Ilustrasi seorang anak kecil bermasker sedang menulis di buku catatan. (pexels.com/Antoni Shkraba)
Paparan asap tebal dari karhutla memicu gangguan kesehatan serius seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan sesak napas. Kondisi tubuh yang memburuk ini membuat angka ketidakhadiran siswa di sekolah menjadi sangat tinggi. Masalah kesehatan fisik tersebut menjadi alasan utama terganggunya kehadiran mereka dalam proses belajar.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa karhutla merupakan darurat kesehatan nyata bagi anak-anak. Menurutnya, asap mengandung partikel halus PM2.5 yang sangat berbahaya karena bisa menembus saluran napas bagian bawah hingga masuk ke aliran darah. Hal ini berakibat buruk pada fokus, daya ingat, serta stamina fisik anak-anak saat harus tetap belajar.
Selain berdampak pada fisik, situasi darurat bencana ini juga sangat memengaruhi kondisi mental anak-anak. Ketakutan akan ancaman api serta rasa terisolasi di dalam rumah dapat memicu kecemasan dan stres yang cukup dalam. Akibatnya, trauma psikologis turut mengintai kesehatan mental siswa selama dan setelah bencana terjadi.
Bencana karhutla terbukti membawa dampak besar bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu, kerja sama yang kuat antara pemerintah, pihak sekolah, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar proses belajar anak-anak tetap terlindungi di tengah situasi darurat. Semoga langkah penanganan yang tepat dapat terus dilakukan demi menjaga masa depan pendidikan anak-anak Indonesia.