan bikin tertekan diri sendiri dengan seakan-akan rumahmu kudu berperabot komplet dalam waktu singkat. Sadari betul arus kasmu setiap bulan sebelum memutuskan belanja ini itu. Di bawah ini cara mengatur bujet buat mengisi rumah biar saldo tabungan gak habis cuma buat kebutuhan yang gak terlalu diperlukan.

1. Fokus di fungsi baru estetika

ilustrasi menata rumah (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Baru memiliki rumah memang sering memunculkan sensasi gatal untuk segera memenuhi rumah dengan segala yang cantik. Agar rumah terlihat lebih menarik, tak hanya buat diri sendiri, tapi juga ketika ada tamu. Apalagi dengan tren media sosial yang mendorong orang untuk mengunggah apa saja.

Apabila bagian dalam rumah tidak estetik, rasanya menjadi kurang memuaskan. Namun, jangan terjebak dalam persoalan estetika kalau kamu gak mau keluar uang terlalu banyak. Seandainya antara fungsi dan estetika masih bisa diperoleh dari satu produk dengan harga terjangkau, tentu baik sekali.

Akan tetapi, jika dirimu cuma bisa memilih salah satu karena produk yang estetik lebih mahal, jangan sedih. Fokus pada fungsinya terlebih dahulu. Dengan kamu membelinya, secara umum kamu sudah memperoleh manfaat besar dari perabot tersebut. Perkara estetika cuma soal visual.

2. Perabot mahal bisa ditarget dalam beberapa bulan atau tahun

ilustrasi mencatat perabot yang dibutuhkan (pexels.com/Katya Wolf)

Standar mahal tiap orang tentu berbeda. Namun, anggap saja perabot disebut mahal apabila harganya mencapai jutaan rupiah. Kulkas satu pintu seharga 1,8 juta rupiah pun menjadi mahal kalau gajimu 2,5 juta rupiah.

Beli kulkas sekarang juga bisa membuat kebutuhan yang lebih pokok gak terpenuhi jika tabungannya nyaris tak ada. Menabunglah untuk mencapai keinginan tersebut. Tentukan waktu menabung yang kira-kira tak bakal terlalu membebanimu.

Masih dengan contoh pendapatan 2,5 juta rupiah. Jika tabungan hampir ludes padahal masih membayar cicilan rumah subsidi 1 jutaan, bersabarlah buat membawa pulang lemari es. Di luar biaya makan dan sebagainya, kamu bisa menabung 50 ribu rupiah per bulan khusus untuk kulkas pun sudah bagus sekali. Kulkas tidak terbeli dalam beberapa bulan, masih ada tahun depan.

3. Namun, perabot yang terjangkau jangan bikin kalap

ilustrasi mengisi rumah (pexels.com/Blue Bird)

Saat kamu menginginkan perabot mahal tapi dana terbatas, maka kamu harus bersabar. Namun, perabot dengan harga terjangkau pun jangan asal dibeli. Justru perlengkapan rumah murah seperti ini yang sering bikin kalap.

Kamu gak sadar terus membeli ini itu tanpa merasa sedang memboroskan uang. Padahal, kalau semua harga ditotal, susah besar sekali. Pun secara fungsi akhirnya banyak kesamaan. Alias, beli satu saja sebenarnya sudah cukup.

Memang sebaiknya dirimu membuat daftar isian rumah dengan cermat. Gak boleh ada yang dobel meski harganya relatif murah. Seperti karpet untuk ruang tengah sampai 3 buah. Padahal, 2 karpet pun sudah bisa buat gantian ketika salah satunya kotor parah dan mesti dicuci basah.

4. Harus ingat tetap ada kebutuhan-kebutuhan lain

ilustrasi mencatat perabot yang dibutuhkan (pexels.com/Thirdman)

Saking kamu memikirkan perlengkapan rumah dan ingin segalanya lekas beres, kebutuhan lain sehari-hari dapat terlupakan. Dirimu masih berbelanja kebutuhan harian, tapi tak lagi mencatatnya. Pokoknya, asal beli saja sambil kamu terus belanja perabot.

Kemungkinan besar keuanganmu akan jebol kalau begini caranya. Kebutuhan harian tidak bisa ditangguhkan karena terkait kelangsungan hidup. Maka ini yang mesti diprioritaskan dulu sampai aman.

Isian rumah penting, tapi bukan soal hidup dan mati, sehingga seharusnya dirimu dapat lebih santai. Ketika terdapat kelebihan-kelebihan uang baru dikumpulkan untuk membeli tambahan perabot. Bila perabot telanjur terbeli kemudian kamu butuh duit mendadak, sukar untuk mencairkannya kembali.

5. Mempertimbangkan beli online atau offline

ilustrasi sofa baru (pexels.com/Gustavo Fring)

Keputusan ini berpengaruh cukup besar terhadap keuanganmu secara keseluruhan. Jika kamu membeli perabot langsung di tokonya, keuntungannya bisa melihat sendiri model dan materialnya. Hampir tidak mungkin toko mengirimkan produk yang berbeda dari pesananmu.

Kualitasnya sesuai dengan pilihanmu. Biaya pengirimannya juga biasanya nol rupiah kalau masih sekota. Sementara itu, belanja melalui marketplace sering kali memberimu lebih banyak pilihan. Dari model yang lebih kekinian dan harga jauh lebih miring ketimbang toko offline.

Namun, dirimu perlu melihat dengan saksama biaya pengirimannya. Syukur-syukur jika ada promo gratis ongkir. Akan tetapi, ini barangkali tak selalu ada peningkatan ukuran perabot besar dan cukup berat sekalipun nanti masih perlu dirakit.

Mengisi rumah memang butuh dana yang cukup besar. Namun, hindari terjebak pandangan bahwa isian rumah kudu spektakuler. Selain mengatur bujet buat mengisi rumah, kamu harus menyesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuanmu. Rasa nyaman dalam sebuah hunian gak cuma soal perabotnya. Lebih ke caramu menghidupkan suasana di dalam dan di luar rumah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team