Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Dampak Utama Karhutla bagi Pendidikan, Mengancam Masa Depan!
Ilustrasi seorang anak yang mengenakan masker duduk di kursi kayu di ruang kelas. (pexels.com/Bilal Moazzam)
  • Kabut asap karhutla memaksa sekolah meliburkan atau mengalihkan pembelajaran, mengurangi jam belajar efektif, menunda materi, dan mengganggu pencapaian kurikulum siswa.
  • PJJ di wilayah terdampak memperlebar kesenjangan pendidikan karena akses internet, listrik, perangkat, dan biaya tidak merata; tekanan ekonomi keluarga juga meningkatkan risiko putus sekolah.
  • Asap karhutla memicu ISPA, iritasi mata, sesak napas, kecemasan, dan stres pada anak; pemerintah memberi fleksibilitas dana operasional serta dukungan ruang aman dan bantuan kesehatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia dan membawa dampak buruk bagi masyarakat. Bencana tahunan ini tidak hanya merusak ekosistem hutan dan mencemari udara, tetapi juga mengganggu jalannya kegiatan belajar di sekolah. Banyak siswa dan guru yang terpaksa meliburkan aktivitas tatap muka karena kabut asap tebal yang sangat berbahaya.

Proses pembelajaran yang terhenti tentu saja berpotensi menurunkan kualitas pendidikan anak-anak di daerah terdampak. Lantas, apa saja dampak serius yang sebenarnya ditimbulkan oleh karhutla terhadap sektor pendidikan kita? Mari simak pembahasannya dalam artikel berikut ini!

1. Terganggunya aktivitas belajar mengajar

Ilustrasi sekelompok anak-anak berjalan di dalam lorong sekolah sambil membawa ransel. (pexels.com/Norma Mortenson)

Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan sering kali memaksa pemerintah meliburkan sekolah demi keselamatan para siswa. Namun, keputusan meliburkan atau mengalihkan pembelajaran ke rumah ini sangat bergantung pada tingkat keparahan kualitas udara di masing-masing daerah. Oleh karena itu, aturan dan lamanya sekolah diliburkan di setiap wilayah bisa berbeda-beda sesuai kondisi setempat.

Libur sekolah yang berlangsung hingga bertumpuk-tumpuk minggu ini jelas membuat jam belajar efektif siswa berkurang drastis. Akibatnya, materi pelajaran yang seharusnya selesai dalam satu semester jadi tertunda dan sulit dikejar. Pada akhirnya, kondisi ini mengganggu ketercapaian target kurikulum serta pemahaman belajar para siswa.

2. Timbul kesenjangan akses belajar

Ilustrasi dua anak laki-laki bermasker menggunakan tablet untuk belajar. (pexels.com/Antoni Shkraba)

Ketika sekolah dialihkan ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat karhutla, tidak semua siswa bisa mengikutinya dengan lancar. Banyak anak di daerah terpencil yang kesulitan mendapatkan akses internet, listrik, hingga perangkat yang memadai. Hal ini membuat proses belajar dari rumah tidak dapat berjalan dengan efektif bagi seluruh siswa.

Keterbatasan fasilitas tersebut menciptakan kesenjangan digital yang memperlebar jurang pemahaman materi antara siswa di kota dan di daerah terdampak. Selain itu, anak-anak dari keluarga kurang mampu menjadi pihak yang paling dirugikan karena keterbatasan biaya untuk mendukung belajar daring. Akibatnya, gangguan pembelajaran yang terus berlanjut ini berpotensi memperbesar ketimpangan pendidikan di antara mereka.

3. Risiko putus sekolah

Ilustrasi seorang anak laki-laki berjaket hoodie membungkuk di atas buku-buku. (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Bencana kebakaran hutan dan lahan sering kali merusak perekonomian keluarga yang terdampak secara langsung. Saat orangtua kehilangan sumber pendapatan, mereka terpaksa memprioritaskan anggaran yang ada hanya untuk kebutuhan pokok harian. Kondisi sulit ini membuat biaya pendidikan anak menjadi hal yang sangat berat untuk dipenuhi.

Akibatnya, risiko anak-anak mengalami putus sekolah menjadi semakin tinggi di daerah tersebut. Keterbatasan ekonomi akibat bencana ini secara tidak langsung mengancam masa depan belajar anak-anak. Padahal, pendidikan adalah kunci utama untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dan memutus rantai kemiskinan keluarga.

4. Kerugian ekonomis dan fasilitas sekolah

Ilustrasi anak-anak menjelajahi ruang kelas yang terbengkalai. (pexels.com/Raiza Azkaril)

Bencana kebakaran hutan dan lahan skala besar berisiko merusak gedung serta fasilitas pendukung sekolah secara fisik. Selain itu, pihak sekolah sering kali harus mengalihkan anggaran operasional mereka demi penanganan darurat di lapangan. Dana yang ada terpaksa dipakai untuk membeli masker, pembersih udara, hingga memperbaiki sarana sekolah yang rusak.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Kemendikdasmen memberikan fleksibilitas penggunaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan BOP (Biaya Operasional Pendidikan) bagi sekolah terdampak. Pemerintah juga mendirikan posko darurat, membagikan bantuan kesehatan, serta menyediakan ruang kelas aman asap dan modul pembelajaran. Langkah-langkah ini dilakukan agar proses belajar mengajar serta kondisi psikologis siswa tetap terlindungi selama masa bencana.

5. Gangguan kesehatan dan mental

Ilustrasi seorang anak kecil bermasker sedang menulis di buku catatan. (pexels.com/Antoni Shkraba)

Paparan asap tebal dari karhutla memicu gangguan kesehatan serius seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan sesak napas. Kondisi tubuh yang memburuk ini membuat angka ketidakhadiran siswa di sekolah menjadi sangat tinggi. Masalah kesehatan fisik tersebut menjadi alasan utama terganggunya kehadiran mereka dalam proses belajar.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa karhutla merupakan darurat kesehatan nyata bagi anak-anak. Menurutnya, asap mengandung partikel halus PM2.5 yang sangat berbahaya karena bisa menembus saluran napas bagian bawah hingga masuk ke aliran darah. Hal ini berakibat buruk pada fokus, daya ingat, serta stamina fisik anak-anak saat harus tetap belajar.

Selain berdampak pada fisik, situasi darurat bencana ini juga sangat memengaruhi kondisi mental anak-anak. Ketakutan akan ancaman api serta rasa terisolasi di dalam rumah dapat memicu kecemasan dan stres yang cukup dalam. Akibatnya, trauma psikologis turut mengintai kesehatan mental siswa selama dan setelah bencana terjadi.

Bencana karhutla terbukti membawa dampak besar bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu, kerja sama yang kuat antara pemerintah, pihak sekolah, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar proses belajar anak-anak tetap terlindungi di tengah situasi darurat. Semoga langkah penanganan yang tepat dapat terus dilakukan demi menjaga masa depan pendidikan anak-anak Indonesia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article