5 Buku Filsafat yang Dibaca Omara Esteghlal, Bikin Kritis!

- Omara Esteghlal dikenal sebagai aktor yang gemar membaca buku filsafat dan sering membagikan pandangan kritisnya di media sosial.
- Lima buku favoritnya, dari Nietzsche hingga Freire, menyoroti tema moralitas, kebebasan berpikir, serta refleksi terhadap nilai dan realitas hidup.
- Keseluruhan bacaan tersebut mengajarkan pentingnya mempertanyakan kebenaran tunggal dan berani membentuk pemikiran sendiri secara mendalam.
Omara Esteghlal salah satu aktor yang bisa dibilang suka baca buku alias bookworm, apalagi buku-buku filsafat. Gak heran, kalau pameran Gema dalam film Tinggal Meninggal ini suka membagikan insight tentang buku-buku yang ia baca di media sosial.
Kalau kamu lagi cari bacaan yang bikin pola pikirmu jadi lebih kritis serta cari bacaan filsafat, mungkin buku favorit Omara Esteghlal ini bisa jadi pilihan yang tepat. Yuk, intip ada apa aja!
1. Geanology of Morals - Friedrich Nietzche

Genealogy of Morals karya Friedrich Nietszhe ini sebuah buku filsafat yang membahas tentang asal usul moral serta mengajak kita untuk mempertanyakan sebenarnya moral yang baik serta buruk tuh dari mana. Nah, Nietszhe dalam buku ini sebenarnya mempertanyakan terkait kebenaran nilai-nilai moral yang terbentuk dan dia juga berpendapat bahwa moralitas bukanlah suatu kebenaran yang abadi melainkan sebuah produk yang dihasilkan dari sejarah dan dinamika kekuasaan. Jadi, moral baik menurutnya bisa jadi lahir dari hasil kepentingan bukan kebenaran.
Buku ini mengubah hidup Omara Esteghlal terkait moral terutama di Indonesia sendiri yang mengutamakan etika sopan santun, kebiasaan mencium tangan orang yang lebih tua, dan lain sebagainya yang membuatnya lebih berpikir kritis serta mempertanyakan sebenarnya moral tersebut dari mana asalnya.
Jadi, buku Genealogy of Morals dapat membuat pembaca sadar bahwa moral ternyata bisa digunakan sebagai alat kontrol sosial juga tidak semua nilai diwariskan dengan niat baik. Kalau kamu sedang mencari buku yang membuatmu berpikir ulang soal kehidupan termasuk moral, buku ini wajib masuk daftar bacaanmu!
2. Pedagogy of the Opressed - Paulo Freire

Sebagian besar dari kita sejak kecil sering kali dipuji karena nilai bagus bukan berdasarkan proses pemahaman. Sehingga, sistem pendidikan cenderung fokus pada nilai juga ranking bukan pada cara berpikir, bertanya atau mempertanyakan tentang sesuatu. Nah, Paulo Freire dalam buku Pedagogy of the Opressed (Pendidikan Kaum Tertindas) membahas tentang Paulo Freire yang mengkritisi serta menolak pendidikan gaya bank, di mana murid dianggap sebagai celengan yang terus menerus diisi oleh guru.
Seperti guru yang hanya memberi materi dan murid mendengarkan juga menerima tanpa mempertanyakan lebih. Paulo Freire menawarkan sistem pendidikan yang memberikan ruang untuk menentang serta berpikir kritis bersama, yang membebaskan bukan membungkam serta tak sekadar patuh. Buku ini gak hanya cocok dibaca oleh guru, tapi bisa dibaca oleh siapa pun yang pernah merasa suaranya tak pernah didengar dan membaca buku ini menyadarkan tentang ketidakadilan itu tetap bertahan sebab kita sering diajarkan untuk diam.
3. Tractatus Logico Philosophicus - Ludwig Wittgenstein

Buku Tractatus Logico Philosophicus karya Ludwig Wittgenstein ini merupakan karya fenomenal yang membahas tentang hubungan antara bahasa, logika, serta realitas dengan gaya super padat dan teknis. Buku ini berisi teori gambaran (picture theory), di mana Wittgenstein berpendapat bahwa sebuah kalimat berfungsi sebagai gambaran dari realitas, jika kalimat mewakili realitas agaknya memiliki struktur logis yang sama dengan apa yang digambarkan.
Buku Tractatus Logico Philosophicus mengubah hidup Omara Esteghlal karena dapat membuatnya mempunyai gambaran soal hal dasar maupun agama, di mana setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda. Misalnya saja, sebuah kursi di dua tempat yang berbeda tapi kita bisa menyimpulkan itu sebuah kursi. Kalau di tempat A kursi itu merupakan sebuah kayu yang telah dipotong-potong lalu disambungkan menggunakan paku. Nah, bisa jadi di tempat B yang mungkin kursi itu terbuat dari besi.
4. The Fall - Albert Camus

The Fall buku karya Albert Camus yang menceritakan sosok laki-laki yang berprofesi sebagai pengacara sukses bernama Jean Baptiste Clamence, di mana dia tampak bermoral serta terhomat. Nah, suatu ketika ada momen yang membuat karakter utamanya berkontemplasi.
Jadi, ceritanya ada seorang perempuan yang teriak serta membutuhkan pertolongan di bawah jembatan, lalu si Jean Baptiste Clamence tidak menolong perempuan itu. Dia berpikir kalau membantu apakah itu akan dinilai pencitraan atau kalau semisal membantu orang tersebut akan merasa tanggung jawabnya untuk membantu orang.
Apalagi, disertai adanya tekanan sosial bahwa sebagai manusia agaknya harus menolong. Sehingga, dari situlah ia akan merasa bersalah atau gak enak tidak membantu sebab tidak melakukan kewajiban sosial.
Intinya, Camus menguliti sisi gelap manusia seperti keinginan terlihat baik serta rasa bersalah yang ditutupi dengan citra moral. Buku ini mengajak pembaca refleksi serta bertanya, "apakah kita benar-benar peduli pada keadilan, atau hanya ingin merasa lebih baik dari orang lain?".
5. Thus Spoke Zarathustra - Friedrich Nietzsche

Dalam buku Thus Spoke Zarathustra ini, Nietzsche memperkenalkan konsep Übermensch (manusia unggul), di mana manusia berani menciptakan nilai hidupnya sendiri bukan sekadar mengikuti tradisi atau dogma. Nah, lewat tokoh Zarathustra, Nietzsche menantang pembaca untuk berani melawan arus serta tidak hidup dari nilai warisan semata. Intinya buku ini soal tanggung jawab atas hidup kita sendiri.
Kelima buku-buku favorit Omara Esteghlal ini punya benang merah yang sama yakni mengajak pembacanya untuk tidak tunduk pada kebenaran tunggal serta tidak langsung percaya pada yang dianggap benar. Membaca buku-buku tersebut mengingatkan kita bahwa memahami dunia butuh jeda, kesiapan untuk ragu, mempertanyakan diri sendiri, dan berpikir lebih mendalam sebelum menyimpulkan.
Itu dia referensi buku filsafat yang dibaca Omara Esteghlal. Kalau disuruh pilih salah satu dari daftar bacaan Omara di atas, kamu mau pilih yang mana?