ilustrasi hoaks (pixabay.com/memyselfaneye)
Teknologi AI akan terus berkembang dan menghasilkan konten yang semakin sulit dibedakan dari karya manusia. Oleh karena itu, kemampuan yang paling penting bukan sekadar mengetahui cara menggunakan AI, tetapi juga memiliki literasi digital yang baik. Literasi digital mencakup kemampuan mencari informasi dari sumber terpercaya, mengevaluasi isi sebuah berita, memahami konteks, serta mengenali potensi manipulasi yang dilakukan melalui teknologi.
"Literasi AI adalah pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan manusia untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan sistem serta perangkat AI secara kritis guna berpartisipasi secara aman dan etis dalam dunia yang semakin digital," demikian dikutip dari DigitalPromise.
Selain itu, masyarakat juga perlu memahami bahwa algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang menarik perhatian pengguna, bukan selalu yang paling akurat. Berita yang memancing emosi seperti marah, takut, atau terkejut biasanya lebih mudah viral dibandingkan informasi yang telah diverifikasi. Karena itu, penting untuk membangun kebiasaan berpikir kritis, tidak mudah terpancing emosi, dan selalu memeriksa fakta sebelum mengambil kesimpulan maupun membagikan informasi kepada orang lain.
Di era AI, membedakan berita asli dan hoaks memang menjadi semakin menantang karena teknologi mampu menghasilkan teks, gambar, suara, hingga video yang tampak sangat meyakinkan. Namun, tantangan tersebut dapat dihadapi dengan meningkatkan literasi digital dan membiasakan diri berpikir kritis.